Connect with us

Berakhir Pekan – 1001 Tempat Wisata Populer dan Viral Saat Ini

Mengenal Ajaran Patuntung Kajang dan Kepemimpinan Ammatoa

Opini

Mengenal Ajaran Patuntung Kajang dan Kepemimpinan Ammatoa

158 Total Pengunjung.

Kajang, Berakhirpekan.com – Masyarakat adat Kajang termasuk yang bermukim di kawasan Ilalang Embayya secara formal menganut agama Islam. Menurut pengakuan Ammatoa serta pembantu-pembantunya, bahwa mereka mengakui Islam sebagai agamanya. Walaupun kesehariannya mereka penganut kepercayaan Patuntung, tetapi mereka tidak mau disebut penganut agama Patuntung, menurutnya patuntung bukan agama melainkan kepercayaan yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh setiap anggota masyarakat adat Kajang, sebagai “penuntut” atau “penuntun” untuk mengamalkan ajaran kebenaran yang diwasiatkan secara lisan oleh para leluhur mereka secara turun-temurun dari generasi ke generasi, mulai yang pertama sampai yang terakhir. Wasiat inilah yang dikenal dengan sebutan Pasang atau Pasang ri Kajang.

Mengenal Ajaran Patuntung Kajang dan Kepemimpinan Ammatoa

 Pasang ri Kajang adalah ajaran leluhur masyarakat Kajang. Secara harfiah Pasang dapat berarti pesan-pesan, firman, wasiat, amanat. Pasang dapat pula dikatakan sebagai wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa kepada ummatnya dengan harapan manusia dapat menjalani kehidupan dengan baik mengikuti rambu-rambu yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Sebagai pedoman yang paling tinggi, Pasang menjadi referensi yang dijadikan acuan. Semua yang tertera dalam Pasang membentuk pola berpikir dan cara-cara bertindak komunitas adat ini, sebagaimana dikatakan oleh Usop (1978), bahwa Pasang berarti pesan lisan yang wajib dituruti, dipatuhi dan dilaksanakan, dan apabila tidak diindahkan akan menimbulkan hal-hal atau akibat-akibat yang tidak diinginkan. Ia mengandung arti pesan, amanah, nasihat, tuntutan, peringatan atau pengingatan. Dari pengertian inilah masyarakat adat Kajang berpegang pada Pasang. Ia tidak hanya berisi yang baik yang harus diamalkan, akan tetapi juga yang buruk yang harus dijauhi. Dalam kondisi demikian, nampak bahwa Pasang ri Kajang merupakan himpunan dari sejumlah sistem kehidupan, yang meliputi sistem kepercayaan, sistem ritus dan sejumlah norma sosial lainnya.

 Aturan-aturan dalam Pasang masih diberlakukan secara ketat oleh masyarakat di kawasan Ilalang Embaya, terutama pada kegiatan ritual atau upacara adat, misalnya pada upacara Apparuntuk paknganro, yaitu upacara memohon doa atau mengucap syukur kepada Turi’e A’ra’na, baik yang bersifat umum yang diselenggarakan oleh Ammatoa, maupun yang khusus diselenggarakan oleh warga masyarakat adat tertentu berdasarkan hajat mereka.

Pelaksanaan Pasang pada masyarakat Kajang yang bermukim di luar kawasan Ipantarang Embaya tidaklah seketat yang ada di dalam kawasan, karena mereka telah beradaptasi dan berbaur dengan masyarakat yang telah menggunakan teknologi modern.

 Dari segi kepercayaan masyarakat Kajang memiliki dualisme kepercayaan, yakni Islam sebagai agama yang diakui negara dan kepercayaan Patuntung sebagai ajaran leluhur yang wajib dijalankan. Pemahaman ajaran agama Islam di kalangan mereka tidak didasarkan pada pemahaman syariat Islam, akan tetapi didasarkan pada kegiatan yang berkaitan dengan tarekat.

