Connect with us

Makam La Tenri Ruwa Raja Bone Ke-11 Yang Meninggal di Bantaeng

Sulsel

Makam La Tenri Ruwa Raja Bone Ke-11 Yang Meninggal di Bantaeng

405 Total Pengunjung.

Bantaeng, Berakhirpekan.com – Makam La Tenri Ruwa merupakan kompleks makam peninggalan sejarah yang terletak di Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng. Nama makam tersebut diambil dari nama salah seorang raja Kesultanan Bone yang pertama memeluk agama Islam yang meninggal dunia di daerah Bantaeng dalam penyebaran agama Islam di daerah tersebut. Menurut tradisi lisan mengatakan bahwa raja Kerajaan Bantaeng yang pertama kali menerima Islam ialah raja Bantaeng ke-7, Karaeng Majjombea. Makamnya diyakini ada dalam situs tersebut, namun tidak diketahui yang mana makamnya. Hampir semua makam tidak diketahui siapa yang dimakamkan dan kapan waktu wafatnya, karena tidak ada inskripsi yang menyebutkan tentang hal tersebut. Hal ini berhubungan dengan kebiasaan masyarakat suku Bugis dan suku Makassar untuk tidak menuliskan nama orang mati di makamnya, kecuali inskripsi yang berisi doa dan nama Allah dan Muhammad. Jumlah makam keseluruhan yaitu sebanyak 154 buah, sedang yang lainnya termasuk makam baru.

Ada lima tipe jirat makam pada situs tersebut yaitu, tipe makam cungkup punden berundak sebanyak 2 buah, tipe makam cungkup rumah tradisional sebanyak 2 buah, tipe makam teras berundak sebanyak 109 buah, tipe makam peti batu sebanyak 20 buah, dan tipe jirat gundukan tanah atau batu sebanyak 11 buah. Pada situs Kompleks Makam La Tenri Ruwa juga terdapat beberapa makam yang tidak memiliki nisan, ada yang menggunakan nisan satu buah dan ada yang dua buah. Secara keseluruhan jumlah nisan adalah 174 buah (154 Makam Lama). Adapun bentuk-bentuk ragam hias nisan dan jirat yang terdapat pada makam tersebut adalah motif ragam hias suluran daun, bunga, geometri dan kaligrafi. Pada umumnya hiasan garis ini, dinyatakan dalam bentuk bingkai, garis-garis horizontal yang berfungsi sebagai pembatas antara bidang yang satu dengan bidang yang lainnya.

Makam Latenri Ruwa Raja Bone Ke-11 Yang Meninggal di Bantaeng

Penyebab La Tenri Ruwa Tinggal dan meninggal di Bantaeng

 

Barangkali, ini salah satu dari banyak bukti bahwa di masa lalu Nusantara, demokrasi telah lama hidup. Mulai dari bunyi pepatah,” Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah”, sampai gerakan rakyat untuk mendongkel kekuasaan sang raja. Tentu saja, tak harus karena raja lalim. Cukup karena ia berbeda dengan sebagian (besar) kehendak rakyat. Misalnya yang terjadi pada Kerajaan Bone, Sulawesi, di abad 17. Karena menerima agama Islam, ia digulingkan. Raja tersebut bernama La Tenri Ruwa, yang naik tahta sebagai Raja Bone XI pada 1611, menggantikan sepupunya, We Tenri Patuppu Matinroe ri Sidenreng. Ketika We Tenri Patuppu meninggal, orang Bone sepakat mengangkat La Tenri Ruwa menjadi raja di Bone. Dalam “Lontara Akkarungeng ri Bone” disebutkan bahwa La Tenri Ruwa menikah dengan sepupunya We Baji atau We Dangke Lebae Datu Mario Riwawo. Dari pernikahannya itu lahirlah We Tenri Sui. We Tenri Sui menikah dengan To Lempe Arung Patojo, saudara kandung Datu Soppeng Beowe. La Tenri Ruwa tampaknya hingga kini menjadi raja Bone dengan masa pemerintahan yang paling singkat, hanya tiga bulan, sebelum dilengserkan Dewan Adat Pitu Kerajaan Bone. Pasalnya, segera setelah La Tenri Ruwa memangku jabatan sebagai raja Bone, datanglah raja Gowa membawa Islam ke Bone. Sebagaimana kita tahu, di kawasan itu saat itu Gowa adalah kerajaan besar, dan –kemungkinan—Bone adalah kerajaan vasal dari Gowa.

