Connect with us

Akkattere Ritual Religi Masyarakat Adat Kajang Ammatoa

Lipsus

Akkattere Ritual Religi Masyarakat Adat Kajang Ammatoa

299 Total Pengunjung.

Kajang, Berakhirpekan.com – Kata akkattere adalah istilah bahasa Konjo yang berarti memotong rambut. Menurut Ammatoa, bahwa pakkatterang/akkattere merupakan upacara adat yang melibatkan seluruh pemangku adat (Ammatoa, Karaeng Tallua, dan Ada’ Limaya) serta warga komunitas adat. Pakkatterang/ akkatere adalah upacara pemotongan rambut yang dilaksanakan oleh komunitas adat yang memiliki kemampuan ekonomi (tau rie’). Sama halnya dengan pelaksanaan haji hanya dilaksanakan bagi orang yang mampu. Akkattere sama halnya dengan orang naik haji atau assalama haji, karena biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan akkattere hampir sama bahkan dapat melebihi daripada biaya naik haji. Juga karena niatnya ibadah, maka pahalanya pun sama dengan orang yang naik haji.

Akkattere Ritual Religi Masyarakat Adat Kajang Ammatoa

Historis dan Tradisi Akkattere

Oleh karena itu, orang yang sudah dikattere dianggap sama dengan haji. Jika dihubungkan dengan proses islamisasi di Kajang pada abad ke 17 M, sejak ajaran agama Islam diterima secara resmi di dua kerajaan, yaitu Kerajaan Gowa dan Bone. Pada waktu itu secara bertahap Ammatoa mengutus tiga orang (Janggo Toa dikirim, Janggo Tojarra, dan Towasara Dg. Mallipa) untuk mempelajari agama Islam. Namun ajaran-ajaran Islam yang dibawa oleh Janggo Tojarra dan Towasara Dg. Mallipa ditolak oleh Ammatoa, dengan alasan untuk tetap menjaga kelestarian nilai-nilai luhur budaya, karena banyak ajaran dalam agama Islam yang bertentangan dengan adat-istiadat mereka. Hanya ajaran Janggo Toa yang diterima oleh Ammatoa, walaupun belum sempurna, karena pada saat itu belum memperoleh tata cara shalat, zakat, naik haji, dan puasa. Perkembangan selanjutnya, setelah adanya interaksi yang berlangsung secara terus menurus antara komunitas adat yang bermukim di luar kawasan adat (Ipantarang Embayya) dengan komunitas yang bermukim di dalam kawasan adat (Ilalang Embanyya), sehingga komunitas di dalam kawasan adat (Ilalang Embayya) mulai menerima tata cara berzakat dan naik haji, tapi pelaksanaannya tetap menggabungkan antara ajaran agama Islam dan kepercayaan Patuntung. Menurut Ammatoa, pelaksanaan berwudhu, shalat dan puasa hanyalah gerakan semata. Orang yang selalu menjaga hati dan tidak melakukan perbuatan yang tercela itulah agama. Berdasarkan pemahaman tersebut sehingga ritual-ritual yang dilakukan oleh Komunitas Adat Kajang selalu menggabungkan antara ajaran agama Islam dengan kepercayaan leluhur mereka. Hal itulah yang menunjukkan adanya sinkretisme, percampuran antara ajaran Islam dengan unsur- unsur tradisi lokal.

Komunitas Adat Kajang menggangap pelaksanaan akkattere sebagai assalama haji (syukuran ke Tanah Suci). Hal tersebut berdasarkan pemahaman mereka tentang ajaran agama Islam. secara formal Komunitas Adat Kajang, terutama yang bermukim dalam kawasan adat (Ilalang Emabyya) mengaku beragama Islam. Namun pelaksanaan syariat agama Islam tidak dipatuhi, mereka lebih cenderung memahami Islam dari segi hakikat, sehingga emosi Islamnya cukup tinggi, karena mereka akan marah bila dikatakan bukan Islam. tradisi ritual akkattere (potong rambut) pada Komunitas Adat Kajang merupakan upacara daur hidup yang identik dengan upacara akikah (potong rambut) yang dilaksanakan karena kelahiran bayi dalam ajaran agama Islam.

Maksud dan Tujuan Upacara

Upacara akkattere yang dilakukan oleh Komunitas Adat Kajang merupakan wujud dari penyembahan mereka terhadap Tu rie A’ra’na. Pelaksanaan upacara akkattere dengan harapan untuk mendapatkan kesejahteraan di dunia dan pahala di akhirat (allo ri boko). Sebagaimana kepercayaan mereka terhadap allo ri boko (hari kemudian), bahwa imbalan perbuatan manusia akan diperoleh pada allo ri boko. Oleh karena itu semakin besar pengorbanan (tenaga dan materi) yang dikeluarkan dalam pelaksanaan akkattere, maka semakin besar pula pahala yang akan didapat dari Tu rie A’ra’na. Begitu pula anak yang dikattere akan mendapat lindungan dari Tu rie A’ra’na. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Puto Jaga (55 tahun) bahwa: Pakkatterang dilaksanakan bagi orang yang mampu karena pelaksanaannya membutuhkan modal yang banyak, baik berupa uang, bahan makanan, dan maupun tenaga. Pengorbanan yang banyak dianggap sebagai sedekah dengan harapan akan mendapatkan pahala di akhirat kelak dari Tu rie A’ra’na. Rambut yang dipotong berjumlah ganjil yaitu 5 atau 7 helai dengan harapan semoga rezeki di dunia selalu melimpah dan di akhirat (allo ri boko) mendapat pahala sesuai pengorbanan yang dikeluarkan. Pelaksanaan upacara akkattere dimaksudkan sebagai sarana untuk mengeluarkan sedekah dari harta mereka selama hidup di dunia dan mengharapkan balasan pahala (amal) dari Tu rie A’ra’na di akhirat kelak. Sebagaimana yang tertuang dalam pasang: punna anre kusidupa ri lino, manna ri allo ri boko pi salo (artinya, segala yang tidak diketemukan di dunia akan diperoleh di hari kemudian (allo ri boko)). Dengan demikian kehidupan jasmaniah dan rokhanialah yang kamase-masea dan manuntungi adalah suatu kehidupan yang cukup (ga’nami). Pelaksanaan upacara akkattere merupakan tanda bersyukur mereka atas segala karunia berupa rezeki yang diperoleh selama hidup di dunia dan memohon keselamatan agar keadaan yang demikian diturunkan kepada anak-anak cucu mereka. Pelaksanaan upacara akkattere selain sebagai suatu kebanggaan atau prestise di kalangan komunitas adat Kajang, juga dianggap sebagai sarana balas jasa antara anak terhadap orang tua.