Hal ini di pahami karena di kalangan warga masyarakat adat Kajang di Desa Tanah Towa pada waktu itu, tidak ada yang bisa baca tulis sehingga usaha untuk menimba ilmu tentang agama mengalami kesulitan. Salah satu wujud pemahaman warga masyarakat adat Kajang khususnya yang berdomisili kawasan IIalalang Embayya yang ada kaitannya dengan tarekat, adalah mengamalkan jenne talluka, sembahyang tamattappuka, artinya wudhu yang tidak pernah batal, dan shalat yang tidak pernah terputus. Dari ungkapan ini dapat dipahami bahwa dengan berbuat amal kepada sesama manusia, berarti sudah melaksanakan shalat, dan kegiatan keagamaan lainnya sesuai dengan syariat Islam.

Masyarakat adat Kajang adalah sebuah komunitas klasik yang masih kental akan adat istiadatnya dan tradisi. Mereka ini hidup berkelompok dalam suatu area hutan, dan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal modernisasi. Hal ini disebabkan oleh adanya hubungan masyarakat adat dengan lingkungan hutannya yang selalu bersandar pada pandangan hidup adat yang mereka yakini. Dalam hal-hal tertentu mereka berinteraksi dengan pola komunikasi dengan unik. Ketika akan menyampaikan pengumuman atau informasi ke masyarakat, mereka melakukan menabuh gendang yang disebut benrong. Gendang ini dibunyikan atau ditabuh dalam kondisi tertentu; seperti saat ada kematian, ada pencurian atau peristiwa lainnya. Cara penabuhan gendang ini berbeda-beda, disesuaikan dengan peristiwa yang terjadi dan mereka sendirilah yang memahami arti setiap jenis bunyi gendang tersebut.

 Pola hidup sederhana yang disebut tallasa kamase-kamasea, merupakan prinsip hidup komunitas adat Kajang. Kesederhanan adalah salah satu ciri utama yang menekankan orientasi hidup saling rukun dalam satu rumpun, saling berbagi, tidak menjatuhkan satu sama lain, menghindari sikap hidup berlebihlebihan dan hidup apa adanya, serta memperlakukan mahluk-mahluk di sekelilingnya dengan bersahaja. Kehidupan masyarakat adat Kajang dengan penuh kesederhanaan tanpa memikirkan hidup mewah, akan membawa makna tersendiri di tengah kehidupan masyarakat modern.

 Konsep hidup kamase-masea sebagai sesuatu yang telah ditetapkan oleh Turi’e A’ra’na, dan sebagai tau todong (lemah/prihatin). Kedua konsep tersebut bertentangan dengan hidup kalumannyang (kaya). Sesuai dengan takdirnya (turunganna) mereka tidak layak hidup kaya, karena sejak nenek moyang mereka sudah ditakdirkan atau diharuskan untuk hidup sederhana.

Seperti diungkapkan dalam Pasang: “Dodongi kamase-masea, hujui rikalenna, anre nakulle kaite-ite, Anre nakulle katoli-toli Kasugihanga anre nakulle antama ri butta kamase-masea.” Artinya meski kita serba susah dalam kesederhanaan, tetap berpegang pada prinsip sendiri, tidak boleh sembarang melihat, tidak boleh sembarang melompat, tidak boleh sembarang mendengar, kekayaan tidak akan pernah masuk di kawasan adat.

 Prinsip Tallasa kamase-masea, juga berarti tidak mempunyai keinginan yang berlebih-lebihan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk makan maupun dalam berpakaian. Dalam berpakaian yang memiliki hanya 2 (dua) warna yakni hitam dan putih. Untuk baju, sarung dan penutup kepala berwarna hitam dan celana berwarnah putih. Menurut mereka berpakaian dengan beragam warna, menandakan kemewahan warna tersebut tidak lepas dari makna spiritualitas dalam kehidupan masyarakat adat Kajang, yang memandang bahwa manusia berasal dari kegelapan dan terlahir ke dunia dengan cahaya yang terang benderang, serta wujud dari pada kesamaan dalam segala hal, termasuk kesamaan dalam kesederhanaan, tidak ada warna hitam yang lebih baik antara yang satu dengan yang lainnya. Semua warna hitam di dalam kawasan adat adalah sama, warna hitam menunjukkan kekuatan, kesamaan derajat bagi setiap orang di depan Sang Pencipta (Turi’e A’ra’na).

