Connect with us

Berakhir Pekan – 1001 Tempat Wisata Populer dan Viral Saat Ini

Langkanae, Rumah Adat Luwu Sulawesi Selatan

Sulsel

Langkanae, Rumah Adat Luwu Sulawesi Selatan

43 Total Pengunjung.

Luwu, Berakhirpekan.com – Langkanae secara mistik diturunkan dari boting langi (dunia langit) setelah baginda Batara Guru selama empat puluh hari empat puluh malam berada di bukit Pensemoni di tepi sungai Cerekang. Ibunya yang bernama Palinge’e sedih melihat anaknya diterpa angin, terkena matahari pada siang hari dan kedinginkan pada malam hari. Palinge’e mengusulkan kepada suaminya membuat sebuah istana yang bernama Langkanae yang disebut langakana lakko manurunge yang diturukan bersama dua istri beserta dayangdayang, kemudian dari bumi atau buru liu bawah muncul seorang putri bernama We Linyitimo yang menjadi permaisuri. We Linyitimo yang berarti tatapan dari timur sedangkan Tompoe Ri Busaempong artinya muncul di busa-busa ombak. Maka dari itu Batara Guru dari atas dan We Linyitimo dari bawah maka bertemu dan hidup di tengah.

Langkanae Rumah Adat Luwu

Bentuk dan makna simbolik rumah adat Langkanae

Rumah adat Langkanae terdiri atas tiga bagian, ada kolong (sullu), ale bola, dan palandoang/rakkeang (loteng). Bentuk rumah adat tradisional pada umumnya adalah rumah panggung yang merupakan simbol budaya masyarakat karena dianggap bahwa rumah panggung itu harus mempunyai tiang-tiang utama yang disebut pim posi’ atau (posi bola) yang merupakan kebudayaan Luwu dan setiap perbuatan yang kita lakukan harus mappisabbi’ (minta izin) pada pim posi’. Rumah adat Langkanae berbentuk persegi empat yang mempunyai empat unsur yaitu tanah, api, air dan angin yang dari keempat unsur ini harus seimbang tidak boleh saling terputus. Yang membuat Langkanae atau replika dari rumah Langkanae sekarang yang berada di Palopo adalah ahli khusus dari Wotu yang bernama Pua Uragi (ilmuan dari Wotu) Pua Uragi ini bisa berbicara dengan kayu. Sebelum masuk ke Langkanae akan dilewati gerbang yang bernama tabu-tabuang. Tabu-tabuang adalah pintu gerbang bersusun tiga tipe (timpa laja) ini bermakna jika bersusun tiga semua masyarakat yang berada di bumi ini boleh berkunjung di tempat itu. Jika raja membuat acara dan hanya membuat satu tabu-tabuang berarti hanya keluarga terdekat saja yang bisa menghadirinya dan jika dua yang bisa di hadiri oleh masyarakat luwu saja.

Orang yang bisa naik ke Langkanae hanya bangsawan pada jawan lalu. Timpa laja pada rumah adat langkanae Ketika berada di daerah atau halaman rumah adat Langkanae kita akan melihat ukiran kanji berada pada lesplan/pinggiran dari rumah. Ukiran kanji sama maknanya dengan simbol Luwu yang berada di logo Kedatuan Luwu. Heroklib dari Aksara Bugis, biasanya ada ditengahnya singkerru mulajaji. Singkerru mulajaji yaitu ikrar yang diucapkan oleh bayi sebelum di keluarkan dari rahim ibunya, dia berjanji kepada Tuhan-Nya jika dia sanggup maka dia akan hidup sampai hari tuanya dan jika tidak dia akan mati pada saat itu. Singkerru mulajaji adalah simbol yang tertinggi di Luwu. Makna singkerru mulajaji bermakna perjanjian antara Tuhan.