Waktu dan Tempat Upacara

Setiap upacara yang dilakukan oleh kelompok etnik mempunyai waktu-waktu tertentu dalam pelaksanaannya. Menurut Daeng (2008:198) bahwa banyak kelompok etnik dikenal adanya waktu atau jangka waktu tertentu yang dilihat dan dianggap sebagai suci atau sakral. Dikatakan waktu sakral atau tempus sacrum kerena orang yakin bahwa dahulu pada waktu semacam itu telah terjadi peristiwa atau yang membawa keberuntungan atau kebahagiaan yang dinikmati oleh seluruh anggota kelompok etnik atau paling tidak keluarga luas. Peristiwa tersebut dapat berhubungan dengan magis religius, dapat pula berhubungan dengan diperkenalkannya sejumlah unsur kebudayaan atau adat istiadat kepada anggota sub kelompok etnik atau keluarga luas.

Pada Komunitas Adat Kajang setiap akan mengadakan hajatan terlebih dahulu meminta petunjuk kepada pusanro/uragi tentang waktu atau hari yang dianggap baik (allo haji) untuk memulai hajatan tersebut. Pada pelaksanaan akkattere bukan hanya waktu pada saat prosesi akkatere atau malam “H” yang menjadi perhatian akan tetapi seluruh persiapan, seperti pengambilan kayu bakar (anggalle kayu tunu), menurunkan padi dari lumbung (para) dan menjemur padi, serta penambahan ruangan rumah (barung- barung/tapping). Hal itu dilakukan agar dalam pelaksnaan upacara akkattere dapat berjalan lancar tanpa adanya gangguan yang tidak terduga, juga untuk menghindari adanya keluarga lainnya mengadakan upacara akkattere dalam waktu yang sama. Hal itu dihindari karena upacara akkattere merupakan upacara adat yang harus dihadiri oleh seluruh pemangku adat. Berdasarkan pengalaman mereka, waktu yang dianggap baik adalah antara bulan timbul dan purnama. Sedangkan waktu yang dianggap kurang bagus adalah selama bulan kelam. Menurut kepercayaan warga Komunitas Adat Kajang, bahwa segala apa yang dilakukan pada saat bulan purnama akan mendapat berkah (cahaya) dari Turie’ A’ra’na.

Setiap pelaksanaan upacara-upacara, seperti akkattere ataupun pesta perkawinan yang diadakan oleh Komunitas Adat Kajang, terutama yang bermukim pada kawasan adat dalam (Ilalang Embayya) prosesinya diadakan pada malam hari. Tradisi pelaksanaan upacara pada malam hari dilakukan karena waktu malam hari suasananya tenang dan pelaksana upacara terutama pusanro dapat berkonsentrasi dengan doanya. Dan yang menjadi alasan utama menurut mereka bahwa, pada malam hari seluruh Komunitas Adat Kajang sudah berada di rumahnya setelah bekerja pada siang harinya. Tempat pelaksanaan upacara akkattere disesuaikan dengan proses tahapannya. Pertama, ritual yang diadakan oleh uragi untuk menentukan hari yang dianggap baik untuk melaksanakan akkattere, bertempat di rumah uragi. Kedua, malam “H” atau puncak acara (mata jaga) akkattere bertempat di rumah yang berhajat. Ketiga, setelah prosesi akkattere dilaksanakan pada malam hari, keesokan harinya diadakan acara allimbuasa bertempat pada sumber mata air yang terletak di sekitar kawasan adat Kajang.

Pemimpin dan Peserta Upacara

Pada setiap kegiatan, baik sifatnya resmi maupun yang tidak resmi biasanya terdapat kepanitiaan atau penyelenggara acara. Dan setiap penyelenggaraan upacara baik itu upacara secara individu atau keluarga maupun upacara secara kelompok atau komunal terdapat pemimpin upacara. Upacara akkattere merupakan upacara yang dilakukan setiap keluarga sehingga penyelenggara teknis upacara juga dilakukan oleh keluarga itu sendiri. Dalam pelaksanaan upacara akkattere yang bertindak sebagai pemimpin upacara adalah pusanro. Pusanro atau uragi adalah orang yang mengetahui seluk beluk tentang pelaksanaan pakkatterang. Dan biasanya yang bertindak sebagai pusanro atau uragi adalah orang yang tahu tentang pasang.

Akkatere merupakan pesta adat yang terbesar pada Komunitas Adat Kajang. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya dihadirkan Ammatoa dan para pemangku adatnya. Pemangku adat tersebut terdiri atas Ammatoa sebagai pemimpin adat yang dianggap sebagai perwakilan Tu Rie’ A’ra’na di bumi, Adat Limaya, dan Karaeng Tallua. Ammatoa dan pemangkut adat inilah yang melakukan pemotongan rambut terhadap anak yang dikattere. Tanpa kehadiran salah seorang di antara mereka, upacara akkattere tidak akan dimulai dan bahkan bisa tertunda pelaksanaannya. Oleh karena itu, pada saat keluarga yang berhajat appatarangka ada’ (mengundang para pemuka adat) harus sudah tahu kesediaan pemuka adat tersebut. Peserta upacara lainnya yang diundang yaitu berasal dari kalangan keluarga, kerabat, dan tetangga.