Baca Juga:   9 Event Wisata Bulukumba Tahun 2021

Peralatan rumah yang dimiliki masih menggunakan peralatan sederhana yang dibuat sendiri, seperti tempat duduk dan tidur mereka menggunakan tikar, begitu juga peralatan makan dan minum serta peralatan pertanian masih tetap menggunakan peralatan sederhana. Ketika kita naik ke rumah, maka yang pertama didapati adalah dapur yang dekat dengan pintu masuk rumah, lalu ruang tengah dan bilik bagian belakang adalah ruang tamu. Selain itu, posisi rumah yang semuanya menghadap ke arah barat tempat terbenamnya matahari. Maknanya adalah bahwa semua kehidupan ini akan berakhir, sama dengan tenggelamnya matahari dalam kegelapan malam.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat adat Kajang memegang teguh Pasang ri Kajang (pesan di Kajang) merupakan ajaran leluhur. Secara harfiah Pasang dapat berarti pesan-pesan, firman, wasiat, amanat. Jadi Pasang dapat dikatakan sebagai wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa kepada ummatnya dengan harapan manusia dapat menjalani kehidupan dengan baik mengikuti rambu-rambu yang diinginkan oleh Sang Pencipta.

Penerapan aturan atau hukumhukum di dalam komunitas adat Kajang ini, juga masih memegang prinsipprinsip hukum yang diwariskan nenek moyang atau para pendahulunya. Apalagi terjadi pelanggaran adat dalam kawasan, hukum yang berlaku dalam masyarakat adat Kajang disebut Ba’bala (cambuk). Beratnya hukuman didasarkan pada pelanggaaran yang dilakukan oleh seseorang yang terbukti sebagai terdakwa. Dalam hal ini terbagi atas tiga jenis kategori hukum : yaitu Cappa’Ba’bala, Tangnga Ba’bala, dan Poko’ Ba’bala.

Istilah Cappa’ Ba’bala (ujung cambuk), dimana jenis hukuman ini sifatnya ringan. Selanjutnya, Tangnga Ba’bala (bagian tengah cambuk), jenis hukuman ini sifatnya sedang. Yang terakhir adalah Poko’ Ba’bala (pangkal cambuk), jenis hukuman ini tergolong berat. Dalam pengkategorian jenis-jenis hukuman tersebut, tentunya berdasarkan kesepakatan adat dan ketentuanketentuan dalam Pasang.

Sistem kepercayaan atau religi pada prinsipnya terdiri atas konsepkonsep yang menimbulkan keyakinan dan ketaatan bagi penganutnya. Keyakinan itu adalah rasa percaya akan adanya dunia gaib, ide tentang “Tuhan,” hari kemudian, percaya akan adanya kekuatan-kekuatan supranatural, serta berbagai macam hal yang dapat menimbulkan rasa percaya kepada yang diyakini (Akip, 2008 : 48). Berdasarkan pandangan tersebut, komunitas adat Kajang pada dasarnya lahir, tumbuh dan berkembang tidak menjadikan agama Tuhan sebagai tuntunan dalam hidup. Mereka mengacu pada tuntunan sebuah aliran kepercayaan Patuntung, dan meyakini Turi’e A’ra’na sebagai Tuhan pencipta alam semesta beserta isinya.

Dalam kehidupan komunitas adat Kajang, selain melakukan penyembahan terhadap Tuhan yang diakuinya, juga mereka tetap berkiblat pada sang pemimpin ummat, yaitu kepada Ammatoa dan sekaligus pula sebagai kepala pemerintahan adat. Pada dasarnya apa yang mereka perbuat dalam keberadaannya sebagai penganut aliran kepercayaan, dijalankannya sebagai sebuah amanah dari para leluhurnya yang mereka junjung tinggi yaitu Pasang ri Kajang, yang telah disesuaikan dengan pokok-pokok ajaran agama Islam.

