Connect with us

Mengungkap Motif dan Arsitektur Benteng Somba Opu Kerajaan Gowa

Sulsel

Mengungkap Motif dan Arsitektur Benteng Somba Opu Kerajaan Gowa

445 Total Pengunjung.

Gowa, BerakhirPekan.Com – Benteng-benteng pertahanan adalah jenis tinggalan arkeologi yang banyak ditemukan di Sulawesi Selatan. Antara lain Benteng Tallo, Benteng Sanrobone, Benteng Rotterdam atau Benteng Pannyua (Benteng Ujung Pandang), dan Benteng Somba Opu. Benteng-benteng tersebut telah dihancurkan oleh Belanda kecuali benteng Ujung Pandang, sehingga tidak dapat lagi kita saksikan bentuk asli bangunannya. Benteng Ujung Pandang kini dikenal sebagai Fort Rotterdam, yang merupakan Benteng pengawal dari Benteng Somba Opu (benteng induk). Benteng Ujung Pandang telah diubah arsitekturnya dengan gaya Eropa ketika Belanda masuk ke Sulawesi Selatan pada abad ke XVII Masehi dan diberi nama Fort Rotterdam seperti tertulis di pintu masuk Benteng.

Gambar Reruntuhan Benteng Somba Opu Gowa

Gambar 1 Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu adalah benteng kerajaan, yang dibangun oleh Sultan Gowa ke IX Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi Kallonna pada tahun 1525, kemudian dilanjutkan oleh raja Gowa ke XII Karaeng Tunijallo dan diberi batu bata oleh Sultan Alauddin kemudian disempurnakan dan dijadikan benteng induk serta pusat pemerintahan Kerajaan Gowa oleh Sultan Hasanuddin. Pada pertengahan abad ke XVI Masehi benteng ini menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia, Eropa, dan pernah menjadi Ibu kota pusat Kerajaan Gowa.

Gambar 2 Benteng Somba Opu

Pusat kerajaan berada di bukit Tamalate, kemudian pada masa pemerintahan raja Gowa ke IX. Daeng Matanre karaeng To Mapa’risi Kallonna tahun 1510 Masehi beliau memindahkan pusat kerajaan ke Somba Opu, yang terletak pada delta Sungai Jeneberang. Benteng Somba Opu berkembang menjadi pusat pemukiman bahkan menjadi pusat kota dimana tidak hanya warga kekaraengan Gowa saja yang tinggal dan menetap disekitar benteng, tapi juga para pedagang dari segala penjuru dunia yaitu Denmark, Inggris, Portugis, Gujarat, yang memiliki kantor sendiri bagi kegiatan dagang mereka, di dekat benteng disediakan beberapa tempat yang berfungsi sebagai pasar, keramaian di muara Sungai Je’neberang di saat kapal-kapal sandar.

Baca Juga:   Bupati Cup Kalong Racing Teang Kejurda Drag Bike Seri III Tahun 2019 Soppeng

Gambar 3 Benteng Somba Opu

Masyarakat Bugis Makassar mengenal pola hias yang berasal dari alam, flora, dan fauna, meski dalam bentuk yang sederhana. Selain untuk keindahan, ada pola hias yang mengandung makna dalam kehidupan budayanya. Salah satunya ialah bunga parenreng, bunga melati. Tumbuhan ini menjalar tidak putus-putusnya, sehingga diumpamakan rezeki yang terus menerus. Pola hias ini biasanya tertera di timpa laja, induk tangga, atau papan pintu dan jendela. Dari dunia fauna terdapat tiga bentuk ragam hias yang banyak dipakai yaitu kepala kerbau, ayam jantan, dan naga. Ayam jantan bagi masyarakat Bugis Makassar perlambang keberanian yang harus diteladani. Ukiran bermotif naga juga ditempatkan pada puncak bubungan atau induk tangga. Naga melambangkan kekuatan yang maha dahsyat.

Gambar 4 Benteng Somba Opu

Dan menurut kepercayaan, bila sang naga murka akan menelan bulan dan matahari, sehingga terjadi gerhana. Karena itu memasang ornamen ini harus tepat arahnya.  Bata Benteng Somba Opu memiliki motif garis dan pola hias, pola hias tertera dengan berbagai macam bentuk diantaranya adalah: motif gambar perahu, bekas kaki binatang (ayam dan anjing), ular naga, kotika, dan aksara jangangjangang. Penulis memberikan makna bahwa pola hias yang tertera pada bata benteng Somba Opu yang lama terpendam di dalam tanah memberi makna yang tidak jauh beda dengan makna yang biasa digunakan pada bangunan rumah raja orangorang Bugis Makassar yaitu adanya flora dan binatang. Makna flora memberikan suatu indikasi rezeki, kemudian binatang ayam (kaki ayam, kaki anjing) adalah perlambang keberanian. Pola hias naga adalah melambangkan kekuatan yang maha dahsyat. Aksara jangang-jangan adalah makna memohon kekuasaan Dewa, Aksara yang tertera sangat jelas artinya dalam bahasa Makassar.