Perlengkapan Upacara

Adapun keperluan upacara yang utama dipersiapkan seperti: padi (pare), beras ketan (pare pulu), kerbau minimal satu ekor dan ayam. Telah menjadi ketentuan adat, bahwa di dalam pelaksanaan upacara adat setiap memotong kerbau harus pula memotong ayam, kedua hewan tersebut memiliki keistimewaan tersendiri (Pabittei, 1989:17). Selain persiapan berupa bahan makanan, juga yang harus dipersiapkan adalah kayu bakar (kayu tunu) yang akan digunakan untuk keperluan memasak dan peralatan upacara seperti: badik (berang buru’ne) dan pisau (berang bahine) yang akan digunakan untuk memotong rambut anak yang akan dikattere, serta benang (ganti pute). Sedangkan perlengkapan upacara lainnya berupa: yaitu ja’jakang (berupa padi satu ikat, pisang (loka katiung), kelapa, buah pinang (rappo), sirih (leko), beras); alat penerangan seperti sulo gatta (lampu yang terbuat dari sisa- sisa getah pohon karet), sulo minnya tanah (lampu minyak tanah yang terbuat dari kaleng bekas yang diberi sumbu), kanjoli (lampu yang terbuat dari daging kemiri yang ditumbuk halus dicampur kapuk dan ditempelkan pada rautan bambu). Pada Komunitas Adat Kajang Dalam (Ilalang Emabyya) sudah menjadi ketentuan adat tidak diperbolehkan menggunakan alat penerangan selain dari bahan-bahan tersebut di atas. Oleh karena itu untuk mengadakan pesta terlebih dahulu menyiapkan beberapa buah alat penerangan, karena satu alat penerangan tradisional tersebut hanya mampu bertahan sekitar 1 jam. Sedangkan pesta yang diselenggarakan berlangsung dari sore hari sampai dini hari atau pagi hari.

Baca Juga:   15 Tempat Wisata Yang Lagi Hits di Kabupaten Sinjai

Peralatan makanan merupakan bagian penting yang harus dipersiapkan dalam rangka pelaksanaan upacara adat bagi Komunitas Adat Kajang, seperti pada upacara akkattere. Peralatan makanan tersebut merupakan wadah yang akan digunakan pada saat menjamu para pemuka adat (manggada’) dan tamu undangan lainnya. Peralatan makanan tersebut berupa alat minum (gusu) yang terbuat dari bahan tanah liat, kappara (baki), bodo (wadah sebagai tempat makanan, kue-kue yang terbuat dari bahan daun lontar), tide tongko (sejenis bosara juga berfungsi sebagai tempat makanan, kue-kue), papi’ (penutup makanan yang terbuat dari bahan daun lontar). Wadah berupa bodo, tide tongko hanya diperuntukkan Ammatoa dan pemangku adat. Sedangkan untuk tamu dari kalangan umum atau masyarakat biasa menggunakan wadah dari bosara atau piring biasa.

Upacara akkattere merupakan sarana untuk mengeluarkan sedekah. Wujud sedekah yang mereka maksudkan adalah suguhan makanan kepada para pemangku adat dan para undangan umum lainnya yang hadir pada pesta akkattere. Selain itu setiap pemangku adat yang hadir diberi bingkisan berupa satu kamboti yang berisi makanan untuk dibawa pulang. Untuk itu sebelum acara diselenggarakan, pihak keluarga yang berhajat menyiapkan sejumlah makanan berupa songkolo, kampalo (sejenis makanan tradisional yang terbuat dari bahan beras ketan putih atau hitam dicampur santan kemudian dibungkus dengan mempergunakan daun kelapa), kue-kue (uhu-uhu, dumpi-dumpi). Selain itu yang perlu dipersipakan adalah kamboti, wadah yang akan digunakan sebagai tempat makanan dan kue-kue yang akan diberikan kepada pemangku adat. Wadah tersebut terbuat dari daun kelapa yang dianyam sehingga membentuk seperti keranjang.

Persiapan Upacara
Tahap Persiapan

Setelah s i ap untuk mengadakan pakkatterang, keluarga yang berhajat menemui uragi untuk menentukan hari yang dianggap baik. Adapun bahan sesaji yang di bawah berupa patakko (sebatang kayu lurus), sirih, pinang, segenggam beras yang ditaruh pada sebuah mangkok kemudian dibungkus kain berwarna hitam. Sesaji tersebut diletakkan pada benteng tangnga (tiang tengah rumah) rumah uragi. Setelah mendapat petunjuk dari uragi, keluarga yang berhajat memulai menurunkan padi dari lumbung kemudian menjemurnya untuk selanjutnya dijadikan beras.

Tahap selanjutnya, pengambilan kayu bakar (angngalle kaju tunu). Tempat pengambilan kayu bakar di luar kawasan adat, tidak dilakukan di kawasan hutan yang dikeramatkan (borong karama), karena menebang pohon-pohon di hutan adat tanpa izin dapat dikenakan sanksi oleh adat dan pemerintah. Sebagaimana isi pasang bahwa”punna nita’bangngi kajunna nunipapirangnganga ngurangngi bosi, patanre tumbusu, nibicara pasang ri tau mariolo”(artinya: kalau ditebang kayunya diperkirakan akan mengurangi hujan, tiada air di sumur, demikian pesan dari orang dahulu).

Untuk menambah daya tampung rumah pesta, maka diadakan penambahan bangunan rumah pada bagian samping (tapping). Tapping bagian kanan berfungsi sebagai baruga (barung- barung), biasanya diperuntukkan sebagai tempat duduk para pemangku adat (paccidongan ada’) pada saat pesta berlangsung. Sedang tapping bagian kiri sebagai tempat menyiapkan makanan yang akan disuguhkan kepada para tamu dan sekaligus tempat cuci peralatan dapur (pa’bissang). Penambahan bagian rumah tersebut sifatnya hanya sementara, setelah pesta selesai, tapping tersebut dibongkar kembali. Sebelum mengedarkan undangan, keluarga yang akan mengadakan pakkatterang kembali menemui uraginya untuk penetapan waktu yang baik (allo haji) pelaksanaan pestanya. Orang yang ditugaskan untuk mengundang menurut tradisi mereka adalah orang yang telah dikattere, dan memiliki tata krama serta tutur kata yang sopan. Undangan yang akan disampaikan kepada orang- orang yang akan diundang, sifatnya lisan. Berbeda pada masyarakat Bugis-Makassar umumnya, jika akan mengadakan pesta (perkawinan, sunatan, akikah, dan sebagainya) biasanya mencetak undangan (undangan tertulis), tetapi warga Komunitas Adat Kajang, undangannya berupa undangan lisan.

Tahap awal dalam menyampaikan undangan dikenal dengan istilah bahasa Konjo abburitta atau appisseng ada. Abburitta atau appisseng ada merupakan tahap pemberitahuan atau merupakan permohonan restu kepada Ammatoa dan pemangku adat (Adat Limayya, Karaeng Tallua, dan Pusanro). Orang yang ditugaskan sebagai penyambung lidah (utusan) untuk appisseng ada dari pihak keluarga yang akan mengadakan pesta, terdiri atas satu orang laki- laki dan dua orang perempuan. Pakaian yang digunakan yaitu pakaian khas Komunitas Adat Kajang, laki-laki berpakaian hitam lengkap dengan passapu dipadu dengan sarung warna hitam, dan perempuan berpakaian baju bodo dan sarung hitam (lipa le’leng) rambut diselip. Ketiga utusan tersebut membawa sirih pinang dan rokok yang diperuntukkan bagi tuan rumah.