Salah satu karakteristik pada masyarakat adat Kajang dewasa ini yang masih eksis dengan melakukan berbagai ragam upacara atau ritual dalam kepercayaan mereka, yakni dengan melihat hutan itu sebagai bagian dari hidupnya. Eksistensi ritual kuno ini telah melampaui batas-batas zaman dan menjadi salah satu bagian penting dari representasi dari masyarakat adat Kajang itu sendiri. Upacara atau ritual secara umum dipahami sebagai ekspresi keagamaan dalam wujud perilaku yang dijadikan sebagai media untuk berkomunikasi dengan hal-hal yang gaib. Dalam tataran implementasi atau praktik ritual tersebut, tampil beragam berdasarkan kepercayaan masingmasing sekaligus merupakan karakteristik budaya komunitas tertentu.

Dalam hubungannya upacara atau perayaan keagamaan, upacara merupakan sarana untuk menghubungkan antara manusia dengan hal-hal keramat yang diwujudkan dalam praktek (Haviland, 1999: 207). Oleh karena itu, upacara bukan hanya sarana untuk memperkuat ikatan sosial kelompok dan mengurangi ketegangan, tetapi juga suatu cara untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting. Ritual keagamaan sebagai bentuk suatu keyakinan manusia terhadap sesuatu yang dapat menyertai manusia dalam ruang lingkup kehidupan, memiliki nilai dan norma yang mengatur kehidupan manusia dalam hubungannya dengan masyarakat. Ritual bagi komunitas adat Kajang dijadikan sebagai dasar atau etika sosial di mana praktik sosial digerakkan.

 Masyarakat adat Kajang menempatkan ritual dan seremoni itu sebagai bagian yang penting dalam sistem kehidupan dan interaksi sosial masyarakat, hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat adat Kajang mengindikasikan perlunya individu untuk melakukan interaksi dan integrasi dengan masyarakat lainnya. Ritual sebagai manifestasi dari sistem kepercayaan masyarakat adat Kajang yang mengandung kearifan lokal yang signifikan untuk dilestarikan sebagai bagian penting dari proses pembangunan mentalitas dan ketahanan budaya bangsa, termasuk pembangunan karakter dan jatidiri bangsa. Salah satu instrumen penting dalam rangka melestarikan nilai kearifan lokal adalah melakukan kajian penelitian secara sistematis tentang ritual dan kepercayaan masyarakat pada komunitas adat. Memahami ritual dan kepercayaan dalam suatu komunitas adat dapat menjadi pembelajaran dengan melihat aspek filosofis, sosiologis, antropologis dan ekologis pada suatu komunitas adat tertentu.

Bagi masyarakat adat Kajang, dimana penganut aliran kepercayaan Patuntung pada prinsipnya terdapat dasar-dasar kepercayaan yang mereka imani dan percayai dalam hidupnya, yaitu (1) Percaya terhadap Turi’e A’ra’na (Tuhan Yang Maha Esa), (2) Percaya terhadap Ammatoa, (3) Percaya terhadap Pasang, (4) Percaya terhadap hari kemudian (allo riboko) dan (5) Percaya terhadap Takdir.

Percaya terhadap Tuhan (Turi’e A’ra’na)

