Connect with us

Nama-Nama Ammatoa Kajang Dari Awal Berdiri Sampai Sekarang

Lipsus

Nama-Nama Ammatoa Kajang Dari Awal Berdiri Sampai Sekarang

349 Total Pengunjung.

Bulukumba, Berakhirpekan.com – Desa Tanah Towa terletak di sebelah utara dalam wilayah Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Desa Tanah Towa merupakan lokasi bermukimnya sekelompok masyarakat yang mengidentifikasi diri sebagai komunitas adat yang populer dengan nama Komunitas adat Kajang, yang memiliki pemimpin adat atau disebut dengan istilah Ammatoa. Tanah Towa merupakan sebagai sebuah wilayah administrasi setingkat desa/kelurahan, dan pada prinsipnya tumbuh dan terbangun dengan dua kelompok masyarakat yang boleh dikatakan berbeda dengan satu sama lainnya dalam banyak hal, terutama perbedaan yang paling menonjol adalah persoalan dalam pandangan hidup, yaitu satu kelompok masyarakat yang memang berpegang teguh pada agama Islam sebagai pedoman dalam berkehidupan, dan satu kelompok masyarakat lainnya adalah kelompok orang-orang yang menamakan dirinya penganut aliran kepercayaan patuntung atau sering juga masyarakat dimaksud disebut masyarakat penganut aliran kepercayaan Kajang.

Kedua kelompok masyarakat Kajang menempati dua wilayah hunian yang diberi nama Ilalang Embaya dan Ipantarang Embaya. Istilah Iialang berarti di dalam, embaya artinya wilayah kekuasaan, jadi Ilalang Embaya berarti di dalam wilayah kekuasaan adat. Ipantarang artinya di luar, jadi Ipantara Embaya berarti di luar kawasan adat, atau tidak masuk dalam zona kawasan adat. Ilalang Embaya dapat dipahami sebagai wilayah yang berada dalam kekuasaan Ammatoa (ketua adat).

Sebaliknya Ipantarang Embaya bermakna wilayah yang berada di luar kekuasaan Ammatoa, wilayah itu dibawa pengawasan pemerintahan struktur administrasi desa. Kedua wilayah kawasan itu dibatasi oleh bangunan pintu gerbang untuk memasuki kawasan adat (Ilalang Embayya.\ Wilayah Desa Tanah Towa terdiri atas 9 (sembilan) dusun dan kesembilan buah dusun yang ada diantaranya masuk dalam kawasan adat (Ilalang Embayya), yaitu Dusun Balagana, Jannayya, Sobba, Benteng, Pangi, Bongkina, Tombolo, Lurayya dan Dusun Balambi. Sementara dua dusun lainnya berada di luar kawasan adat (Ipantarang Embayya). Desa Tanah Towa yang tersebar atas sembilan dusun itu, dihuni penduduk sebanyak 4.073 jiwa, terdiri dari lakilaki 1.904 jiwa dan perempuan 2.169 jiwa. Dari jumlah keseluruhan penduduk Tanah Towa, 3.208 orang menempati wilayah kawasan adat, sedangkan sisanya yaitu 865 orang bermukim di luar kawasan adat. Secara geografis wilayah pemukiman penduduk berada pada ketinggian 150–500 meter di atas permukaan laut. Pada radius ketinggian seperti itu, menyebabkan udara di kawasan Kajang sangat sejuk. Suhu udara rata-rata di wilayah tersebut berada pada kisaran 13 – 29 derajat celcius, dengan kelembaban udara 70%.

Secara administrasi, Desa Tanah Towa berbatasan yaitu sebelah utara Desa Batunilamung, sebelah selatan dengan Desa Bontobaji, sebelah timur dengan Desa Malleleng, dan sebelah barat dengan Desa Pattiroang. Jarak tempuh dari Desa Tanah Towa ke ibukota Kecamatan Kajang ± 25 kilometer, dari ibukota Kabupaten Bulukumba ± 57 kilometer dan dari kota Makassar ±270 kilometer. Kondisi jalan dari kesemua akses cukup baik sehingga jarak tempuh ke lokasi tersebut yang lebih mudah.

