Connect with us

Berakhir Pekan – 1001 Tempat Wisata Populer dan Viral Saat Ini

Kapal Pinisi Bulukumba | Sejarah, Proses Pembuatan, dan Keunikannya Sudah Diakui Dunia

Lipsus

Kapal Pinisi Bulukumba | Sejarah, Proses Pembuatan, dan Keunikannya Sudah Diakui Dunia

294 Total Pengunjung.

Pengarung Tangguh samudra legendaris itu adalah Pinisi, sebuah jenis kapal yang dibuat oleh suku Bugis dan terkenal di seantero samudra pada masa jayanya. Menurut Kemendikbud, Sejarah kapal pinisi Pinisi dimulai dari pembuatannya pada abad ke 14 masehi oleh seorang putra mahkota bernama Sawerigading yang berasal dari Kerajaan Luwu.

Kapal Pinisi Bulukumba | Sejarah, Proses Pembuatan, dan Keunikannya

Sejarah Pembuatan Kapal Pinisi

Kala itu, perahu Pinisi pertama dibuat dengan menggunakan bahan baku dari pohon yang dikenal sebagai pohon Welengreng atau Pohon Dewata. Kenapa pohon Welengreng ini dikenal sebagai pohon Dewata? Dikisahkan, pohon ini adalah pohon yang sangat kokoh dan tidak rapuh, akan tetapi pohon ini kerap dijaga oleh entitas entitas tidak terlihat sebut saja makhluk gaib sehingga, sebelum pohon ini ditebang, serangkaian upacara adat untuk memindahkan penunggu pohon tersebut harus dilakukan. Perahu Pinisi awalnya dibuat oleh Sawerigading untuk melancarkan modusnya kepada seorang putri kerajaan Tiongkok yang bernama We Cudai. Dengan kapal ini, Sawerigading berhasil mendarat di Tiongkok dan mempersunting wanita yang didambakannya tersebut. Akan tetapi, setelah sekian lama tinggal di negeri orang, kerinduan akan kampung halaman pun muncul. Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang kampung menggunakan kapal yang ia buat itu.

Namun, nasib malang melanda Sawerigading. Kapal kokoh buatannya dihantam oleh gelombang besar di wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Bulukumba. Puing kapal Sawerigading terpental hingga ke 3 wilayah, yaitu Ara, Tana Beru, dan Lemo-Lemo. Masyarakat lokal tersebut kemudian membantu Sawerigading untuk merakit kembali kapal tersebut dengan skala yang lebih megah dan besar, yang akhirnya dikenal sebagai Pinisi yang berarti sebuah kapal yang tangguh dan mampu melawan ombak.

Sejarah Perahu pinisi merupakan jenis perahu tradisional yang merupakan hasil dari teknologi tradisional masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Perahu pinisi mempunyai ciri memiliki dua tiang layar utama dan tujug buah layar; tiga buah layar di ujung depan, dua di tengah, dan d0075a di belakang. Perahu ini memiliki fungsi utama sebagai pengangkut barang antar pulau. Tidak diketahui secara jelas asal-usul dari nama pinisi, tetapi terdapat dua teori mengenai asal-usul penamaan pinisi. Teori pertama menyatakan bahwa pinisi berasal dari kata Venecia, sebuah kota pelabuhan di Italia. Diduga dari kata venecia inilah kemudian berubah menjadi penisi menurut dialek Konjo yang selanjutnya mengalami proses fonemik menjadi pinisi. Pengambilan nama kota tersebut diperkiran didasari atas kebiasaan orang Bugis Makassar mengabadikan nama tempat terkenal atau mempunyai kesan istimewa kepada benda kesayangannya, termasuk perahu.

Baca Juga:   Jembatan Kaca Bulukumba di Titik Nol Sulawesi – Wisata Viral di Tanjung Bira Sulsel

Sementara teori kedua berpendapat bahwa nama pinisi berasal dari kata panisi yang memiliki arti sisip. Mappanisi (menyisip) yaitu menyumbat semua persambungan papan, dinding, dan lantai perahu dengan bahan tertentu agar tidak kemasukan air. Dugaan tersebut berdasar pada pendapat yang menyatakan bahwa orang Bugis yang pertama menggunakan perahu pinisi. Lopi dipanisi’ (Bugis) artinya perahu yang disisip. Diduga dari kata pinisi mengalami proses fonemik menjadi pinisi

Untuk bentuk perahu pinisi sendiri diperkirakan merupakan pengembangan dari perahu panjala. Panjala sendiri merupakan perahu yang dipergunakan nelayan untuk menjala (menangkap ikan), namun nama tersebut kemudian menjadi nama jenis perahu. Hubungan antara perahu panjala dengan pinisi terlihat dari bentuk lambung perahu pinisi yang memiliki kesamaan dengan perahu panjala.