 Percaya kepada Turi’e A’ra’na merupakan konsepsi ketuhanan dalam ajaran Pasang. Turi’e A’ra’na adalah satu-satunya kekuasaan Yang Maha Mutlak dan merupakan sumber dari semua wujud. Bagi komunitas adat Kajang tumbuh konsep ketuhanan yang tunggal, mereka percaya bahwa apabila terdapat lebih dari satu Tuhan, maka dunia menjadi tidak tentram dan kacau. Seperti ungkapan dalam Pasang sebagai berikut: Turi’e A’ra’na ammantangi ri pangnge’rakkangn, Anrei niissei rie’ na anre’na Turi’e A’ra’na, nake pala’doang. Artinya Turi’e A’ra’na tinggal berbuat/pada sesuatu kehendaknya (Tuhan melakukan sesuatu atas kehendaknya sendiri), tidak diketahui dimana adanya Turi’e A’ra’na tetapi kita minta rahmatnya, Padalo’ji pole nitarimana pa’nga’ratta iya toje’na. Artinya diterima atau ditolaknya permintaan kita, dia yang tentukan. Turi’e A’ra’na itu sendiri merupakan pula sebagai ungkapan dogmatis yang terdiri dari empat kata yang setiap kata mempunyai arti tersendiri. Tu adalah singkatan dari kata tau (bahasa konjo) yang berarti orang. “rie’ berarti ada atau mempunyai. a’ra berarti kehendak, sedang kata na merupakan kata ganti milik. Jadi Turi’e A’ra’na berarti orang Yang Berkehendak atau Yang Maha Berkehendak (Mas Alim Katu, 2005 : 25). Hal tersebut sejalan dengan tulisan Ranre (1978) dan Badrum, (2006 : 4) yang menjelaskan, bahwa masyarakat adat Kajang mengakui Tuhan yang Esa atau Allah, namun di kalangan mereka pantang atau kasipalli menyebut Allah, akan tetapi menyebutnya dengan nama Karaeng Kaminang Kammaya atau dengan bahasa Kajang Karaeng Kaminang Jaria A’ra’na (Turi’e  A’ra’na) artinya Tuhan Yang Maha Kuasa. Demikian pula nama-nama Nabi dalam hal ini Nabi Adam mereka sebut mula tau (manusia pertama), sedangkan Nabi Muhammad SAW mereka sebut tunisurona Turi’e A’ra’na (utusan Yang Maha Berkehendak).  Turi’e A’ra’na (Yang Berkehendak) dapat memberikan tuntunan (Patuntung) dalam berperilaku, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Mereka pula berkeyakinan bahwa ia merupakan pencipta dari segala sesuatu yang ada di dunia atas dan dunia fana atau dunia bawah. Ia menyerupai sesuatu, tetapi ia bukan sesuatu. Dialah yang memberi tuntunan dan kehidupan kepada seluruh makhluk yang ada di langit dan di dunia ini. Itulah sebabnya perlakuan terhadap para leluhur mereka dilakoninya dengan tidak memperhitungkan persoalan untung rugi, akan tetapi yang terpenting baginya mempertahankan adat dan budaya dalam berbuat menjadi suatu tuntutan ummat, seperti halnya pelaksanaan upacara atau ritual.

Baca Juga:   Sejarah Monumen Perjuangan Bulu Ballea Malino Gowa

Adapun hakekat dari pada keberadaan Turi’e A’ra’na berada dalam semua ruang dan waktu, sehingga tidak diketahui secara tepat dimana dia berkedudukan. Namun apabila Turi’e A’ra’na berkenan memberi rahmat dan anugrah, maka akan sampai ke manusia sehingga meskipun kedudukan Turi’e A’ra’na tidak diketahui secara pasti.

Namun jika manusia taat menjalankan perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang maka akan bertemu dengan Turi’e A’ra’na. Sebagaimana isi Pasang, bahwa Siitte maki anjo punna nigaukangi passuroanna, na nililiangngi pappisangkanna. Artinya Manusia akan saling melihat/bertemu dengan Turi’e A’ra’na apabila dikerjakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Kemahakuasaan Turi’e A’ra’na dalam semesta ini tak terbatas, segala sesuatu yang dia kehendaki akan terjadi dan manusia tidak memiliki daya apapun terhadap segala keinginannya.

