Connect with us

Mantunu Tedong | Ma’tinggoro Tedong | Potong Kerbau Khas Toraja

Toraja

Mantunu Tedong | Ma’tinggoro Tedong | Potong Kerbau Khas Toraja

74 Total Pengunjung.

Mantunu Tedong – Mantunu Tedong adalah suatu tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh masyarakat adat Toraja pada umumnya, hingga saat ini. Istilah Mantunu Tedong. berasal dari dua suku kata dalam tata bahasa daerah Toraja yakni Mantunu berarti memotong, atau mengorbankan. Dalam hal ini memotong (menyembelih) atau mengorbankan kerbau. Dan kata Tedong berarti kerbau. Maka secara harafiah Mantunu Tedong berarti memotong (menyembelih) kerbau. Mantunu Tedong sendiri adalah merupakan bagian dari rangkaian upacara adat kematian dan pemakaman masyarakat Toraja yang biasa dikenal dengan istilah Aluk Rambu Solo’.

Secara harafiah, upacara adat kematian dan pemakaman di Tana Toraja oleh masyarakat Toraja disebut dengan aluk rambu Solo’, terdiri atas tiga kata, yakni Aluk berarti keyakinan atau aturan, rambu berarti asap atau sinar dan Solo’ („ = k, kata aksen dalam bahasa Toraja) berarti turun. Berdasarkan makna itu, maka pengertian Aluk Rambu Solo’ adalah upacara yang dilaksanakan pada waktu sinar matahari mulai terbenam atau turun. Secara leksikal, Aluk Rambu Solo’ atau Aluk Rampe Matampu’, adalah upacara pemujaan dengan kurban persembahan berupa hewan yang dilakukan pada bagian barat dari rumah atau Tongkonan yang pelaksanaannya waktu matahari mulai terbenam. Istilah itu juga oleh Tangdilintin, dimaknai sebagai upacara kematian atau pemakaman manusia2. Korban persembahan berupa hewan yang dimaksud adalah pemotongan kerbau, dan yang dikenal dengan istilah Mantunu Tedong.

Dahulu pelaksanaan Mantunu Tedong dalam ritual Rambu Solo’ dilakukan oleh orang-orang Toraja berdasarkan strata sosialnya pembagian kasta. Pertama “bangsawan tinggi” Tana’ Bulaan mempunya kewajiban memotong paling sedikit 24 ekor kerbau. Kedua kasta “bangsawan menengah” atau Tana’ Bassi minimal 6 ekor. Ketiga kasta “orang merdeka” atau Tana’ Karurang paling sedikit 2 ekor. Keempat “kasta hamba sahaya” atau Tana’ Kua-kua cukup memotong seekor babi betina saja atau dako, sehingga tradisi ini strata sosialnya dibedakan menurut jumlah.

Baca Juga:   Catat!!!! Ini Jadwal Ritual Adat Rambu Solo’ Toraja Terbaru Juni-Juli 2021

Alasan mendasar mengapa orang Toraja harus melakukan Mantunu Tedong (pemotongan kerbau) dalam upacara Rambu Solo’, karena orang Toraja begitu menghargai arwah para leluhur atau mereka yang telah lebih dahulu meninggal4. Pada poin inilah orang Toraja memiliki semacam keharusan untuk melakukan Mantunu Tedong (pemotongan kerbau) sebagai bentuk pemujaan tetapi juga sebagai bentuk penghargaan. Selain itu, kerbau menurut falsafah orang Toraja adalah hewan yang memiliki peranan penting. Kerbau adalah patokan penilaian harga suatu jasa atau barang tertentu. Bagi orang Toraja, kerbau adalah mata uang yang tidak pernah mengalami penurunan nilai. Kerbau menjadi sangat penting dalam upacara kematian karena adanya mitos bahwa kerbau adalah “jembatan” arwah yang meninggal menuju alam baka atau Puya. Jalan penghubung antara alam fana dan alam baka hanya bisa ditempuh dengan menunggang kerbau. Kemegahan upacara kematian seseorang dinilai dari jumlah kerbau yang disembelih selama upacara pemakaman berlangsung.