Menjelang puncak acara (mata jaga), pihak keluarga yang berhajat mengutus kembali dua orang laki-laki dengan berpakaian adat Kajang, baju, passapu dan sarung warna hitam, untuk appatarangka kepada Ammatoa dan pemangku adat. Appatarangka artinya mengudang Ammatoa dan para pemangku adat untuk menghadiri puncak acara (mata jaga) pesta akkatterang. Adapun kata-kata yang diucapkan seperti: maeki nasuro patarangkaki ianu (nama yang punya pesta) ri annangnanta ritujua maeki mae nai ‘ri cidoanta, nakke langngiriki cidongang ammole tette 7 sanggena mai. (artinya: saya diutus oleh …. untuk mengundang datang ke pesta di mana nampa mange ku cidongi cidoangku, punna te’na kesempatan kau kupasambe. (artinya: ya jika aku punya kesempatan, jika Tu rie A’ra’na beri saya kesehatan aku akan hadir di tempat dudukku, jika tidak sempat kamu yang gantikan aku). kemudian utusan tersebut pamit dengan mengucapkan kata:massimanna (permisi). Tuan rumah menjawab: ya assimang kalennu (ya silahkan). Pada saat appatarangka, pemuka adat yang diundang apabila ada kemungkinan tidak sempat menghadiri pesta, maka dia akan memberitahukan kepada petugas appatarangka dengan menunjuk orang yang akan mewakili. Hal itu dilakukan, karena sesuai adat, apabila ada salah seorang pemangku adat yang terlambat atau bahkan tidak hadir tanpa pemberitahuan sebelumnya acara pesta bisa tertunda pelaksanaannya.

Tiga hari sebelum malam “H” upacara akkattare, bagian konsumsi (tuba) mulai sibuk memasak kue-kue (appakatasa) yang akan disuguhkan kepada undangan. Kue-kue tersebut seperti kue uhu-uhu, kue dumpi-dumpi (cucuru), serta kampalo. Sementara itu, di ruang bagian tengah rumah pesta terdapat beberapa orang yang sedang sibuk memasang tabere. Tabere adalah pelaminan (lamming: Bugis-Makassar) sebagai tempat duduk bersanding pengantin pada pesta perkawinan, sedangkan dalam pesta akkattere sebagai tempat duduk anak yang dikattere. Petugas atau pemilik tabere disebut dengan istilah konjonya“tau nantan”. Sebelum tabere didirikan terlebih dahulu diadakan ritual khusus yang dilakukan oleh tau nantan tersebut. Tabere berbentuk kerangka persegi empat, memiliki 4 tiang dari bambu, pada bagian atasnya hanya dikelilingi kain berwarnah putih tanpa pernak- pernik warna-warni. Pada ke empat tiang tabere ditempatkan masing-masing satu ja’jakang (berisi: satu ikat padi (pare), loka katiun2, sirih, pinang, dan kelapa serta beras sekitar 4 liter.

Sehari menjelang akkattere, hewan kerbau yang telah disiapkan disembelih (kallong tedong). Daging tersebut sebagian dimasak untuk konsumsi para undangan, dan sebagian disimpan tempat duduk telah disiapkan untuknya, acara dimulai pada pukul 7 sampai selesai). Kemudian oleh tuan rumah dijawab: ya punna anne kesempatan,naseriki gassing ri Tu rie A’ra’na 2 loka katiung: pisang yang khusus sebagai isi ja’jakang yang hanya dipakai pada setiap diadakan ritual. Setelah ritual atau upacara selesai pisang tersebut dibuang, karena pisang itu tidak bisa dimakan. untuk diberikan kepada pemangku adat pada saat pesta selesai. Sesuai dengan pola hidup sederhana (kamase-masea) dalam pengolahan daging juga tercermin kesederhaan, tidak boros. Hal itu terlihat pada saat daging dimasak tidak banyak menggunakan bumbu, hanya berupa lombok, santan, dan air. Sedangkan daging kerbau yang akan dibagikan kepada para pemangku adat, tuba, tau nantan, dipotong-potong sesuai dengan ukuran (berat) yang diinginkan, agar tidak rusak atau busuk biasanya dibakar lalu digantung. Ketika menjelang pelaksanaan akkattere, potongan daging tersebut dibungkus dengan daun pisang, selanjutnya dimasukkan ke dalam kamboti beserta, songkolo, dan kue-kue.

Jalannya Upacara.

Menjelang malam “H”, pada siang harinya diadakan ritual a’nini bola. Ritual a’nini bola (appassili) adalah ritual yang dilakukan dengan tujuan agar rumah pesta dan penghuninya mendapat perlindungan dari Tu rie A’ra’na. Prosesi a’ninibola diawali dengan pembacaan doa dipimpin oleh uragi, kemudian orang tua berserta anak yang akan dikkattere terlebih dahulu dibacca oleh uragi. A’bacca, yaitu pemberian tanda (semacam tepung bedak dingin) kepada keluarga yang akan mengadakan akkattere, di dahi antara kedua mata, dan di pangkal leher. Ritual itu dilakukan di halaman rumah pesta. Setelah ritual a’bacca selesai, uragi beserta kedua orang tua dan anak-anak yang akan dikattere mengelilingi rumah sebanyak tiga kali putaran. Sambil berjalan, uragi mengibaskan seikat dedaunan yang direndam dalam air. Prosesi ini berlangsung hikmat tapi meriah karena diiringi pukulan gendang (palingoro). Pada upacara akkattere selama tiga malam dimeriahkan oleh palingoro. Setelah selesai putaran ketiga, rombongan a’nini kembali ke tempat semula, yaitu di halaman rumah pesta. Uragi dan kedua orang tua dan anak-anak yang akan dikattere duduk di bawah tenda beralaskan tikar. Selanjutnya adalah acara sihokang, yaitu uragi beserta tamu lainnya disuguhi makanan dan minuman arak (tuak). Sihokang merupakan tradisi bagi Komunitas Adat Kajang pada setiap diadakan pesta atau ritual. Sihokang atau suguhan minuman arak hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki. Acara sihokang dimaksudkan sebagai penghormatan dan tanda rasa solidaritas sesama warga Komunitas Adat Kajang.