Namun yang dapat diperbuat oleh manusia itu sendiri adalah permohonan doa kepada Turi’e A’ra’na dengan jalan berserah diri/pasrah melalui tapakkoro’. Kepercayaan dan penghormatan terhadap Turi’e A’ra’na merupakan keyakinan yang paling mendasar dalam agama adat. Masyarakat adat Kajang percaya bahwa Turi’e A’ra’na adalah “Tuhan” alam semesta dan pencipta segala sesuatu, Maha kekal, Maha mengetahui, Maha perkasa, dan Maha kuasa. Turi’e A’ra’na adalah causaprima yang berada pada kedudukan puncak penyembahan. Kekuatan supranatural, tetap mendapat perhatian yang kuat pada komunitas adat Kajang, akan tetapi masih di bawah status tertinggi Turi’e A’ra’na

Percaya Terhadap Ammatoa

Berdasarkan mitologi yang berkembang pada masayarakat adat Kajang dan ungkapan lainnya, menyebutkan bahwa perintah atau amanah dan larangan dari Turi’e A’ra’na akan disampaikan kepada seorang manusia yang mempunyai keistimewaan dan kelebihan-kelebihan. Orang tersebut karena kesuciannya maka nama aslinya pantang untuk diungkapkan. Sehingga mereka dipanggil menurut statusnya yaitu disebut Ammatoa. Seperti diungkapkan dalam Pasang bahwa Simemangna lino Amma riemo, yang artinya sejak dunia ada, Ammatoa sudah ada. Istilah Ammatoa tersebut bukanlah merupakan nama diri melainkan nama jabatan atau penamaan sesuai dengan statusnya.

Amma adalah istilah Konjo artinya bapak, sedang istilah towa artinya tua atau yang dituakan. Pengertian bapak disini bukanlah pengertian menurut biologi yang berarti ayah kandung tetapi adalah pengertian bapak sebagai pemimpin atau kepala. Jadi Ammatoa Sistem Kepercayaan pada… (Abdul Hafid) berarti bapak tua atau bapak yang dituakan dengan kata lain pemimpin.

 Selain penamaan Ammatoa dan statusnya sebagai pemimpin adat, juga dikenal dengan penamaan lain yakni Boheta yang berarti nenek atau moyang kita. Bohe artinya nenek sedang ta adalah merupakan kata ganti milik, jadi Boheta artinya nenek kita. Penamaan ini sesuai dengan statusnya sebagai nenek moyang manusia, sering pula disebut dengan nama mula tauwa yang berarti manusia pertama. Dalam hal pengangkatan Ammatoa sebagai pemimpin, nampaknya berkelanjutan terus menerus kepada setiap Ammatoa, selain dipilih berdasarkan keturunan juga berdasarkan aturan-aturan adat setempat, seperti dalam isi Pasang terdapat beberapa persyaratan dasar yang harus dipenuhi oleh seorang calon Ammatoa dalam bersifat dan berperilaku; (1) Sabbarapi na guru (kesabaran seorang guru), (2) Pesonapi na sanro (pesona seorang guru/peraamal), (3) Lambusupi na karaeng (kejujuran seorang raja), (4) Gattangpi na ada’ (ketegasan memelihara adat). Selanjutnya, syarat lain yang harus dipenuhi oleh seorang Ammatoa yakni; (1) warga asli yang berasal dan berdiam di kawasan Ilalang Embayya, (2) tidak tau baca tulis, (3) tidak pernah meninggalkan kawasan Ilalang Embayya dan (4) Berasal dari keturunan baik-baik (tu kintarang). Dan setiap yang diangkat sebagai Ammatoa senantiasa menerima pengangkatan dari Turi’e A’ra’na, atau disebut dengan istilah Angguppa Pangngamaseang ri Turi’e A’ra’na.

Ammatoa dalam kapasitasnya sebagai pemimpin adat dalam kawasan adat Kajang, mempunyai andil besar dalam mengurusi masyarakatnya bersama dengan perangkat adat lainnya. Ammatoa sebagai pemimpin informal mempunyai fungsi dan tugas, yakni sebagai orang yang dituakan, artinya bahwa Ammatoa adalah pelindung, pengayom dan suri teladan bagi semua warga komunitas adat Kajang. Mereka sebagai penghubung manusia dan Turi’e A’ra’na, dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kelestarian Pasang ri Kajang serta membawahi aturan-aturan adat yang bersumber dari

Baca Juga:   Tempat Wisata Kete Kesu Toraja Utara Yang Mendunia

Pasang dan norma-norma adat Kajang. Isi Pasang tersebut di dalamnya terdapat segala perintah Turi’e A’ra’na yang berbentuk pesan (tidak tertulis) kepada Ammatoa yang tidak dapat diubah, ditambah ataupun dikurangi dan harus dijalankan oleh Ammatoa, agar kehidupan masyarakat adat Kajang dapat berjalan dengan baik dan normal, baik katallassang lino (kehidupan di dunia) maupun allo ri boko (kehidupan akhirat kelak).