Baca Juga:   Inilah 12 Mall Yang Ada di Kota Makassar dan Sekitarnya

 

Pada mulanya Penguasa Kerajaan Gowa meminta kepada Raja Bone La Tenri Ruwa menerima agama Islam sebagai agama resmi di Kerajaan Bone. Pesan Raja Bone yang disampaikan para duta mereka kepada La Tenri Ruwa tampak sebagai sebuah tawaran. ”Menurutku Islam adalah kebaikan dan dapat mendatangkan cahaya terang bagi kita. Oleh karena itu saya berpegang pada agama Nabi. Kalau engkau menerima pendapatku, maka Bone dan Gowa akan menjadi besar untuk bersembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

 

Karena hal itu menyangkut rakyat Banyak, La Tenri Ruwa merasa perlu terlebih dahulu menyampaikan hal itu kepada Dewan Adat Pitu Kerajaan Bone. Konon, saat itu La Tenri Ruwa berkata kepada orang-orang Bone,”Kalian telah mengangkat saya menjadi raja agar membawa Bone kepada jalan yang baik. Raja Gowa datang membawa Agama Islam, yang menurutnya adalah kebaikan yang harus disebarkan. Sesuai dengan perjanjian kita sejak dulu, siapa yang mendapatkan kebaikan, dialah yang berkewajiban menunjukkan jalan.  Karena itu saya mengajak kalian untuk menerima Islam.” Tetapi Dewan Adat Pitu menolak ajakan Kerajaan Gowa yang disampaikan melalui raja mereka itu. “Lontara Akkarungeng ri Bone” juga menceritakan penolakan rakyat Bone tersebut. Merasa tak ada gunanya berahasia, La Tenri Ruwa membuka masalah itu kepada rakyatnya. “Kalau kalian tidak menerima baik maksud Raja Gowa, padahal dia benar, dia pasti akan terus memerangi kita. Kalau kita kalah, berarti kita menjadi hamba buat mereka. Tetapi kalau kalian menerima dengan baik, kita dijanjikan berdamai. Namun kalau kita mau melawan, itu pun wajar. Jangan kalian menyangka bahwa saya jeri untuk melawan. Ketika semua orang Bone menolak Islam, La Tenri Ruwa hanya diam. Ia mengerti mengapa rakyatnya menolak. Mereka umummya berpendapat, Gowa mengajak masuk Islam hanya karena akal-akalan supaya kerajaan besar itu bisa mendominasi kekuasaan di Sulawesi.

Baca Juga:   Karaeng Tumapa’risik Kallonna, Pelopor Kejayaan Kerajaan Gowa

Kronologi La Tenri Ruwa Mengungsi Ke Bantaeng

 

La Tenri Ruwa kemudian memilih mengungsi ke Pattiro. Masyarakat Pattiro sendiri kemudian juga menolak untuk memeluk Islam. Tak lama setelah pengungsian, datang utusan Dewan Adat Pitu Bone, isinya memberitahukan bahwa dirinya dilengserkan sebagai raja Bone karena dianggap melalaikan tugas sebagai seorang raja. Ketika kabar tersebut sampai kepada Raja Gowa, ia sangat marah. Baginya perlakuan Dewan Adat Pitue Bone yang melengserkan seorang raja hanya karena menerima agama Islam, sangatlah berlebihan. Ia mengutus orang menemui La Tenri Ruwa, mengundangnya bertemu di Pallette. Di sinilah keduanya, Raja Gowa Sultan Alauddin dan La Tenri Ruwa bertemu. Sultan Alauddin meminta La Tenri Ruwa menyebut wilayah yang dikuasainya, setelah itu ia diminta mengucapkan dua Kalimat Syahadat. Hanya berselang hari, mulailah Gowa melakukan invasi ke Bone secara massif, tak kenal henti. Peperangan ini kemudian dikenal sebagai Musu Assellengeng atau Perang Pengislaman.

Sementara Bone menjadi medan perang, La Tenri Ruwa mengungsi ke Makassar dan tinggal bersama Datu Ri Bandang untuk memperdalam Islam. Di sana ia diberi gelar dengan sebutan Sultan Adam. Setelah sekian lama tinggal di Makassar La Tenri Ruwa memutuskan berangkat ke Bantaeng untuk menyebarkan Agama Islam. Di sana ia menghembuskan napas terakhir pada 28 Oktober 1631.