Baca Juga:   Halo Nike Ardilla Aku Makan Di Restomu : Rumah Makan Nike Ardilla di Makassar

Setelah acara sihokang selesai, dilanjutkan dengan angngaru. Uragi adalah orang pertama yang maju untuk anggaru di hadapan peserta upacara dan penonton. Berbeda dengan angngaru yang dilakukan oleh masyarakat Makassar umumnya, yaitu mengucapkan kata-kata sebagai janji atau sumpah setia kepada raja atau pemerintah dengan mengancungkan keris. Tetapi, angngaru bagi Komunitas Adat Kajang dalam rangka perayaan akkattere, dilakukan dengan gaya menari. Peserta dalam angngaru tidak dibatasi, siapa saja boleh melakukan dengan syarat tahu tentang pasang. Karena yang dituturkan pada angngaru adalah ungkapan-ungkapan yang tertuang dalam pasang.

Selesai angngaru dilanjutnya dengan acara nai ri bola (memasuki rumah). Di bawah pangkal tangga diletakkan sesaji yang beralas daun pisang berupa sirih, pinang, jagung mekar, beras berwarnah kuning. Uragi sebagai pimpinan upacara berjalan paling depan dengan menggandeng tangan pemilik rumah menaiki tangga. Disusul oleh isteri pemilik rumah dan anak-anaknya beserta keluarga lainnya. Sesaji yang diletakkan di bawah pangkal tangga dilangkahi, tidak boleh diinjak. Karena sesaji tersebut sebagai lambang penghormatan kepada makhluk halus penunggu rumah tersebut. Setelah semua peserta upacara berada di atas rumah, uragi membaca doa. Acara nai ri bola diakhiri dengan makan bersama.

Menjelang malam“H” petugas konsumsi (tuba) telah bersiap untuk mengatur makanannya pada tempat yang telah dipersiapkan sebelumnya. Sore menjelang malam hari, tamu mulai berdatangan, tuan rumah menyambut tamunya dengan membawa wadah yang berisi srih, pinang, kapur yang disebut dengan istilah mereka dihuai. Hal itu dilakukan sebagai tanda penghormatan sekaligus sebagai ucapan terima kasih tuan rumah kepada tamun yang telah menghadiri pestanya. Setiap tamu yang datang terutama pemangku adat, tuan rumah menyapa dengan kata “maeki-mae, cidongki ri cidoangta”, sambil mengarahkan pendupaan ke arah tamunya, dan tamu membalas dengan menyentuh tempat pendupaan tersebut. Setiap tamu yang datang dihuai oleh tuan rumah, hal tersebut menandakan bahwa Komunitas Adat Kajang saling menghargai satu sama lainnya. Begitu pula para tamu, mereka sangat menghargai undangan seseorang. Pada dasarnya mereka selalu menyempatkan diri untuk menghadiri setiap ada undangan dengan harapan jika suatu saat mengadakan hajatan, juga akan dihadiri oleh orang yang pernah dihadiri pestanya. Hal itu merupakan implementasi dari isi pasang, di mana Komunitas Adat Kajang senantiasa selalu bersatu, saling menghormati dan saling tolong-menolong (abbulo sipeppa a’lemo sibatu).

Hal yang menarik pada saat menjelang mata jaga (malam “H”) para undangan yang datang ke upacara akkattere ada yang membawa sumbangan (erang) berupa beras dengan jumlah yang bervariasi, minimal 50 liter, juga ada yang membawa uang sebagai sumbangan (pa’solo’). Sumbangan tersebut dicatat oleh petugas yang berbeda. Petugas yang mencatat erang (sumbangan dalam bentuk beras, dumpi, kampalo, uhu-uhu) mencatat nama, dan besarnya jumlah sumbangan. Begitupula pencatat pa’solo mencatat nama dan jumlah uang yang disumbang. Setiap orang yang memberi sumbangan diketahui oleh para undangan, jenis sumbangan dan jumlahnya, karena pada saat itu diumumkan oleh tuan rumah, dan langsung dicatat oleh orang yang ditugaskan. Sumbangan berupa uang (pa’solo), si penyumbang langsung memberikan kepada tuan rumah tanpa mempergunakan amplop. Nama dan jumlah sumbangan dicatat hal itu dilakukan karena menurut mereka, tuan rumah atau pemilik pesta diumpamakan sebagai orang yang menang undian “arisan”. Jika suatu saat si pemberi sumbangan mengadakan pesta, maka orang yang pernah diberi sumbangan akan melakukan hal yang sama, yaitu menyumbang minimal sejumlah yang pernah diterima ketika mengadakan pesta. Oleh karena itu buku catatan sumbangan akan disimpan selamanya.

Sambil menunggu para undangan, terutama Ammatoa dan pemangkut adat, pusanro mempersiapkan benang (ganti pute) yang akan dipasang pada leher dan badan anak yang akan dikattere. Anak-anak yang akan dikattere duduk di tabere, dan masing-masing anak terdapat orang yang duduk di belakangnya yang disebut dengan istilah konjo “ma’riha”. Posisi ma’riha (memangku) bertugas memegang rambut anak yang akan dikattere, sejumlah 5 atau 7 helai pada saat prosesi akkattere. Orang-orang yang ditugaskan sebagai ma’riha haruslah orang yang sudah dikkattere.

Tahapan awal dari prosesi akkattere adalah akkatto salahi. Akkatto salahi diawali dengan pembacaan mantra oleh pusanro terhadap anak yang akan dikattere. Anak-anak yang akan dikattere terlebih dahulu nisau-saui (dimantrai dan dikelilingi dengan asap pendupaan) oleh pusanro. Nisau-saui dimaksudkan agar anak yang akan dikattere mendapat perlindungan dari Tu rie A’ra’na, sehingga prosesi akkattere dapat berjalan lancar tanpa gangguan dari mahkluk jahat.