Baca Juga:   Mengulik Siapa Sebenarnya Jamaah An-Nadzir di Kab. Gowa

Secara etimologi, Ammatoa terdiri dari dua kata yaitu Amma (bapak) dan Toa (tua). Pengertian Ammatoa bukan hanya bapak yang sudah tua umurnya namun lebih kepada seseorang yang dituakan karena memiliki pengetahuan yang luas serta berperilaku baik dan bijak.

Istilah Ammatoa dimulai sejak datangnya ‘Tomanurung’ (menurut kepercayaan; Tomanurung adalah cikal bakal masyarakat di Sulawesi Selatan). Ammatoa yang petama adalah Datuk Moyang dan sampai sekarang sudah Ammatoa yang ke-22 sejak Ammatoa yang pertama.

Ammatoa merupakan pemimpin adat tertinggi dalam komunitas Adat Kajang dengan masa jabatan seumur hidup, artinya sampai orang yang sudah dilantik menjadi Ammatoa meninggal dunia. Pengangkatan Ammatoa tidak berdasarkan pilihan rakyat, bukan juga merupakan pewarisan dari orang tuanya ataupun penunjukan dari pemerintah. Masyarakat memahami dan mempercayai bahwa Ammatoa ditunjuk langsung oleh Turiek Akrakna (Tuhan Yang Maha Kuasa) melalui proses ritual di dalam hutan keramat bernama hutan Tombolo.

Yang paling penting adalah seorang Ammatoa haruslah orang yang jujur, tidak pernah menyakiti, menjaga diri dari perbuatan jahat, tidak merusak alam serta senantiasa mendekatkan diri pada Turiek Akrakna (Tuhan Yang Maha Kuasa).

Mitos berdirinya Kajang tampaknya merujuk pada masa ketika bagian teluk Bone iniberada dalam kendali Luwu’. Puang Sungi’ dan Tuang Laut (Kajang), Suatu hari seorang pria Pu’ Temparang (Tuan Laut), mencari ikan di laut menggunakan jala.3Ketika dia menariknya, hanya ada batang bambu, dia membuangnya, namun terjala lagi.Berulang-ulang dia membuangnya, tetapi bambu itu tetap kembali. Akhirnya dia menyerahdan membawa pulang bambu itu.

Disana dia meletakkankannya disamping gentong. Malam itu dan beberapa malam setelahnya dia terbangun mendengar suara orang menggidilkedinginan, tetaapi dia tidak bisa tahu asal suara itu. Lalu suatu hari dia kebetulanmemindahkan bambu itu ke kesuah rak diatas tungku. Setelah iit, tiap malam ia mendengarkeluhan orangkepanasan.

Akhirnya dia menyadari bahwa bambu itu pertama kali kedinginandi dekat air lalu kemudian kepanasan dekat api. Lalu ia pun memindahkannya ia dekatpedang tenun.Tiap pagi Pu’ Temparang dan istrinya bekerja di kebun. Ketika mereka pulang dimalam hari, mereka menemukan pakaian di alat tenun itu menjadi lebih panjang danseluruh air minum telah habis. Setelah setengah hari, kain habis terpakai. Sang suamimemutuskan berpura-pura pergi, namun diam-diam kembali untuk melihat penenummisterius itu.

Dia mengintip lewat celah dinding dan melihat seorang perempuan cantiksedang duduk di dalam kamar. Namanya Pu’ Binaga (Puan Sungai) dia melompat masukmenangkapnya, mengatakan akan menikahinya. Dia setuju, namun mewanti-wanti agar tidak terkejut bila anak-anak mereka lahir sebagai seorang aneh. Mereka punya empat orang anak:

  • Tu Kale Bojo, Orang bertubuh melon. Anak ini tak punya kaki dan tangan dan benar-benar bulat. Dia menjadi penguasa Lembang Lohe di Kajang
  • Tu Tentaya Matana, orang bermata juling. Dia menjadi penguasa Na’ Nasaya, Tempat Kayu Cendana, di Kajang
  • Tu Sapaya Lilana, Orang berlidah terbela. Dia penguasa Kajang
  • Tu Kasittili Simbulenna, orang dengan sanggul kecil. Ini satu-satunya anak perempuan, rambutnya sangat kusut sehingga sanggulnya hanya seukuran buah kemiri. Dia menjadi penguasa Tana Toa.
Baca Juga:   Mengenal Ajaran Patuntung Kajang dan Kepemimpinan Ammatoa

