Connect with us

Jadwal Ritual Yadnya Kasada 1943 Caka Hindu Tengger di Gunung Bromo Tahun 2021

Event

Jadwal Ritual Yadnya Kasada 1943 Caka Hindu Tengger di Gunung Bromo Tahun 2021

58 Total Pengunjung.

Probolinggo, Berakhirpekan.com – Ritual Hari Raya Yadnya Kasada 1943 Caka Suku Tengger Di Kawasan Gunung Bromo Tengger Semeru Jawa Timur ialah perayaan hari besar serta upacara peribadatan umat hindu tengger bromo dengan melakukan suatu ritual sesembahan berbentuk persembahan sesajen hasil bumi kepada Si Hyang Widhi yang diselenggarakan tiap bulan Kasada hari- 14 dalam Penanggalan Jawa. Hari Raya Yadnya Kasada merupakan suatu hari upacara sesembahan berbentuk persembahan sesajen kepada Si Hyang Widhi. Tiap bulan Kasada hari- 14 dalam Penanggalan Jawa diadakan upacara sesembahan ataupun sesajen buat Si Hyang Widhi serta para leluhur, cerita Rara Anteng( Gadis Raja Majapahit) serta Jaka Seger( Putra Brahmana)” asal mula suku Tengger di ambil dari nama balik keduanya”, pendamping Rara Anteng serta Jaka Seger membangun pemukiman serta setelah itu memerintah di kawasan Tengger dengan istilah Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, yang memiliki makna“ Penguasa Tengger yang Budiman”. Mereka tidak di karunia anak sehingga mereka melaksanakan semedi ataupun bertapa kepada Si Hyang Widhi, seketika terdapat suara gaib yang berkata kalau semedi mereka hendak terkabul tetapi dengan ketentuan apabila sudah memperoleh generasi, anak yang bungsu wajib dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.

Pendamping Roro Anteng serta Jaka Seger menyanggupinya serta setelah itu didapatkannya 25 orang putra- putri, tetapi naluri orangtua tetaplah tidak tega apabila kehabisan putra- putrinya. Pendek kata pendamping Rara Anteng serta Jaka Seger ingkar janji, Dewa jadi marah dengan mengecam hendak menimpakan malapetaka, setelah itu terjadilah prahara kondisi jadi hitam gulita kawah Gunung Bromo menyemburkan api.

Kesuma, anak bungsunya sirna dari pemikiran terjilat api serta masuk ke kawah Bromo, bertepatan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib,” Saudara- saudaraku yang kucintai, saya sudah dikorbankan oleh orangtua kita serta Si Hyang Widhi menyelamatkan kamu seluruh. Hiduplah damai serta tenteram, sembahlah Si Hyang Widhi. Saya ingatkan supaya kamu tiap bulan Kasada pada hari ke- 14 mengadakan sesaji kepada Si Hyang Widhi di kawah Gunung Bromo”. Kerutinan ini diiringi secara turun temurun oleh warga Tengger serta tiap tahun diadakan upacara Kasada di Poten lautan pasir serta kawah Gunung Bromo.

Baca Juga:   Bupati Cup Kalong Racing Teang Kejurda Drag Bike Seri III Tahun 2019 Soppeng

Selaku penganut agama Hindu, Suku Tengger tidak semacam penganut agama Hindu pada biasanya, mempunyai candi- candi selaku tempat peribadatan, tetapi apabila melaksanakan peribadatan bertempat di punden, danyang serta poten.

Kasada Bromo dirayakan tiap tahunnya dengan prosesi kegiatan upacara adat serta persembahan buat Si Hyang Widhi serta para leluhur, yang konon semacam cerita serta legenda gunung bromo yang mengisahkan suatu drama percintaan antara Rara Anteng( Gadis Raja Majapahit) serta Jaka Seger( Putra Brahmana)” yang ialah asal usul nama dari suku Tengger di Gunung Bromo yang di ambil dari nama balik keduanya”.

Selaku penganut agama Hindu, Suku Tengger tidak semacam penganut agama Hindu pada biasanya, mempunyai candi- candi selaku tempat peribadatan, tetapi apabila melaksanakan peribadatan bertempat di punden, danyang serta poten. Poten ialah sebidang lahan di lautan pasir selaku tempat berlangsungnya upacara Kasada. Selaku tempat pemujaan untuk warga Tengger yang beragama Hindu, poten terdiri dari sebagian bangunan yang ditata dalam sesuatu lapisan komposisi di pekarangan yang dipecah jadi 3 mandala/ zone.

Awal

Mandala Utama diucap pula jeroan ialah tempat penerapan pemujaan persembahyangan. Mandala itu sendiri terdiri dari Padma berperan selaku tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa. Padma wujudnya seragam candi yang dibesarkan lengkap dengan pepalihan, tidak mengenakan atap yang terdiri dari bagian kaki yang diucap tepas, tubuh/ batur serta kepala yang diucap sari dilengkapi dengan Bedawang, Nala, Garuda, serta Angsa.

Beawang Nala melukiskan kura- kura raksasa menunjang padmasana, dibelit oleh seekor ataupun 2 ekor naga, garuda serta angsa posisi terbang di balik tubuh padma yang tiap- tiap bagi mitologi melukiskan keagungan wujud serta guna padmasana.