Selesai ritual nisau-sau, pusanro mengalungi benang putih (ganti pute) pada leher sampai ke dada dan punggung anak yang dikattere. Kemudian anak tersebut ditutup dengan menggunakan sarung hitam, serta ditutupi dengan kain berwarna putih seperti kelambu. Pada saat kain putih dipasang, pusanro juga ikut masuk ke dalam kain putih tersebut. Kemudian pusanro memulai ritual akkatto salahi dengan menggunting benang (ganti pute) yang ada pada leher dan badan anak tesebut. Setelah akkatto salahi selesai, maka dimulailah prosesi akkattere. Panitia acara memanggil satu persatu pemangku adat untuk melakukan pemotongan rambut terhadap anak yang dikattere. Pemanggilan para pemangku adat untuk memotong rambut anak yang dikattere diurut berdasarkan tingkat kedudukannya dalam lembaga adat. Sebagai pemimpin Komunitas Adat Kajang, maka Ammatoa adalah orang yang pertama diundang untuk melakukan pemotongan rambut. Kemudian disusul labbiriya atau Karaeng Kajang (camat), lalu Kadhi, dan seterusnya, sampai keseluruhan pemangku adat mendapat giliran untuk memotong rambut anak yang dikattere. Begitupula anak yang dikattere diurut berdasarkan usianya dari yang tertua hingga yang termuda. Prosesi akkattere dilakukan pada waktu malam, di mana alat penerangan yang digunakan hanya berupa sulo ra’rasa’atau kanjoli, sehingga suasana di rumah pesta agak gelap. Untuk memudahkan pemangku adat memotong rambut anak yang dikattere, maka petugas ma’riha memegang lembaran masing-masing rambut anak dalam jumlah ganjil. Potongan rambut dimasukkan ke dalam kelapa (kalongkong) yang telah disiapkan sebelumnya. Kelapa yang disediakan disesuaikan dengan jumlah anak yang dikattere.

Setelah seluruh pemangku adat sudah mendapat giliran melakukan pemotongan rambut terhadap anak yang dikattere, maka prosesi akkattere sudah selesai. Dengan demikian anak yang telah dikattere secara tidak langsung dinyatakan bahwa mereka telah menjadi bagian dari Komunitas Adat Kajang. Setiap pemangku adat setelah selesai melakukan pemotongan rambut, mereka memberikan hadiah berupa uang (solo’) kepada anak yang dikattere. Besarnya jumlah pa’solo yang diberikan oleh masing- masing pemangku adat dapat diketahui oleh para undangan, karena uang tersebut diletakkan di atas baki dan tidak menggunakan amplop. Setelah Ammatoa dan pemangku adat kembali ke tempat duduk (paccidongang) masing-masing, selanjutnya acara mang’ada (menjamu tamu secara adat). Sementara menunggu hidangan disajikan, para undangan dihibur oleh kelong osong atau kelong jaga diiringi pukulan gendang (palingoro) yang ditabuh dua orang. Pada setiap pesta yang diadakan oleh Komunitas Adat Kajang selalu dihibur oleh pukulan gendang yang disertai dengan kelong jaga atau kelong osong. Kelong adalah sejenis pantun yang dibawakan secara berirama dengan mengikuti irama pukulan gendang. Kelong osong atau kelong jaga menggambarkan kehidupan Komunitas Adat Kajang yang bersahaja dan sederhana (tallasa kamase-masea).

Rangkaian akhir daripada prosesi akkattere pada malam “H”(mata jaga) tersebut adalah perlombaan membuat de’de. Pada perlombaan ma’de’de tidak ada istilah kalah atau menang, serta tidak ada hadiah yang diperebutkan. Kegiatan ma’de’de hanya sekedar hiburan bagi undangan terutama para pemuka adat, dan de’de itu diperuntukan bagi pemangku adat. Ma’de’de adalah kegiatan membentuk nasi ketan (songkolo) menyerupai silinder dengan menggunakan tangan yang dilakukan oleh para wanita. Ketiding (bakul) yang berisi songkolo diangkat ke hadapan pemangkuadatuntuk dide’de.Adapunperlengkapan ma’de’de, yaitu baki (kappara), dan piring ceper. Setelah ada komando dari pihak penyelenggara, para pembuat de’de yang telah mengambil posisi dihadapan para pemuka adat memulai aksinya. Sedikit demi sedikit songkolo diambil dari ketiding dan dibentuk dengan menggunakan tangan. De’de yang dibuat ukurannya disesuaikan dengan kedudukan masing-masing pemangku adat. Jika de’de yang telah dibuat tidak jatuh atau terbongkar sebagai pertanda bahwa upacara akkattere yang telah diselenggarakan mendapat berkah dari Tu rie A’ra’na.

Tahap akhir dari upacara akkattere, adalah a’lampa rio-rio atau a’lampa limbuasa. Kegiatan a’lampa limbuasa dilaksanakan pada keesokan hari setelah prosesi akkattere. A’lampa limbuasa artinya anak yang telah dikattere pergi beramai- ramai di sumber mata air atau sungai untuk menghanyutkan kalongkong (kelapa) yang berisi potongan rambutnya. A’lampa limbuasa sekaligus merupakan kegiatan rekreasi bagi anak-anak setelah mengikuti prosesi akkattere. Pada acara a’lampa limbuasa, masing-masing anak didampingi oleh orang yang bertugas sebagai ma’riha ketika prosesi akkattere. Setelah sampai di tepi sungai, anak-anak sambil memegang kalongkong, diangkat oleh pa’riha kemudian dilempar ke dalam air. Setiap anak menghanyutkan kalongkong yang berisi potongan rambutnya. Sebagai tanda terima kasih setiap anak menjabat tangan orang yang telah membantunya, sambil memberikan ohang satu tail. Ohang merupakan mata uang pada zaman VOC, satu tail sama dengan tiga keping ohang dan setara dengan Rp. 50.000.

Setelah selesai acara a’lamba limbuasa, anak-anak yang telah dikattere bersama rombongan pulang ke rumah. Di rumah sudah hadir beberapa orang dari kalangan keluarga dekat yang akan memberikan pa’solo’ kepada anak-anak tersebut. Demikian pula tamu undangan yang tidak sempat hadir pada malam “H”, pada saat itu baru memberikan hadiah/solo kepada anak-anak yang telah dikattere. Sebagai acara penutup, di halaman rumah pesta diadakan anggaru. Anggaru dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tu rie A’ra’na karena telah melaksanakan upacara akkattere.