Setelah anak-anak mereka ini lahir, Puan Sungai menghilang dan muncul lagi di Bone.Disana dia menikah dan melahirkan tujuh anak, yang menjadi penguasa–penguasa di tujuhdaerah yang menjadi dewan pemilih (hadat) Arungpone, penguasa Bone. Lalu dia ke Luwu’,dimana dia melahirkan enam anak, yang menjadi hadat Luwu’. Akhirnya dia ke Gowa dimana dia melahirkan sembilan anak, yang menjadi hadat pertama Gowa.

Masyarakat kajang menutup diri terhadap siapa nama Ammatoa yang membawa ajaran ini. bahwa yang membawa ajaran ammatoa pertama itu ialah tumanurung dan kembali sajang (hilang) ketika telah selesai tugasnya, tetapi wahyu terus berjalan dengan menjadikan pengganti itu sebagai penerus Ammatoa.

Konsep kepemimpinan komunitas Ammatoa ialah diibaratkan dengan pemerintahan atau kerajaan. Adapun struktur lembaga adat Ammatoa Kajang terdiridari :

  • Ammatoa
  • Anrongta Baku’ atoaya dan Anrongta Baku’ aloloa
  • Ada’ lima
  • Karaeng Tallu
  • Tutoa Sangkala
  • Tutoa Ganta dan Galla Jojjolo

Ammatoa disamping sebagai penguasa juga sebagai pemimpin spiritual ajaran(paham) adat Ammatoa Kajang sehingga Ammatoa menjadi perpanjangan tangan masyarakat adat untuk meminta perlindungan keselamatan dan kesejahteran dari yang maha kuasa. Ammatoa yang paling berperan memiliki akses dan kontrol terhada psumberdaya alam yang lebih besar dibanding yang lainnya, Ammatoalah yang menentukan tata guna wilayah dan pemanfaatan sumberdaya alam. Penghargaan dan penghormatan masyarakat Kajang terhadap Ammatoa hingga sekarang masih demikian besar.

Nama-Nama Ammatoa Kajang Dari Awal Berdiri Sampai Sekarang

Dalam sejarahnya, suku Kajang telah mengalami suksesi kepemimpinan Ammatoa sebanyak tiga belas kali, yakni:

  1. Bohe Pairing
  2. Bohe Tomi
  3. Bohe Bilang
  4. Puto Badue
  5. Puto pedo’
  6. Puto Ta’bo
  7. Puto Palli
  8. Puto Sampo’
  9. Puto Soba
  10. Puto Sembang
  11. Puto Cacung
  12. Puto Nyonyo
  13. Puto Palasa

Ammatoa mempunyai pungsi dan peran sebagai berikut:

  • Sebagai orang yang dituakan, pelindung, pengayom dan suri tauladan bagi seluruhwarga masyarakat adat
  • Sebagai penghubung dan penyelaras antara manusia dengan Turie’a A’ra’na (YangMaha Kuasa) melalui panganro
  • Menjadi katup pengaman/penengah ketegangan sosial antar warga masayarakat
  • Memiliki hak penuh untuk mengangkat dan memberhentikan para pemangku adat
  • Menetapkan seluruh keputusan adat.