Ukiran kanji pada lesplan Langkanae Jepang mengklaim bahwa huruf kanji milik mereka, tetap nyatanya sebelum datangnya penjajahan Jepang, peti-peti orang tua kita dahulu tempat penyimpanan emas sudah terukir oleh huruf kanji. Perlu kita ketahui Jepang sering mengambil simbol yang terbaik diwilayah yang dijajah termasuk huruf kanji, pada waktu Jepang menjajah. Biasanya simbol singkerru mulajaji di ukir dipusaka, pintu dan lesplan. Pada simbol singkerru mulajaji ini tidak diukir pada rumah Langkanae disebabkan karena sukar dibuat, singkerru mulajaji dapat dilihat pada logo Kedatuan Luwu. Bala suji merupakan simbol Luwu, orang menyebutnya Sulapa’Eppa atau jasat dari keempat unsur (tanah, api, air, dan angin). Dan jika dibawa keaksara Lontara ini adalah huruf sa dan dalam aksara arab dia alif. Alif itu tidak ada yang membunuh, tidak ada yang membunuh huruf alif, menurut pemahaman orang Arab mengapa huruf alif tidak ada yang membunuh, Tuhan dalam bahasa Arab dimulai dari huruf alif, cuman jika kita salah memahami maka bisa saja huruf yang kita sembah bukan dzat-Nya. Itu hanya disimbolkan karena Allah sang pencipta tidak ada yang membunuh, karena Tuhan dalam bahasa Arab dimulai dari huruf alif maka alif tidak ada yang membunuh. Sedangkan aksara Lontara yang kita mensakralkan huruf sa, mengapa kita mensakralkan huruf sa ini sehingga kita membuat bala suji? karena itu merupakan simbol, karena bala suji diartikan sebagai pagar yang suci. Jika tuhan dalam bahasa Arab dimulai dari huruf alif, maka tuhan dalam aksara Lontara dimulai dari huruf sa (sheuwa) atau orang biasanya menyebutkan Dewata SeuwaE. Dari empat kibat yaitu Taurat, Zabur, Injil dan Al-Quran penyebutan tuhan berbeda-beda. Al-Quran dan injil mengatakan Allah, taurat dan zabur tidak mengatakan Allah tetap Zahwe. Tangga (sapana) merupakan simbol rumah adat, tangga tidak boleh genap harus ganjil yang bermakna hidup karena yang akan tinggal di rumah adalah mahluk hidup. Kita sekarang adalah ganjil karena yang genap itu adalah sempurna, manusia sempurna hanya jika mati/meninggal oleh sebab itu karena kita dalam kehidupan semua dibuat dalam keadaan ganjil karena kematian itu adalah genap artinya sempurna. Seperti halnya jika ada siang itu tidak sempuran jika tidak ada malam karena jika tidak ada duanya bukan lagi ciptaan jika sempurna dan yang sempurna itu hanya milik Allah.

Baca Juga:   13 Tongkonan Yang Jadi Destinasi Wisata Terkenal di Toraja

Setiap angka mempunyai makna masing-masing mulai angka 1-9. Dalam diri manusia ada delapan sisi yaitu depan, belakang, samping kanan, samping kiri, bawah dan atas, dimanakah kedua sisi lainnya? Didalam diri manusia yang paling menonjol adalah sisi depan dan belakang, Jika kita menguasai dari enam sisi maka akan muncullah sisi ketujuh dan kedelapan. Makna dari sisi depan bahwa setiap manusia harus maju dan mempunyai harapan sedangkan sisi belakang adalah sejarah karena jika kita buntu dalan satu ilmu maka kita harus melihat kembali pada sejarahnya. Pada sisi kanan dan kiri dalam agama diartikan sebagai amalan yang baik dan buruk yang yang selalu harus kita pertimbangkan untuk mencapai sisi depan. Sedangkan sisi bawah merupakan kita sebagai hamba dan sisi atas ada yang kita sembah jadi jangan lupa beribadah dan berdoa kepada-Nya.

Dan jika kita menguasai keenam itu dan ditarik kedalam sisi diri dan jika sudah dijiwai maka muncullah dalam tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang sudah memiliki sisi tersebut maka dia tidak akan sombong dan selalu tenang dalam jiwanya. Pada pemasangan posi bola/pim posi tidak sembarangan yang bisa mendirikannya. Tiang utama atau pim posi/sokoguru berada di ruangan depan. Setiap sesuatu harus mempunyai pusat, dalam diri manusia juga mempunya pusat dan disitulah semangatnya.