Baca Juga:   Harga Penginapan Murah di Malino Terbaru Paling Populer
Simbol-Simbol Upacara

yang berarti berwawancara, merenungkan, memperbandingkan, bertemu, menyatukan. Bentuk simbol adalah penyatuan dua hal luluh menjadi satu. Mengenai simbol dan simbolisasi terdapat dua pendapat, yaitu simbol sebagai sesuatu yang imanen (dimensi horisontal) dan simbol sebagai bermatra transenden, horisontal- vertikal, dan bermatra metafisik (Daeng, 2008:82) Menurut Micrea Eliade (dalam Daeng, 2008:82) bahwa simbol mengungkapkan aspek- aspek terdalam dari kenyataan yang tidak terjangkau oleh alat pengenalan lain.Unsur penting yang merupakan bagian integral dari ritual atau upacara adalah simbol. Melalui simbol yang sarat dengan makna secara antropologis menjadi media komunikasi dalam berbagai aspek kehidupan. Menurut Leslie White (dalam Haviland, 1988:339), semua perilaku manusia dimulai dengan penggunaan lambang seperti halnya pada seni, agama, dan uang. Aspek simbolis yang terpenting dari kebudayaan adalah bahasa yang dapat berfungsi sebagai pengganti objek dengan kata-kata. Bahkan pranata-pranata kebudayaan meliputi struktur politik, agama, kesenian, organisasi ekonomi, dan lain-lain tidak mungkin ada tanpa lambang. mengatakan bahwa, simbol merupakan manifestasi yang nampak dari ritus. Menurutnya terdapat tiga dimensi arti simbol, yaitu, pertama, arti eksegetik, dimensi ini meliputi penafsiran yang diberikan oleh informan asli kepada peneliti. Kedua, dimensi operasional, dimensi ini tidak hanya penafsiran yang diungkapkan secara verbal, tetapi apa yang ditunjukkan pada pengamat dan peneliti. Ketiga, dimensi posisional, dimensi yang mengacu pada relasinya dengan simbol-simbol lain. Simbol-simbol itu sifatnya multivokal (mempunyai banyak arti), sehingga terdapat relasi-relasi di antara simbol-simbol yang ada.

Pada pelaksanaan akkattere terdapat sejumlah simbol yang memiliki berbagai makna. Seperti, pengguntingan benang (ganti pute) yang melilit pada leher dan badan anak melambangkan sebagai tanda kebebasan dari segala hambatan dalam hidupnya, dan memperoleh keselamatan dihari akhirat (allo ri boko). Penggunaan kelapa (kalongkong) sebagai wadah untuk menyimpan potongan rambut, dimaksudkan supaya anak yang telah dikattere dapat berguna bagi keluarga dan masyarakat sebagaimana buah kelapa, di mana seluruh bagian kelapa dapat dimanfaatkan oleh manusia. Jumlah rambut yang ganjil tersebut diidentikkan dengan kegiatan tahalul di Tanah Suci Mekah. Selain itu rambut yang dipotong berjumlah ganjil sebagai simbol, bahwa rezeki yang diperoleh selama hidup di dunia si anak tersebut selalu berlebih, dan di akhirat (allo riboko) kelak akan mendapat pahala yang berlipat. Penggunaan berang buru’ne atau badik bagi anak laki-laki dimaksudkan sebagai lambang keperkasaan laki-laki, karena badik merupakan alat yang digunakan oleh laki-laki untuk mempertahankan diri dalam situasi tertentu. Sedangkan penggunaan berang bahine atau pisau bagi anak perempuan, karena perempuan diidentikkan dengan kegiatan di dapur. Artinya setiap perempuan sudah menjadi kondratnya selalu berurusan dengan kegiatan dapur, dan pisau salah satu alat utama yang diperlukan. Menghanyutkan potongan rambut melambangkan pembersihan diri terhadap hal-hal buruk yang ada pada anak-anak tersebut. Dengan harapan agar anak-anak tersebut dapat berperilaku yang baik dalam bermasyarakat.

A’bacca, yaitu pemberian tanda berupa tepung bedak dingin ke bagian dahi dan pangkal leher kepada keluarga yang akan melaksanakan akkattere. Ritual tersebut dipimpin oleh uragi. Ritual a’bacca merupakan upaya untuk menjaga keharmonisan antara manusia dengan lingkungannya.

Pantangan-Pantangan dalam Upacara

Pada umumnya setiap upacara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat terdapat beberapa pantangan yang harus dihindari. Pantangan (kasipalli) yang harus dihindari dalam setiap pelaksanaan upacara tradisional telah menjadi norma dalam masyarakat pendukungnya. Walaupun Komunitas Adat Kajang telah menganut ajaran agama Islam, kepercayaan leluhur masih tetap terpelihara dan dipatuhi. Seperti dalam upacara akkattere dipantangkan dilaksanakan pada hari-hari yang dianggap buruk menurut sistem pengetahuan dan pengalaman mereka. Bilamana hal tersebut tidak dipatuhi, maka diyakini akan mendapat marabahaya, baik terhadap jalannya upacara akkattere maupun terhadap keluarga yang berhajat. Selama prosesi akkatto salahi (ritual pra- akkattere) berlangsung, seluruh peserta upacara akkattere yang hadir di rumah pesta dipantangkan untuk berbicara. Bilamana hal tersebut tidak dipatuhi, baik terhadap anak yang dikattere maupun orang yang melanggar pantangan tersebut akan mendapat musibah.

Demikian pula pada acara membuat de’de, dipantangkan agar de’de yang dibuat tidak terbongkar (jatuh). Apabila de’de yang dibuat tidak jatuh, sebagai alamat pelaksanaan akkattere mendapat berkah dari Tu Rie’ A’ra’na, keluarga yang berhajat akan hidup sejahtera di dunia dan akan mendapat pahala di hari kemudian (allo ri boko).