La Tenri Ruwa Diangkat Menjadi Raja Bantaeng Ke-14

 

Salah satu legenda yang dikenang di Bantaeng adalah Latenri Ruwa, raja Bone yang memilih tinggal di Bantaeng setelah merasa terkucilkan di tanah kelahirannya. Namanya bahkan dipatenkan di salah satu pekuburan raja-raja Bantaeng. Sebuah papan nama berdiri di kompleks pemakaman di Keluarahan Pallantikang, Kecamatan Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan. Pekuburan ini berbeda dengan kompleks pemakaman lainnya di daerah yang berada 130 kilometer dari Kota Makassar. Taman Purbakala Kompleks Makam Latenri Ruwa dan Makam Raja-raja Bantaeng demikian tertulis pada papan nama tersebut. Kompleks makam ini menjadi tempat peristirahatan kebanyakan raja-raja Bantaeng. Uniknya nama Latenri Ruwa, sang raja dari Kerajaan Bone seakan menjadi tokoh sentral di pekuburan tersebut. Pada hal bukan hanya Latenri Ruwa yang dimakamkan di tempat tersebut, bukan juga yang pertama di makamkan di tempat tersebut. Latenri Ruwa adalah raja Bone yang ke 11 yang memilih tinggal di Bantaeng setelah diusir dari kerajaannya karena memeluk agama Islam. Sekadar diketahui Bone merupakan kerajaan yang cukup besar di zamannya di Sulsel berdampingan dengan Kerajaan Gowa. Latenri Ruwa dikenal sebagai salah satu murid terbaik Dato ri Bandang. Dia adalah raja Bone pertama yang menerima ajakan Raja Gowa ke 14, Imangerangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin, untuk mempelajari Islam.

Baca Juga:   Benteng Rotterdam Makassar-Wisata Budaya Indonesia

Namun keputusan Latenri Ruwa mempelajari dan memeluk Islam ternyata tidak mendapat persetujuan dari anggota adat “Arung Puti” kerajaan Bone. Atas keputusan belajar dan memeluk Islam itulah yang mengakibatkan Latenri Ruwa ditolak di kerajaannya saat kembali. Saat ditolak itulah, Latenri Ruwa memilih tinggal di Bantaeng dan mengajarkan Islam di tempat ini. Latenri Ruwa akhirnya memutuskan untuk tinggal di Bantaeng sambil menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di daerah yang pernah disinggahi laskar Majapahit dibawa pimpinan Patih Gaja Madah itu. Latenri Ruwa akhirnya menjadi salah satu dari empat legenda penyebar islam di Bantaeng. Kepemimpinan Latenri Ruwa tidak berakhir setelah meninggalkan kerajaan Bone. Bermaksud tinggal di Bantaeng, Latenri Ruwa akhirnya kembali diangkat menjadi raja di Bantaeng dengan gelar kebangsawanan Bantaeng, Massangkirang Daeng Mamangung Karaeng Majjombea Matinroa Rijalanjang.

Latenri Ruwa dalam sejarah kerajaan Bantaeng dikenal sebagai raja ke 14 Bantaeng, yang memerintah sejak tahun 1590 hingga 1620. Latenri Ruwa kini menjadi salah satu legenda yang dikenal di Bantaeng. Tidak heran jika namanya menjadi maskot di pekubaran para bangsawan tersebut.

La tenri Ruwa Salah Satu Tokoh Penyebar Islam di Bantaeng

Latenri Ruwa hingga saat ini masih dikenal dan dikenang sebagai salah satu tokoh penyebar Islam di Bantaeng bersama Syeh Abdul Gani, yang namanya diabadikan menjadi nama masjid terbesar di Bantaeng. Penulis yang coba menelusuri jejak keluarga atau keturunan Latenri Ruwa tak berhasil menemukannya. Dia diperkirakan tidak memiliki keturunan Bantaeng. Pasalanya pasca pemerintahannya bukan dari garis keturunan Latenri Ruwa yang memegang pucuk pimpinan kerajaan melainkan orang Bantaeng asli.[bp]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Sulsel

To Top