Seperti negara harus memiliki pusat, pusatnya itu ada disemangat hidup yang lain hanya mendukung, itulah yang dimaksud pusat kosmos. Tiang yang berdiri dianggap sebagai simbol laki-laki yang berarti perkasa. Tiang utama (Pim posi’/Posi bola) Di rakkeang atau biasa disebut loteng yang pada zaman dulu biasanya berisi padi, anak gadis dan kucing.

Padi dianggap manurung (mulia) dan anak gadis dianggap manurung karena merupakan embro kehidupan, orang dulu menyimbolkan bahwa perempuan bagaikan telur di ujung tanduk yang merupakan harapan masa depan dan dijaga dengan baik maka dari itu anak gadis disimpan di rakkeang/malige. Tetapi pada zaman sekarang jika dia tidak memiliki sekolah dan ilmu pengetahuan tidak ada harapan, baik dia laki-laki ataupun perempuan berbeda dengan dulu anak gadis merupakan harapan masa depan. Sedangkan Kucing adalah hewan yang dianggap manurung karena filosofnya orang bilang setelah menyeberang ke Sumatera dan Jawa, harimaunya itu kucingnya Sawerigading tetapi di Luwu kucing tidak boleh besar karena kucing tidak boleh memakan manusia karena kepunyaan Sawerigading.

Ruangan arajang pada rumah adat langkanae yang berada d Palopo saat ini hanyalah replika saja, ruang arajang ini berdekatan dengan kamar Raja sedangkan arajangnya sudah tempatkan di istana dan tidak dapat diambil gambarnya (difoto). Ruang Arajang pada Langkanae Arajang sesuatu yang disimbolkan dengan yang tidak nyata, tetapi nyatanya arajang itu jika ada raja, seperti halnya, apa yang membuktikan bahwa Allah itu ada, Jika kita menggunakan akal, tidak akan mungkin akal menemukannya. Dan Allah nyata karena ada manusia, karena jika tidak ada manusia tidak ada yang bisa membuktikan karena tidak ada yang menyembah maka nyatalah Dia karena ada sesuatu yang disembah. Inilah ada Arajang karena ada Raja.

Baca Juga:   Mengenal Ajaran Patuntung Kajang dan Kepemimpinan Ammatoa

Arajang merupakan benda kebesaran istana, di luwu ada beberapa arajang misalnya dokipokka merupakan arajang yang sumber kebesaran orang luwu yang setiap perbuatan manusia harus sembang antara baik dan tidak sehingga mencapai kemuliaan pada pola pikir. Labungawaru adalah atribut raja berupa besi kalewang yang ditemukan di pohon waru,sewaktu baginda batara guru berada dibukit pensemoni kemudan ada besi yang di temukan di pohon beringan. Laulabalu yaitu sebuah senjata berupa jelmaan ular hitam. Lakarurung jelmaan dari pohon kelapa yang jadi besi kemudian ada lamajekko dan subangnge yang semua tu merupakan benda kebesaran kerajaan tapi semua itu sudah tidak ada di istana.

Sonrong berfungsi sebagai tempat anak gadis dan tempat bermain, anak gadis disimbolkan bagaikan bunga yang tidak sembarang kumbang yang memetiknya. Baik agama maupun adat sangat mendahulukan anak gadis.

Bentuk rumah tradisional Langkanae Luwu

Konsep arsitektur rumah adat Luwu yang disebut dengan Langkanae ini serupa dengan konsep rumah Bugis pada umunya. Antara lain, yaitu: konsep bangunannya serta struktur dan sistem konstruksinya. Namun terdapat beberapa perbedaaan antara ragam hias dan ornamennya. Berdasarkan kosmologi bentuk rumah adat Langkanae Luwu tersusun dari tiga tingkatan yang berbentuk “segi empat”. Pandangan kosmologi orang Bugis ini dengan apa yang disebut konsep Sulappa’ Eppa’ Wala Suji’ (segi empat belah ketupat). Konsep ini merupakan filsafat tertinggi orang Bugis yang menjadi seluruh wujud kebudayaan dan sosialnnya. Wujud konsep ini dapat dilihat dalam bentuk manusia. Dibentuk dan dibangun mengikuti model kosmos menurut pandangan hidup mereka, anggapannya bahwa alam raya (makrokosmos) ini tersusun atas tiga tingkatan, yaitu alam atas, alam tengah dan alam bawah. Ketiga tingkatan tersebut yaitu alam/dunia atas (boting langi) disebut rakkeang (loteng). Alam/dunia tengah (ale bola) yaitu badan rumah, dan alam/dunia bawah (awa bola) yaitu kolong rumah yang biasanya digunakan untuk tempat peternakan.