Fungsi Upacara Akkattere
Fungsi Spritual

Upacara atau ritual secara umum dipahami sebagai ekspresi keagamaan dalam wujud perilaku yang dijadikan sebagai media untuk bekomunikasi dengan hal-hal yang gaib. Implementasi atau praktik ritual tampil beragam berdasarkan kepercayaan masing- masing sekaligus merupakan karakteristik budaya komunitas tertentu. Sehubungan dengan upacara atau perayaan keagamaan, menjelaskan bahwa upacara merupakan sarana untuk menghubungkan antara manusia dengan hal-hal keramat yang diwujudkan dalam praktik (in action). Karena itu, menurutnya upacara bukan hanya sarana untuk memperkuat ikatan sosial kelompok dan mengurangi ketegangan, tetapi juga suatu cara untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting.

ritus-ritus yang diadakan oleh suatu masyarakat merupakan penampakan dari keyakinan religius dan praktik-praktiknya. Ritus-ritus yang dilakukan itu mendorong orang- orang untuk melakukan dan menaati tatanan sosial tertentu. Ritus-ritus memberikan motivasi dan nilai-nilai pada tingkat yang paling dalam. Dalam ritus manusia mengungkapkan apa yang menggerakkan mereka. Dan dalam ritus orang mendapatkan motivasi dan kekuatan baru untuk hidup dalam masyarakat sehari-hari. Tradisi ritual akkattere yang dilakukan oleh warga Komunitas Adat Kajang memiliki fungsi spritual, merupakan perwujudan ketaatan mereka kepada Tu rie A’ra’na. Menurut mereka bahwa akkattere yang dilakukan diidentikkan dengan menunaikan ibadah haji ke tanah suci, namun tidak mendapat gelar “haji” sebagaimana umat Islam umumnya. Akkattere juga sekaligus sebagai sarana untuk mengeluarkan sedekah sebagai bekal di hari kemudian (allo ri boko). Segala pengorbanan yang mereka keluarkan dalam akkattere akan bernilai ibadah sesuai dengan kepercayaan patuntung yang mereka yakini. Komunitas Adat Kajang merupakan suatu masyarakat yang masih cukup kuat mempertahankan tradisinya, kepercayaan patuntung yang dianutnya menjadi acuan dari segala kegiatannya.

Fungsi Sosial

upacara religi atau agama yang dilaksanakan oleh suatu masyarakat pemeluk religi atau agama mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas masyarakat. Seperti halnya pada Komunitas Adat Kajang, ritual akkattere yang diadakan merupakan sarana untuk mempererat rasa solidaritas diantara mereka. Akkattere merupakan jenis upacara perorangan atau individu yang dilakukan oleh suatu keluarga, namun pelaksanaannya melibatkan banyak orang, seperti keluarga, kerabat, tetangga dan pemangku adat. Rasa solidaritas di antara sesama komunitas nampak ketika mulai proses persiapan sampai pada prosesi upacara akkattere selesai. Sesuai dengan prinsip hidup mereka saling tolong- menolong (situru-turu’) yang tertuang di dalam pasang yang berbunyi: abbulo sipappa, a’lemo sibatu, tallang sipahua, manyu siparare, lingu sipakainga, mate siroko, bunting sipabassai ( artinya: bersatu padu bagaikan sebatang bambu, bagaikan sebuah limau, tenggelam saling menolong/menyelamatkan, hanyut saling membantu, lupa saling mengingatkan, mati saling membungkus, kawin saling menyumbang).

Pada pelaksanaan akkattere terdapat prinsip tolong-menolong, sumbang-menyumbang berupa tenaga dan atau materi (uang, beras, aneka jenis kue). Prinsip resiprositas masih melekat di antara mereka, hal tersebut merupakan salah satu perwujudan dari hidup kamase-mase. Seperti dengan hasil penelitian Geertz pada masyarakat di Mujokuto bahwa, pada upacara slametan sebuah hubungan timbal balik terlepihara. Setiap orang yang menyumbangkan tenaga berhak meminta bantuan tenaga sekitar sehari untuk maksud yang sama dikemudian hari. Kewajiban semacam itu, tidak peduli betapapun rumitnya selalu saja diingat orang.

Fungsi Ekonomi.

Upacara akkattere memiliki fungsi ekonomi bagi Komunitas Adat Kajang. Pelaksanaan akkattere dilaksanakan bagi mereka yang memiliki kemampuan ekonomi, karena membutuhkan biaya yang besar. Oleh karena itu KomunitasAdat Kajang memotivasi diri mengumpulkan dana selama beberapa kali panen untuk mengadakan upacara akkattere. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup dengan prinsip tallasa kamase- masea (sederhana) tetapi dalam pelaksanaan akkattere mereka mampu mengeluarkan biaya yang hampir sama atau bahkan dapat melebihi biaya naik haji ke tanah suci.

Kesimpulan

Pelaksanaan upacara akkattere diawali dengan niat oleh keluarga yang akan mengadakan akkattere. Upacara akkattere merupakan upacara adat yang melibatkan seluruh pemangku adat dan memerlukan biaya yang besar. Oleh karena itu keluarga yang sudah berniat melaksanakan akkattere terhadap anak-anaknya mulai menimbun hasil pertaniannya selama beberapa kali panen, atau sampai merasa cukup. Tahapan akkattere diawali dengan ritual yang dilakukan oleh uragi untuk menentukan hari yang dianggap baik untuk memulai persiapan-persiapan pelaksanaan akkattere. Sesuai petunjuk dari uragi, keluarga yang berhajat mulai menjemur padi, mengambil kayu bakar (angngalle kayu tunu), membuat tapping. Menjelang malam “H”, diadakan ritual a’nini bola (tolak bala rumah) bertempat di rumah pesta yang dipimpin oleh uragi. Pada puncak acara (mata jaga) prosesi akkatere dimulai setelah Ammatoa dan pemangku adat (Adat Limaya, Karaeng Tallua,dan Pusanro) sudah hadir di rumah pesta. Prosesi akkattere diawali dengan akkatto salahi yang dipimpin oleh pusanro. Setelah prosesi pra-akkattere selesai dilanjutkan dengan acara inti yaitu ritual akkattere (pemotongan rambut) yang dilakukan oleh ammatoa dan pemangku adat secara bergantian sesuai dengan urutan kedudukannya dalam lembaga adat. Tahap akhir dari prosesi akkattere, adalah allimbuasa atau a’lampa rio- rio. Acara tersebut dilaksanakan keesokan hari setelah prosesi akkattere pada sumber mata air yang terletak di sekitar kawasan adat. Pelaksanaan upacara akkattere merupakan wujud ketaatan Komunitas Adat Kajang kepada Tu rie A’ra’na sebagaimana kepercayaan patuntung yang mereka yakini. Di dalam upacara akkattere terdapat beberapa fungsi seperti: fungsi sosial, fungsi spritual, dan fungsi ekonomi.[bp]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Lipsus

To Top