Connect with us

Leang Passea Bulukumba, Tersimpan Erong atau Keranda Mayat Yang Mirip di Toraja

Sulsel

Leang Passea Bulukumba, Tersimpan Erong atau Keranda Mayat Yang Mirip di Toraja

187 Total Pengunjung.

Bulukumba, BerakhirPekan.com – Gua Passea ialah suatu situs purbakala yang terdapat di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Situs ini diyakini sudah ditempati oleh manusia semenjak abad ke- 8 saat sebelum masehi. Di posisi bertipe horizontal ini banyak ditemui aset yang berusia ratusan tahun. Nama Passea mempunyai makna penderitaan. Penamaan kawasan ini diambil dari bahasa setempat ialah bahasa wilayah Ara khas Bontotiro. Diberi nama demikian sebab kawasan ini ialah tempat pemakaman manusia purba. Kekayaan aset prasejarah di dalam gua ini buatnya jadi suatu situs purbakala.

Bila mangulas Gua ataupun leang Passea, tidak terlepas dari cerita- cerita rakyat yang masih teringat serta membekas di dalam benak warga dekat terpaut dengan insiden ataupun peristiwa yang terjalin di masanya. Cerita rakyat kali ini dinaikan dari cerita suatu Gua tua yang terletak di dekat tepi laut Ara, yang diketahui selaku gua Leang Passea. Leang Passea berasal dari kata‘ Liang=Lubang’ serta“ Passea=Pedis”, sebagian literature mengartikan gua ini selaku tempat orang bersedih. Gua ini ialah salah satu Gua yang konon digunakan warga setempat buat persembunyian para penduduk di era koloneal yang bersumber pada sejarah terjalin di masa pengaruh Portugis di Indonesia, dimana orang Portugis memperalat suku Mengerikan selaku pasukan pembunuh yang tidak bermoral. Akibat kekejaman suku Mengerikan, orang- orang yang terletak di dekat Kerajaan Tiro sangat khawatir pada suku Mengerikan serta dijadikanlah leang tersebut selaku tempat proteksi. Tidak hanya itu, gua ini pula biasa digunakan selaku tempat persebunyian dalam menjauhi bangsa cannibal yang dipercaya ialah bangsa yang berasal dari wilayah timur Indonesia.

Sepanjang bertahun- tahun tempat ini ialah rumah untuk mereka yang mau menjauhi bahaya sebab tidak hanya tempatnya yang nyaman serta tidak gampang terjangkau, tempat ini pula sangat jauh dari pemukiman sehingga mereka bisa menjauhi marabahaya. Malang tidak bisa di tolak, walaupun dirasa ialah tempat persembunyian yang nyaman, tidak menutup mungkin para cannibal bisa menciptakan mereka. Konon mereka yang ditemukan lagi bersembunyi di gua tersebut hendak langsung jadi santapan para cannibal yang memburu mereka. Di dalam gua passea ada 3 buah peti mati yang dibuat dari kayu dengan panjang peti mati dekat 2 m serta lebar dekat 0, 5 m serta tergeletak begitu saja di lantai gua dengan kerangka manusia yang telah cerai berai, tadinya Peti mati tersebut jumlahnya puluhan serta bergantung di langit- langit gua, tetapi gua Passea tidak luput dari pengerusakan banyak situs- situs di sulawesi oleh gerombolan DI/ TII pada tahun 1960- an. Tidak hanya itu, peti mati ini jumlahnya tersisa 3 buah sebab orang- orang yang tidak bertanggung jawab menjualnya kepada kolektor benda- benda prasejarah, dari salah satu situs berkata bila peti mati ini di jual kepada masyarakat asing yang berkunjung ke Bulukumba. Tidak hanya itu kita hendak menciptakan pecahan gerabah serta penggalian yang tersebar nyaris di tiap sudut gua.

Baca Juga:   Mendaki Gunung Bulu Saukang, Gunung Terdekat dari Kota Makassar

Leang Passea dapat dikatakan selaku tinggal sekalian makam untuk mereka yang menghuni gua tersebut, perihal ini bisa dikenal dari banyaknya tulang belulang yang diketemukan digua tersebut. Tidak hanya itu pula di gua tersebut ditemui suatu sampan yang tidak dikenal siapa owner serta gimana dapat terletak di dalam gua tersebut, sebab kenyataannya kalau digua tersebut tidak ada air ataupun kolam, tidak hanya itu pula posisi tersebut cukup jauh dari pesisir tepi laut jadi kecil mungkin yang mencuat apabila sampan tersebut terseret arus ataupun dijadikan selaku perlengkapan transportasi di masa itu.