Bangunan Sekepat( tiang 4) ataupun yang lebih besar posisinya di bagian sisi sehadapan dengan bangunan pemujaan/ padmasana, menghadap ke timur ataupun cocok dengan orientasi bangunan pemujaan serta terbuka keempat sisinya. Gunanya buat penyajian fasilitas upacara ataupun kegiatan serangkaian upacara. Bale Pawedan dan tempat dukun sewaktu melaksanakan pemujaan.

Baca Juga:   Link Pendaftaran Lomba-Lomba Pada Toraja Highland Festival Juli 2021

Kori Agung Candi Bentar, wujudnya mirip dengan tugu kepalanya mengenakan gelung mahkota segi 4 ataupun segi banyak bertingkat- tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar segi 4 ataupun sisi banyak dengan sisi- sisi dekat depa alit, depa madya ataupun depa agung. Besar bangunan bisa berkisar sebesar ataupun setinggi tugu hingga dekat 100 m membolehkan pula terbuat lebih besar dengan mencermati keelokan proporsi candi.

Kedua

Mandala Madya diucap pula jaba tengah, tempat persiapan serta pengiring upacara terdiri dari Kori Agung Candi Bentar, wujudnya seragam dengan tugu, kepalanya mengenakan gelung mahkota segi 4 ataupun segi banyak bertingkat- tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar, segi 4 ataupun segi banyak dengan sisi- sisi dekat satu depa alit, depa madya, depa agung.

Bale Kentongan, diucap bale kul- kul posisinya di sudut depan pekarangan pura, wujudnya lapisan tepas, batur, sari serta atap penutup ruangan kul- kul/ kentongan. Gunanya buat tempat kul- kul yang dibunyikan dini, akhir serta dikala tertentu dari rangkaian upacara. Bale Bengong, diucap pula pewarengan suci posisinya di antara jaba tengah/ mandala madya, mandala nista/ jaba sisi. Wujud bangunannya 4 persegi ataupun memanjang deretan tiang dua- dua ataupun banyak luas bangunan buat dapur. Gunanya buat mempersiapkan keperluan sajian upacara yang butuh dipersiapkan di pura yang biasanya jauh dari desa tempat pemukiman.

Ketiga

Mandala Nista diucap pula jaba sisi ialah tempat peralihan dari luar ke dalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar/ bangunan penunjang yang lain. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker batasan pekarangan pintu masuk di depan ataupun di jabaan tengah/ sisi mengenakan candi bentar serta pintu masuk ke jeroan utama mengenakan Kori Agung.

Tembok penyengker candi bentar serta kori agung terdapat bermacam wujud alterasi serta kreasinya cocok dengan keelokan arsitekturnya. Bangunan pura pada biasanya menghadap ke barat, merambah pura mengarah ke arah timur demikian pula pemujaan serta persembahyangan menghadap ke arah timur ke arah terbitnya matahari.

Baca Juga:   Drag Bike Regional 5 dan 6 wilayah Sulawesi, Maluku, Papua Putaran 8 Sulsel 2019

Kapan upacara kasada bromo dilaksanakan? Upacara adat Kasada di Gunung Bromo senantiasa dinantikan banyak turis dari dalam ataupun luar negara, Agenda upacara adat kasada tahun ini hendak berlangsung serta diadakan pada bertepatan pada 25– 26 Juni 2021. Ceremony Adat Suku Tengger Gunung Bromo yang sangat ditunggu oleh banyak turis serta menikmati kegiatan ritual adat kasada bromo. Kami mempunyai penawaran Paket Wisata Bromo 2 Hari 1 Malam ataupun Paket Wisata Bromo Midnight bila mau berkunjung ke bromo serta menjajaki puncak prosesi upacara adat istiadat keagamaan kasada di kawasan tengger gunung bromo lekas mendatangi kami buat data perinci harga serta sarana Paket Wisata Gunung Bromo Kasada 2021.

Iringan musik tradisional Suku Tengger mengiringi prosesi kegiatan ritual dari Pura Luhur Poten Bromo. Alunan tersebut selaku ciri lagi berlangsungnya uacara adat setempat. Pada perayaan Yadnya Kasada, Masing- masing masing- masing desa di 4 daerah disekitar bromo mempersiapkan ongkek seluruh berbagai hasil bumi mereka. Terkecuali buat desa yang lagi berhalangan ataupun terjalin bencana semacam terdapat salah satu warganya wafat dunia hingga tidak harus buat menjajaki kegiatan tersebut dengan bawa hasil bumi.

Para masyarakat dengan bawa ongkek berisi sesaji pada jam 00. 00 mengarah Pura Luhur Poten Bromo buat prosesi pembacaan mantera oleh si dukun serta doa bersama. Pas pada jam 03. 00 ongkek beserta hasil bumi dibawa ke kawah Gunung Bromo buat dilarungkan. Ritual ini selaku fakta ungkapan rasa syukur warga tengger serta dijauhkan dari malapetaka. Prosesi melarung sesaji oleh masyarakat Tengger di bibir kawah ini jadi prosesi puncak ritual Yadnya Kasada sehabis satu hari tadinya diadakan doa- doa di dalam ritual pawedalan pura, melasti serta prosesi pengambilan air suci.

Ritual kuno yang telah dicoba semenjak beradab- abad dulu sekali ini jadi simbol rasa syukur sekalian penggenapan janji warga Tengger kepada si Hyang Widhi serta nenek moyang mereka.[bp]

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Event

To Top