Percaya Terhadap Pasang

Percaya kepada Pasang merupakan unsur mutlak dalam sistem kepercayaan komunitas adat Kajang. Pasang diartikan sebagai misi (message), fatwa, nasihat, tuntunan yang dilestarikan turun temurun sejak mula tau (manusia pertama) sampai sekarang dengan melalui tradisi lisan, pantang ditulis sebagai sebab dapat terabaikan dalam perjalanan zaman. Pasang dipercayai sebagaai sumber dari Turi’e A’ra’na yang dinukilkan oleh tutowa mariolo (Ammatoa pertama) dan dilestarikan melalui pengawalan Ammatoa secara berkesinambungan.

Berdasarkan cerita atau ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam Pasang itu sendiri cukup banyak menyebutkan tentang penegasan untuk mempercayai isi dan kebenaran Pasang ri Kajang.  Selain itu Pasang menuntut kepada masyarakat pendukungnya untuk menerima semua ungkapan dan cerita Pasang sebagai doktrin atau ajaran. Sebab Pasang dan ajarannya mempunyai status yang tinggi, bahkan melebihi apa yang disebut Lontara ri Gowa atau apa yang disebut Kitta ri Luwu. Baik Kitta atau Lontara merupakan himpunan dan kumpulan dari pada ilmu pengetahuan suku-suku Bugis dan suku-suku Makassar. Bagi para pendukungnya, dimana Kitta atau Lontara dapat dipandang sebagai kitab-kitab suci, sebab ajaran ini mengandung berbagai pengetahuan seperti kesaktian mantra-mantra dan semacamnya. Akan tetapi Pasang melebihi kesucian dari yang dimiliki oleh Lontara dan Kitta.

Bahkan Pasang dipandang mempunyai nilai sakral yang melebihi kitab suci ummat Islam, sehingga kalau tidak menjalankannya perintah yang dikandungnya atau tidak mengindahkan apa yang dilarangnya merupakan suatu dosa.  Komunitas adat Kajang meyakini bahwa Pasang adalah sumber sejarah bagi komunitas adat Kajang, dan sekaligus mengandung prinsip-prinsip yang mengatur hubungan masyarakat adat Kajang dengan Turi’e A’ra’na, hubungan dengan sesama manusia dan hubungannya dengan lingkungan. Oleh karena itu, Pasang yang dinukilkan oleh tutowa mariolo (nenek moyang) yang diterima dari Turi’e A’ra’na tidak dapat ditambah atau dikurangi, sehingga posisi Pasang menempati posisi wahyu dalam agama samawi. Mempelajari Pasang merupakan sebagai tugas suci bagi warga masyarakat adat Kajang serta kemuliannya yang dikaitkan dengan tingkat penguasaannya dan ketaataannya terhadap Pasang. Kewajiban menuntut Pasang disebut mannuntungi dan penuntutnya disebut patuntung. Setiap pelanggaran Pasang bukan saja akan merendahkan derajat pelanggarnya di mata warga komunitas adat Kajang, melainkan akan membawa ekses bagi stabilitas sosial dan lingkungannya sekaligus, seperti bencana alam, rusaknya hasil pertanian, munculnya wabah penyakit dan terjadinya reaksi alam yang tidak bersahabat.