Anrongta Baku’ atoaya dan Anrongta Baku’ Aloloa merupakan Ibu bagi seluruh wargamasyarakat adat yang dipilih oleh seluruh pemangku adat (Galla), pemilihan Anrongta Baku Atoaya dan Anrongta Baku’ Aloloa berdasarkan criteria sebagai berikut :

  • Kompetensi Pasang dan keturunan yang dimiliki
  • Bukan isteri dari Ammatoa dan atau Pemangku adat
Baca Juga:   Pasar Kuda Jeneponto | Pasar Kuda Terbesar | Satu-satunya di Pulau Sulawesi

Adapun tugas dari Anrongta Baku’ Atoaya dan Baku’ Aloloa adalah sebagai berikut :

  • Anrongta Baku’ Atoaya dan Baku’ Aloloa bersama-sama dengan Ammatoamerencanakan dan menentukan waktu pelaksanaan acara adat besar yang berkaitan denganpanganro
  • Anrongta Baku’ Atoaya menjadi pelaksana tugas Ammatoa jika Ammatoa wafatselama atau sekurang-kurangnya tiga tahun sampai Ammatoa yang baru dilantik
  • Anrongta Baku’ Aloloa bersama-sama dengan 26 orang pemangku adat/gallamempersiapkan calon pengganti Ammatoa melalui prosesi adat panganro
  • Anrongta Baku’ Atoaya memilih dan melantik salah satu calon Ammatoa berdasarkanpetunjuk alam yang diterimahnya melalui prosesi adat panganro.

Ada’ lima terdiri dari lima orang Gallarang dengan tugas-tugas sebagai berikut :

  • Galla Pantama memiliki tugas dibidang pertanian yaitu menentukan waktudimulainya melakukan penanaman dengan, melihat tanda-tanda.
  • Galla Lombo’ memiliki tugas sebagai penghubung antara Ammatoa dengan pihakluar.
  • Galla Kajang bertugas menangani perkara penghinaan terhadap pasang
  • Galla Puto’ bertugas sebagai juru bicara Ammatoa
  • Galla Malleleng, bertugas dibidang perikanan dan kelautan

Salah satu tugas pokok Ada’ lima adalah menyangkut pelanggaran dalamkawasan hutan sebagaimana yang disampaikan oleh Ammatoa yang berbunyi “ Appa’Solo’ ri Ada’iya, (ada empat perkara yang ditangani langsung oleh Ada’ Lima):Tabbang Kaju, Tunu Bani, Rao Doang, Tatta Uhe (Penebangan kayu, pembakaranatau pengambilan lebah, penangkapan ikan atau udang, pengambilan ataupemotongan rotan).

Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya Ada’ Lima dibantu olehenam orang pemangku adat yang memiliki fungsi dan peran masing-masing antaralain:

  • Anrong Guru, bertugas dibidang pertahanan dan keamanan diseluruh wilayah adatdan menjadi panglima perang (pammusu) yang diutus oleh Ammatoa untuk membantuwarga masyarakat lain jika dibutuhkan
  • Galla Anjuru, bertugas bersama-sama dengan Sanro Kajang
  • Lompo Ada’, bertugas sebagai penghubung dan penyampai pesan Ammatoa kepadaAda’ Lima
  • Lompo Karaeng, bertugas menyampaikan pesan Ammatoa kepada Karaeng Tallu
  • Kadaha, bertugas mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan oleh Ammatoadalam melakukan ritual adat
  • Kali, bertugas sebagai pembaca doa pada acara-acara adat (pesta) dan sebagai walinikah (appa’nikka).

Karaeng Tallu, merupakan salah satu pemangku adat yang terdiri dari tiga orang yaitu :

  • Karaeng Kajang (Labbiria)/ Camat Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba
  • Sulehatang
  • Moncong Buloa

Karaeng Tallu memiliki tugas Pokok yang disebut Appa’ solo ri Karaengia (adaempat perkara yang ditangani langsung oleh karaeng Tallu): Tuttu’, Lahan, Rappa,Tunu Bola (penghinaan, persinahan yang dilakukan oleh orang yang sudah bersuami,perampokan/pencurian, pengrusakan/pembakaran rumah). Dalam melaksanakantugas Karaeng Tallu dibantu oleh Adat’ tanah yang terdiri dari Galla Ganta, GallaSangkala, Galla Sapa, Galla Bantalang, dan Loha Karaeng. Kemudian Tutoa Sangkala,Tutoa Ganta Karaeng Pattongko’ dan Galla Jojjolo merupakan pemangku adat yangdiangkat oleh Ammatoa dan diberikan kewenangan untuk menyelesaikan perkarayang ada di wilayahnya masing-masing.[bp]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Lipsus

To Top