Baca Juga:   Makam La Tenri Ruwa Raja Bone Ke-11 Yang Meninggal di Bantaeng

Gambar 5 Benteng Somba Opu

Industri hiasan bata kuno benteng Somba Opu adalah bukan hanya sebagai penanda (merek) atau semacam stempel pada bata akan tetapi mempunyai makna tertentu pada saat itu, hanya pemasangan bata tidak teridentifikasi karena tidak sesuai pada tempatnya pada saat diekskavasi. Sebagaimana ditemukan pada bangunan rumah-rumah raja di Sulawesi Selatan, seperti pada bangunan saoraja Balla Lompoa Gowa. Ragam hias yang terpasang di puncak timpa laja atau timba sila atau disebut anjong bola (bahasa lokal). Eksistensi bata kuno pola hias perahu juga digunakan sebagai sarana transportasi yang penting pada masa itu. Dalam sejarah dikisahkan bahwa mulai memuncaknya hubungan dagang dengan daerah luar tidak hanya melalui antar pulau, bahkan di antara pulau di Nusantara meliputi Jawa, Borneo/Kalimantan, Maluku, Malaka, Johor, dan Pahang (lihat lampiran foto 1 Motif Perahu). Makna lain pada bata yang bermotif perahu misalnya, merupakan satu sisi sosial tertentu yang sangat lekat dengan masyarakat Makassar pada saat itu, yakni tradisi kemaritiman. Dari bentuk perahu yang menggunakan layar menunjukkan informasi tersendiri tentang tingkat teknologi pembuatannya. Serta menunjukkan adanya kelompok sosial pembuat perahu, begitu juga motif tikar menunjukkan keahlian tertentu yang dimiliki kelompok sosial tertentu dalam masyarakat Gowa Maupun berupa jejak kaki binatang yaitu ayam, anjing dan kuda. Menurut Muhlis Paeni; Menyebutkan bahwa fauna itu salah satu binatang yang diperkirakan digunakan sebagai tumbal, inilah salah satunya bekas kaki yang diinjakkan pada batu bata untuk sebagai bukti dalam upacara setelah pemasangan bata pada dinding Somba Opu. Motif tulisan, huruf lontara kuno jangangjangang (lontara awal) yang terbaca “Appala Ngagappa Appinyawa Batara”. Artinya: Kumohon mendapat restu dari Dewata, petunjuk dari Dewa Motif pertanggalan (kotika), kotika merupakan kalender untuk menentukan hari-hari baik dan hari-hari buruk untuk memulai kegiatan.

Gambar 6 Benteng Somba Opu

Motif-motif tak beraturan pada bata Benteng Somba Opu (belum teridentifikasi). Kemungkinan merupakan lambang atau simbol tertentu. Motif Naga berkaki, kemungkinan tanda awal keberadaan orang Cina di Gowa. Pola hias tersebut di atas merupakan suatu simbol yang mempunyai arti dan makna khusus, tidak hanya sebagai hiasan belaka, akan tetapi memiliki latar belakang sejarah yang berkaitan dengan kebutuhan lain, diantaranya: Apakah sebagai ritual dalam pelaksanaan mendirikan dinding benteng atau dalam hal makna tertentu. Eksistensi pola hias, merupakan petunjuk adanya motif lokal yang jarang ditemukan menjadi buah imajinasi pembuatnya yang didasari oleh faktor lingkungan dan sturuktur sosial masyarakat pada waktu itu. Kini belum pernah ditemukan dari sumber berita lokal dan berita dari Cina yang menjelaskan adanya arti dari temuan ini di Benteng Somba Opu. Hanya temuan pertanggalan seperti pada bata yaitu, goresan segi empat kemudian diberi tanda kali teknik gores dan titik-titik dengan teknik tusuk pada bata yang indikasi kotika (mengetahui hari-hari baik dan hari-hari buruk). Bentuk pola hias kotika ini sangat bermanfaat ketika dalam hal melakukan aktifitas sehari-hari agar memperoleh hasil yang memuaskan.

Baca Juga:   Museum Ne' Gandeng, Tempat Pesta Rambu Solo' Paling Mewah di Toraja

Gambar 7 Benteng Somba Opu

Pola hias binatang atau bekas kaki binatang mempunyai latar belakang tersendiri yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia, baik secara sakral maupun profan. Van Der Hoop dalam bukunya yang berjudul; Ragam- ragam perhiasan Indonesia, bahwa di seluruh dunia, binatang itu artinya sebagai perlambang dan sebagai ragam perhiasan. Begitu juga di Indonesia ragam hias seperti burung atau binatang sering dijadikan lambang roh orang yang telah meninggal. Ayam jantan dihubungkan dengan matahari karena memperdengarkan suaranya sewaktu mata hari akan terbit. Selain itu ayam jantan juga melambangkan kekuatan, keberanian dan kesuburan. Ragam hias katak dihubungkan dengan ilmu sihir dan hujan sedangkan kadal diartikan sebagai penjelmaan dewa. Beberapa bata berhias yang telah disajikan dapat dikelompokkan dalam beberapa jenis fungsi dan makna tertentu.[bp]

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Sulsel

To Top