Makna simbolik yang terdapat pada rumah tradisional Langkanae Luwu

Dalam diri manusia terdapat empat unsur yang dimilik yaitu tanah, api, air, dan angin. Tanah diartikan dengan kesabaran, api diartikan sebagai amarah, air diartikan sebagai kekuatan sedangkan angin diartikan sebagai serakah. Dalam keempat unsur ini harus dapat diseimbangkan, karena dari keempat unsur ini saling berlomba-lomba agar untuk menjadi unggul makanya dalam diri manusia harus dapat menyeimbangkan dari keempat unsur ini. Sedangkan rumah panggung dibagi atas tiga bagian yaitu, kolong/bawah rumah, ale bola’, dan rakkeang. Pada kolong/bawah rumah, digunakan untuk tempat beristrahat. Ale bola’ tempat disimbolkan dengan dunia tengah. Ruangan ini digunakan untuk tempat tinggal yang terdiri dari beberapa petak. Yang di dalam ruangna ini ada ruangan raja dan permasuri, ruangan tempat penyimpanan benda pusaka dan ruangan pejabat. Kemudian pada rakkeang yang disimbolkan dengan dunia atas (boting langi’). Pada zaman lalu digunakan untuk tempat penyimpanan padi, anak gadis dan kucing. Ukiran kanji merupakan ornamen yang sangat mempunyai makna yang tinggi. Ukiran kanji sama maknanya dengan singkerru mulajaji’ yang melambangkan rahasia takdir yang diemban manurungnge atas amanah Tuhan Yang Maha Kuasa, bermakna pengenalan (pappejeppu) terhadap sifat keabadian Tuhan Yang Maha Kuasa yakin “bil awwalina wal akhiriin” (Dia yang awal dan Dia yang akhir) beserta dengan rahasia takdir yang ditentukan-Nya sendiri dengan tiada sekutu bagi-Nya. Bala suji’ merupakan simbol Luwu, orang menyebutnya sulapa’ eppa’ atau jasat dari keempat unsur (tanah, api, air, dan angin). Bala suji diartikan sebagai pagar yang suci. Bala suji’ berbentuk belah ketupat yang dihubungkan dengan huruf sa pada aksara Lontara, karena huruf sa pada aksara Lontara sangat disakralkan maka bentuk baja suji’ seperti huruf sa. Tangga biasa disebut sapana, jumlah tangga pada Langkanae adalah 25. Tangga (sapana) merupakan simbol rumah adat, tangga tidak boleh genap harus ganjil yang bermakna hidup karena yang akan tinggal di rumah adalah mahluk hidup. Setelah kita melewati tangga kita akan berada di lego-lego yang merupakan teras. Ketika pada zaman dulu Raja membuat acara untuk umum, orang yang berada di lego-lego hanya rakyat biasa. Jumlah tiang pada Langkanae menghampiri 100, karena pada jaman dulu orang berusaha membuat rumah sebesar mungkin, karena tiang menjadi sumber kekuasaan, jika tiangnya besar, maka besar juga kekuasaaannya/kekuatan. Sedangkan pada pim posi’/posi bola’ atau disebut dengan tiang utama/sokoguru. Luwu harus mempunyai pim posi yang menghubungkan antara tanah karena kita bersumber dari tanah yang menghubungkan dengan orang yang ada di atas. Pada pemasangan posi bola’ tidak sembarangan yang bisa mendirikannya harus orang ahli dalam pendirian posi bola’.