Seni dan Arsitektur Kapal Pinisi

Seni Pembuatan Kapal di Sulawesi Selatan, mengacu pada anjungan dan layar ‘Sulawesi schooner’ yang terkenal. Konstruksi dan penyebaran kapal-kapal semacam itu merupakan tradisi ribuan tahun pembuatan kapal dan navigasi Austronesia yang telah melahirkan berbagai macam kapal air canggih. Bagi masyarakat Indonesia dan publik internasional, Pinisi telah menjadi lambang kapal layar pribumi Nusantara. Saat ini, pusat-pusat pembuatan kapal terletak di Tana Beru, Bira dan Batu Licin, dimana sekitar 70 persen populasi mencari nafkah melalui pekerjaan yang terkait dengan pembuatan kapal dan navigasi. Namun, pembuatan kapal dan pelayaran tidak hanya menjadi andalan ekonomi masyarakat, tetapi juga merupakan fokus utama dari kehidupan dan identitas sehari-hari. Kerjasama timbal balik antara komunitas pembuat kapal dan hubungan mereka dengan pelanggan mereka memperkuat saling pengertian antara pihak-pihak yang terlibat. Pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan elemen diturunkan dari generasi ke generasi di dalam lingkaran keluarga, serta kepada individu di luar keluarga melalui pembagian kerja. Komunitas, kelompok, dan individu yang terlibat secara aktif terlibat dalam upaya pengamanan, misalnya melalui inisiatif pemasaran dan penerbitan buku tentang masalah tersebut. Kapal Pinisi seringkali dijumpai menjelajah Taman Nasional (TN) Komodo dan Raja Ampat. Desain tradisional dengan lantai kayu yang apik, interiornya terlihat modern elegan dan berkelas. Kapal Pinisi seolah menjadi kapal dambaan hampir setiap orang untuk menjajal pengalaman mengarungi laut yang tak terlupakan. Lebih dari sekedar belayar di 2 tempat wisata itu, Kapal Pinisi sudah melegenda. Sejak abad 15 lalu, kapal yang berasal dari suku Bugis dan suku Makassar sudah digunakan oleh masyarakat Indonesia. Ketangguhan kapal ini tak perlu dipertanyakan lagi. Kapal layar Pinisi diketahui pernah menaklukkan lima benua. Keganasan Samudera Pasifik, Vancouver di Kanada, Australia, Madagaskar hingga Jepang telah ditaklukkan oleh Kapal Pinisi. Kapal Pinisi lahir di daerah Bulukumba, Sulawesi Selatan. Salah satu tempat pembuatan kapal fenomenal ini ada di Tanjung Bira.

Baca Juga:   Wisata Religi Buntu Burake Tana Toraja Patung Yesus Tertinggi Didunia

Model Kapal Pinisi

Sejak dahulu hingga kini, orang Bulukumba terkenal memiliki kemampuan membuat Kapal Pinisi. Dengan tangan ajaibnya, mereka membuat Kapal Pinisi secara manual. Tak seperti pembuatan kapal pada umumnya, kabarnya mereka membuat kapal ini tanpa menggunakan gambar rancang bangunan. Proses pembuatannya pun tak bisa sembarangan. Mereka mempertahankan tradisi dalam pembuatan perahu tersebut. Dari proses memilih kayu sampai berlayar. Saat memilih kayu, mereka harus mengikuti hari baik yang ditetapkan yaitu pada hari ke-5 atau hari ke-7 di bulan tersebut. Penentuan hari ke-5 dan ke-7 mempunyai arti tersendiri. Angka lima melambangkan rezeki yang telah diraih, sedangkan angka tujuh melambangkan hoki atau akan mendapatkan rezeki. Kapal bersejarah ini menggunakan bahan baku kayu jenis Bitti yang dipadukan dengan kayu Ulin. Kapal dengan tinggi 2,5 meter dan panjang 15 meter ini mempunyai dua tiang layar utama dengan tujuh buah layar. Tiga layar dipasang di ujung depan, dua layar di bagian depan, dan dua layar lagi dipasang di bagian belakang perahu. Tujuh layar di Kapal Pinisi ini memiliki makna yang mendalam yaitu bahwa nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengarungi tujuh samudera di dunia. Kekuatan pelaut Indonesia disimbolkan oleh kapal ini.

Berapa Lama Pembuatan Kapal Pinisi?

Pembuatan sebuah perahu Pinisi memakan waktu tiga hingga enam bulan. Namun terkadang lebih lama, tergantung dari kesiapan bahan dan musim dan ukuran kapal. Biasanya untuk satu kapal Pinisi dikerjakan sekitar 5-10 orang. Masyarakat sekitar percaya jika perahu satu ini dikerjakan secara beramai-ramai atau banyak orang, akan mempengaruhi atau mengurangi nilai seni dari perahu itu. Setiap detailnya dikerjakan secara teliti untuk menghasilkan kapal yang tahan lama digunakan berlayar. Tak heran, Perahu Pinisi berukuran besar dengan tenaga mesin diesel dijual dengan harga yang fantastis, bisa mencapai Rp2 miliar. Nantinya, pembeli bisa menentukan model perahu beserta interior di dalamnya. Proses adat tak hanya sampai saat pemilihan kayu. Sebelum perahu Pinisi diluncurkan ke laut, mereka melaksanakan upacara Maccera Lopi dengan tujuan mensucikan perahu. Upacara ini ditandai dengan penyembelihan binatang.

Baca Juga:   Sejarah Monumen Perjuangan Bulu Ballea Malino Gowa

Kapal Pinisi Sudah Diakui Dunia

Uniknya pembuatan Kapal Pinisi di Bulukumba ini juga telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia sejak Desember 2017 lalu.Pembuatan kapal Pinisi tak hanya di Tanjung Bira saja, namun juga dilakukan di tempat lain seperti di pantai Lemo-lemo dan di Tana Beru. Kapal Pinisi tak hanya sekedar kapal pariwisata saja, namun kapal ini menjadi saksi sejarah, simbol kekuatan pelaut Indonesia dan juga sumber mencari nafkah warga Bulukumba.[]

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Lipsus

Blogarama - Blog Directory
To Top