Pada masa kini tradisi upacara ini dilakukan dengan tidak lagi mengikuti aturan- aturan yang berlaku pada masa lalu. Karena semakin tinggi strata sosial seseorang tidak dilihat dari pembagian yang dilakukan di masa lalu, tetapi strata sosial diukur dari semakin banyak kerbau yang disembelih (Mantunu Tedong). Perkembangan zaman saat ini kemudian menitik beratkan arti strata sosial terutama pada kondisi ekonomi keluarga, sehingga strata sosial sudah tidak bersifat tetap dalam melakukan tradisi ini. Karena siapapun dapat berusaha dan mampu memperbaiki kondisi ekonomi keluarga maka secara otomatis dapat menyumbangkan kerbau yang banyak dalam pelaksanan Mantunu Tedong (penyembelihan). Kerbau inilah yang menjadi masalah saat ini sebab terbukti bahkan untuk berusaha melakukan tradisi ini mereka harus berhutang (pinjam), karena keadaan sudah mendesak. Mereka biasanya akan meminjam dari kerabat dekat atau teman-teman dekat, dengan persetujuan-persetujuan tertentu. Padahal orang Toraja pada umumnya juga memelihara kerbau dan babi guna menyanggupi kewajiban adat-istidat setempat. Akibat dari gengsi telah mewajibkan” mereka untuk wajib melakukan tradisi ini dengan konsekuensi berhutang jangka panjang karena hutang ini dapat dibebankan kepada keturunan berikutnya dari hutang yang berasal dari prosesi Mantunu Tedong yang telah dilakukan di masa lalu. Prosesi ini kemudian cenderung memperlihatkan motif lain selain menjalankan tradisi adat. Motif yang dimaksudkan adalah ingin menunjukkan kemampuan ekonomi keluarga besar sebagai gengsi antara satu sama lain dalam menjalankan tradisi tersebut saat ini.

Baca Juga:   13 Tongkonan Yang Jadi Destinasi Wisata Terkenal di Toraja

Konsekuensi dari tradisi ini yang di dasarkan atas gengsi tersebut memunculkan pertanyaan penting terhadap persoalan makna (prosesi mantunu tedong) terutama bagi keluarga-keluarga yang berkewajiban melakukan prosesi tersebut saat ini. Alasannya karena Orang Toraja zaman dahulu, ketika melakukan Rambu Solo’ dan khususnya prosesi Mantunu Tedong selalu didasarkan pada ketulusan dan pencapaian tuntutan religi yaitu penghormatan kepada para dewa dan arwah para leluhur (orang yang terlebih dahulu meninggal). Namun akhir-akhir ini tradisi Mantunu Tedong sudah mengalami kemerosotan yang lebih kepada pemborosan karena gengsi.

Mungkin ini adalah dampak dari kenyataan bahwa upacara sudah tidak dilakukan lagi oleh penganut Aluk Todolo (penganut agama suku) tetapi penganut agama Kristen yang karena tidak menjiwai keseluruhan upacara tersebut akhirnya hanya mengambil “kulit kemegahannya” sehingga yang terlihat pada upacara-upacara pemakaman bukanlah dukacita melainkan suasana pesta pora.7 Penyebutan sebagai adat adalah melulu bentuk pembenaran. Budaya Toraja sedang mengalami kemerosotan perilaku terutama di desa Seriale di mana nilai-nilai luhur dari budaya itu tidak lagi menjiwai pelaksanaan-pelaksanaan Mantunu Tedong melainkan gengsi dan popularitaslah yang ditonjolkan. Apalagi saat ini harga hewan kerbau sangatlah mahal di tanah Toraja dan bisa sampai kisaran 1 Milyar Rupiah, dan harga rata-rata kebau yang dianggap layak untuk dipotong pada upacara pemakaman minimal diatas 30 jutaan.

Berikut ini Foto-Foto Potong Kerbau Khas Toraja:

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Toraja

To Top