Connect with us

Inilah 4 Tujuan Perjalanan Ke Gunung Bawakaraeng

Lipsus

Inilah 4 Tujuan Perjalanan Ke Gunung Bawakaraeng

392 Total Pengunjung.

Inilah 4 Tujuan Perjalanan Ke Gunung Bawakaraeng – Setiap manusia dalam melakukan suatu kegiatan biasanya memiliki tujuan. Semakin berkembang pemikiran manusia, semakin berkembang kemauan, total dan jenis kebutuhannya juga dikembangkan. Selain kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan perumahan, manusia juga berusaha memenuhi kebutuhan lain dari kehidupan, seperti piknik, kesehatan, keselamatan atau keamanan, komunikasi dengan orang lain, dan sejenisnya. Terkait dengan kebutuhan tersebut, sebagian besar masyarakat Sulawesi Selatan melihat bahwa Gunung Bawakaraeng adalah salah satu tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Makanya di waktu-waktu tertentu, Gunung Bawakaraeng ramai oleh banyak orang. Kehidupan seperti apa? kebutuhan yang ingin mereka penuhi? Apa jenis motivasi yang membuat mereka datang ke Gunung Bawakaraeng? Dari hasil observasi didapatkan bahwa pengunjung gunung bawakaraeng, dapat dipahami bahwa banyak faktor yang mempengaruhi dan menarik mereka untuk datang ke gunung tersebut. Tapi, setidaknya ada empat tujuan yang menarik untuk dikaji. Menurut pengamatan, keempat tujuan tersebut adalah:

  1. Jappa Biasa (jalan-jalan biasa/mendaki)
  2. Jappa sanro (berjalan menjadi dukun)
  3. Pakkio’ Akkusiang (panggilan spiritual)
  4. Jappa Pinati (menjadi pemandu spiritual)

Keempat tujuan di atas, tiga di antaranya sangat terkait dengan kepercayaan spiritual, yaitu; Jappa Sanro, Pakkio’ Akkusiang, dan Jappa Pinati. Namun tujuan pertama yaitu Jappa Biasa adalah juga dijelaskan dalam tulisan ini.

  1. Jappa Biasa. Jappa Biasa yang dimaksud disini adalah perjalanan ke gunung Bawakaraeng untuk menikmati keindahan alam gunung dan hanya untuk memenuhi kebutuhan refreshing. Kebanyakan dari mereka adalah pemuda pecinta alam, baik di kalangan mahasiswa yang berorganisasi organisasi/kelompok atau individu atau kelompok nonformal. Tampaknya, generasi muda, akhir-akhir ini, cenderung menggunakan alam, khususnya daerah pegunungan, sebagai objek dari tempat olah raga, piknik atau tempat wisata. Yang ini bisa terbukti dalam kehidupan sehari-hari mereka, yaitu selalu terlihat goups pemuda dari mahasiswi pecinta alam melewati jalur tertentu dengan kemudahan yang sempurna untuk mendaki climb gunung., Gunung Bawakaraeng adalah favorit objek/tempat pendakian di sulawesi selatan yang satu ini.
  2. Jappa Sanro. Jappa Sanro adalah perjalanan ke Gunung Bawakaraeng dengan tujuan untuk mengambil atau mencari obat untuk segala jenis penyakit. Demikianlah bahan-bahan yang digunakan untuk membuat obat penawar racun; untuk mengetahui tumbuhan yang dianggap bisa membuat seseorang kaya, dan alasan lain yang terkait dengan keuntungan dari kehidupan. Mereka yang melakukan perjalanan seperti ini biasanya dipanggil dan dikenal oleh masyarakat sebagai sanro atau dukun. Mereka minoritas dalam jumlah banyak jika dibandingkan dengan pengunjung dengan tujuan refreshing dan dengan tujuan ritual. Mereka tidak terikat waktu untuk mengunjungi Gunung Bawakaraeng dan bisa melakukan perjalanan kapan pun mereka mau. Namun, beberapa dari mereka memiliki tujuan ganda, yaitu jappa sanro saat melakukan ritual demikian juga sebaliknya.
  3. Jappa Pinati. Dalam pandangan masyarakat, yang dimaksud Jappa Pinati adalah seseorang membimbing umat atau orang yang mengunjungi Bawakaraeng Gunung, seperti panitia atau pembimbing spiritual. Menurut salah seorang sumber, seseorang menjadi seperti pinati biasanya warga yang tinggal di sekitar Bawakaraeng Gunung, seperti warga desa Lembanna, Kanreapia, sinjai barat, dan desa lain di sekitar Bawakaraeng. Mereka melayani para pengunjung yang melakukan perjalanan untuk refreshing atau lebih menikmati keindahan alam. Mereka menjadi jalan bimbingan sambil membantu para pengunjung membawa instrumen mereka, seperti tenda, ransel, makanan, dan sejenisnya. Sedangkan seseorang menjadi Pinati bagi pengunjung untuk ritualnya biasanya dari anggota komunitas diri. Pinati seperti ini biasanya mencoba mencari anggota keluar sebanyak mungkin, jauh sebelum perjalanan dilakukan. Jadi, menurut sumber, Komunitas pengunjung Gunung Bawakaraeng terdiri dari banyak kelompok, itu tergantung pada berapa banyak Pinati. sumber menunjukkan bukti bahwa ziarah kolektif ke Bawakaraeng tahun 2007-2008 yang berasal dari Makasar terdiri dari dari banyak kelompok. Setiap kelompok memiliki Pinati, misalnya kelompok yang dipimpin oleh Puang Wali dari Pangkep ini beranggotakan sekitar 200 orang. Juga kelompok-kelompok lain dari daerah lain, seperti Bulukumba, Sinjai, Gowa, Maros, dan lainnya daerah dengan anggotanya sendiri. Pinati membimbing kolektif ini manusia terkadang memiliki tujuan ganda, yaitu membimbing orang-orang di sisi lain, dan juga untuk ritual dan penemuan berkah di puncak Gunung Bawakaraeng.
  4. Pakkio’ Akkusiang. Pakkio’ Akkusiang yang dimaksud di sini adalah bujukan untuk ritual dan mencari berkah di puncak gunung Bawakaraeng. Praktek ritual ini tidak terlepas dari menjadi doktrin atau kepercayaan banyak masyarakat Islam di Sulawesi Selatan. Realisasi ritual yang dilakukan bercampur dengan tradisi dan asal usul kepercayaan kuno mereka. Selain itu, ada juga diantaranya menerima atau memahami ajaran Islam salah, jadi realisasinya sedikit berbeda. Sejak awal masuknya islam di sulawesi selatan abad ke-17 oleh Datuk ri Bandang dengan aspek syari’ah, Datuk Patimang dengan perkembangan Kalam (Tauhid), kemudian pelaksanaan aspek tasawuf oleh Datuk ri Tiro, hanya seorang kenalan, yang tidak diikuti dengan pendalaman doktrin dalam proses selanjutnya. Sebagai Akibatnya, Islam berkembang di Sulawesi Selatan, terutama di masyarakat Bugis Makassar, adalah Islam sinkretis, yaitu di pemikiran Islam yang bercampur dengan tradisi dan asal usul kepercayaan kuno.[bp].
Baca Juga:   Bupati Cup Kalong Racing Teang Kejurda Drag Bike Seri III Tahun 2019 Soppeng

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Lipsus

To Top