Baca Juga:   Harga Penginapan Murah di Malino Terbaru Paling Populer

Sonrong adalah tempat para gadis bangsawan untuk luluran. Anak gadis disimbolkan dengan bunga, yang diartikan sebagai bunga di taman yang tidak sembarang kumbang yang mendekatnya. Disamping sonrong ada kamar pejabat yang pada zaman dulu kamar ini digunakan para pejabat kerajaan atau Opu Cenning(wakil Datu’) pada Langkanae sekarang kamar ini biasanya digunakan tempat istirahat dan tempat kerja bawahan Datu’.

Arajang atau regalia merupakan benda pusaka Kerajaan Luwu yang sangat bermakna, sebab raja Luwu memerintah atas nama arajang atau regalia. Hampir semua orang Luwu mengenal adanya arajang, walaupun pemahaman setiap orang terhadap objek (arajang) tersebut berbeda-beda. Selain itu arajang merupakan benda keramat atau simbol kekuasaan Kerajaan Luwu pada masa lampau yang biasanya berupa benda-benda berupa parang dan semacamnya. Benda-benda kerajaan tersebut dikenal dengan beberapa nama, yakni ada yang dikenal dengan Labungawaru, Labarana, Lakarurung, dan Lamajekkoe. Pada saat ini benda tersebut disimpan dengan rapi di dalam istana Kerajaan Luwu. Bahkan disimpan dalam kamar khusus dan sebagai benda keramat yang harus dihormati.

Arajang bagi masyarakat Luwu dimaknai sebagai benda yang mempunyai kekuatan sakti. Pemahaman masyarakat tentang arajang sangat terkait dengan adanya mitos tentang Tomanurung, atau dewa yang turun dari langit beserta perangkatnya yaitu arajang. Arajang dianggap sebagai benda yang sangat sakral, sehingga menjadi simbol kekuasaan Kerajaan Luwu pada masa dahulu sampai saat ini. Arajang masih dihargai sebagai warisan Kerajaan Luwu yang tidak dapat berubah atau hilang begitu saja identitas kebangsawanannya dibandingkan darah kebangsawanan.

Untuk menjaga agar arajang tetap menjadi simbol kekuasaan datu Luwu pada masa dahulu dan sebagai identitas orang Luwu masa sekarang, maka arajang tetap dijaga dan dipelihara, bahkan di tempatkan di tempat terhormat di dalam istana yang disebut dengan palakka artinya ditinggikan, bahkan dikeramatkan. Selain itu diberi kelambu berwarna kuning dan tidak dapat diambil gambarnya oleh siapapun. Apabila arajang berserta tempatnya diambil gambarnya (difoto), maka akan ada bencana yang menimpa bagi si pengambil gambar atau bagi si penjaga arajang. Hal tersebut dipercaya oleh si penjaga arajang. Begitu tingginya nilai arajang bagi masyarakat Luwu, sehingga tidak dibolehkan untuk mengambil gambarnya atau didokumentasikan. Padahal arajang hanya sebuah pedang yang lengkap dengan tempatnya dengan panjang sekitar 75 cm.

Pada rumah adat Langkanae Luwu memilik tingkatan kasta atau derajat berdasarkan timpa laja’ yaitu:

  1. Timpa laja bersusun satuu berarti rumah untuk rakyat biasa
  2. Timpa laja bersusun dua berarti rumah untuk bangsawan dan sejajarnya
  3. Timpa laja bersusun tiga dan empat berarti rumah untuk bekas raja
  4. Timpa laja bersusun lima berarti rumah untuk raja yang berkuasa

Timpa laja’ pada Langkane Luwu yang berada di Palopo bersusun lima berbeda dengan rumah Langkanae yang berada di Benteng Somba Opu yang timpa lajanya hanya tiga. Timpa laja’ juga berada pada tabutabuang yaitu pintu gerbang Langkanae digunakan untuk menjemput tamu. Di tabutabuang kita dapat melihat kolong rumah yang disimbolkan sebagai dunia bawah atau biasa disebut awa bola’. Pada umumnya digunakan untuk tempat peternakan, tempat penyimpanan peralatan berkebun dan tempat istirahat. Ponrang-ponrang pada langkanae sebagai hiasan saja, ponrang-ponrang ini diletakkan dipinggiran-pinggiran/ujung pada atap rumah. Hiasan ini diukir seperti ponrang atau nanas.[bp]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Sulsel

Blogarama - Blog Directory
To Top