Leang Passea di Kampung Ara, Kabupaten Bulukumba, merupakan salah satu situs pekuburan kuno di Sulawesi. Di dalamnya, peti- peti mati yang dulu bergantung di bilik gua, saat ini berantakan tidak karuan bercampur tulang- belulang serta pecahan keramik kuno. Gua Passea dalam kamus speleologi dikategorikan selaku gua vertikal, yang berarti mulut gua pas terletak di permukaan tanah. Sebab itu, menciptakan gua ini gampang- gampang sulit karena mulut gua tidak nampak. Untuk yang sudah terbiasa mengarah ke situ, rimbunan kayu bitti yang nampak mencolok dari hamparan kerumunan resam, jadi penuntun natural. Karena, tumbuhan besar itu pas berkembang di mulut gua.

Gua itu jadi begitu menarik untuk para periset, karena tidak hanya mengambarkan karakterisitik gua tepi laut yang sangat tidak sering ditemui, perut Gua Passea pula menaruh teka- teki kebudayaan orang- orang Ara di masa kemudian. Di dalam gua, sehabis menuruni tangga natural sedalam 5 m, terbentanglah dunia lain– dunia dasar tanah, sekalian dunia mitis orang- orang Ara. Betapa tidak, di antara kerlip stalagtit serta stalagmit, jejeran peti- peti mati dan tulang- belulang yang bercampur- baur dengan pecahan keramik kuno terhampar begitu saja di lantai gua.

Baca Juga:   Taman Holyland Malino: Wisata Religi Bernuansa Holyland Israel

Nama Passea sendiri berarti kepiluan, bisa jadi merujuk pada istana orang- orang mati. 2 tahun kemudian, kala aku awal kali ke gua ini, kondisinya bukanlah seseram serta separah itu. Permukaaan gua yang dahulunya apik, saat ini telah terbongkar serta teraduk di sana- sini. Konon banyak paccucuk( para pencari keramik kuno) yang memecahkan permukaan lantai gua buat mencari saladong( keramik kuno, Celadon) yang bisa jadi masih tersimpan. Tutup peti mati yang berupa perahu dengan ukiran yang indah itu juga telah banyak yang lenyap, konon diperjualbelikan buat suvenir untuk para turis yang berkunjung ke Ara kala memesan perahu. Sebab itu, aku juga jadi mengerti kenapa jumlah peti kubur dikala ini tinggal 3 buah, seluruhnya dalam kondisi rusak parah.

Diprediksi, tidak hanya akibat perbuatan paccucuk, hancurnya situs penguburan kuno di Ara tidak telepas dari cerita DI/ TII Kahar Muzakkar yang meluas ke wilayah Ara pada dini tahun 1960- an. Abdul Hakim, yang di tuakan di Kampung Ara, menuturkan, Dahulu peti- peti itu digantung di bilik gua. Tetapi mereka putuskan talinya. Banyak yang rusak. Serta warga dilarang lagi baca- baca ke situ. Instan semenjak dikala itu, apalagi hingga dikala ini, keberadaan Leang Passea serta seluruh fakta sejarah yang terdapat di dalamnya, cuma dikenal oleh segelintir orang tua serta para paccucuk saja.

Keberadaan peti kubur di gua itu memenuhi sejarah budaya Ara yang panjang. Dia menebak sejarah nenek moyang mereka berasal dari gua tersebut. Tetapi untuk para pakar arkeologi, keberadaan peti kubur itu membuka tabir yang lebih luas lagi, ialah sejarah kebudayaan orang- orang Sulawesi Selatan dini. Alasannya, jejak tradisi penguburan dalam gua biasanya ditemui di kampung- kampung yang mempunyai banyak mitologi pra- Islam. Mitologi ini kental dengan sisa- sisa aplikasi kebudayaan orang- orang Austronesia yang dipercaya sempat melaksanakan migrasi dari daratan Asia pada 3000 tahun yang kemudian.

Baca Juga:   Kejurda Drag Bike Seri II 2019 Bupati Cup Beruang Madu Kabupaten Bone

Tetapi fakta buat mengaitkan tradisi penguburan di Passea dengan wujud penguburan seragam semacam di Tana Toraja, Kalumpang serta Malili, masih membutuhkan riset lebih dalam. Tidak hanya itu, tidak terdapat pula yang ketahui tentu, kapan tradisi penguburan dalam gua tersebut terhenti. Bisa jadi kala masuknya agama Islam yang disebarkan oleh Datok Tiro pada abad ke- 17. Komentar itu bisa jadi terdapat benarnya, karena jarak antara Kampung Ara serta Kampung Tiro– tempat Datok Tiro meningkatkan syiar Islam– bukanlah sangat jauh.[bp]

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Sulsel

To Top