Percaya Terhadap Hari Kemudian (allo ri boko)

Terkait dengan percaya adanya hari kemudian, merupakan rangkaian dari kepercayaan terhadap Turi’e A’ra’na, mereka percaya bahwa imbalan segala perbuatan manausia akan diperoleh pada allo ri boko. Manusia meninggal dunia akan kembali kepada tumappare’na (Sang Pencipta). Menurut konsepsi Pasang bahwa hari kemudian (allo ri boko) atau hari akhirat adalah hari tempat kembalinya semua mahluk dan kembali menghadap Tuhan yang disebut dengan Tau Paretta (yang menjadikan). Dalam ajaran Pasang dunia ini hanyalah tempat tinggal sementara, sedang tempat tinggal yang kekal adalah akhirat yang disebut dengan istilah Allonjirengang atau allo ri boko. Apabila manuisa itu meninggal dunia menurut ajaran Pasang, maka mereka itu kembali ke asalnya atau kembali kepada Tuhan dengan segala sifat-sifatnya.

Masyarakat Kajang dituntun untuk senantiasa memelihara dirinya agar tetap konsisten dalam kebaikan selama hidup dengan melalui cara hidup appisona (pasrah), supaya kelak sesudah mati rohnya dapat diterima oleh Turi’e A’ra’na. Kehidupannya di akhirat akan ditentukan oleh perbuatannya selama masih hidup. Menurut pemahaman mereka, kalau semasah hidupnya seseorang mempunyai sifat rakus seperti babi, maka di akhirat nanti akan menjelma sebagai babi. Sedang bagi orang yang hidup sesuai dengan tuntunan Pasang, akan kembali ke allo ri boko dan menghadap ke Turi’e A’ra’na dengan selamat. Sebaliknya, orang yang hidup tidak sesuai dengan ajaran Pasang rohnya akan ditolak Turi’e A’ra’na dan akan mendapatkan balasan sesuai dengan sifatnya di dunia (amminro ri sipa’-sipa’na). Menurut keyakinan mereka bahwa dunia hanya sekedar pammari-mariang (tempat  Sistem Kepercayaan pada… (Abdul Hafid) istirahat sementara) sedangkan allo ri bokko disebut karakkang (tempat abadi). Sebagaimana dalam ungkapan disebutkan bahwa “anne linoa pammarmarianji, allo ribokko pammantangang karakkang”. Artinya dunia ini hanya tempat istirahat, sedangkan hari kemudian tempat abadi.

Percaya Terhadap Takdir / Nasib (turunganna)

Percaya terhadap takdir (turunganna) merupakan rangkaian dari sistem kepercayaan dalam ajaran Pasang. Berdasarkan penuturanpenuturan lisan dalam konsep Pasang tentang adanya takdir atau nasib yang ditentukan oleh Tuhan atau Turi’e A’ra’na. Nasib baik atau buruk, miskin atau kaya semuanya itu tergantung kepada kehendak Yang Maha Kuasa. Menurut ajaran Pasang, semua orang akan memperoleh kekayaan yang disebut dengan Kalumannyang Kalupepeang jika dikehendaki oleh Tuhan. Seperti diungkapkan dalam Pasang : Kalumannyang akulei niuppa punna na’rakkangngi pamarenta nasaba’ pamarenta sambungannai Turi’e A’ra’na nasaba’ pamarenta iya angngissengisei nu haji nu kodi. Artinya, kekayaan itu dapat diperoleh jika dikehendaki oleh pemerintah (ammatoa) sebab pemerintah adalah penghubung dari Tuhan (Turi’e A’ra’na), ia mengetahui semua yang baik atau yang buruk. Selanjutnya, mengenai kemiskinan diungkapkan: Tau dodong kamase-mase Turunganna Angkua, yang artinya orang miskin itu memang sudah ditakdirkan demikian. Konsepsi Pasang mengenal juga adanya nasib atau takdir baik dan buruk, yang kesemuanya itu ditentukan oleh Turi’e A’ra’na. Keyakinan tentang takdir lebih berorientasi ke fatalisme, dan terbangun beberapa prinsip hidup yang sangat menentukan kondisi masyarakatnya secara keseluruhan. Prinsip hidup kamase-masea (prihatin), pisona (pasrah/rida), tapakkoro (tafakkur) sabbara (sabar) merupakan refleksi dari kepercayaannya terhadap ketentuan nasib.[bp]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Opini

Blogarama - Blog Directory
To Top