Connect with us

Pangewaran di Kaluppini Ritus 8 Tahunan di Enrekang

Event

Pangewaran di Kaluppini Ritus 8 Tahunan di Enrekang

260 Total Pengunjung.

Pangewaran di Kaluppini Ritus 8 Tahunan di Enrekang – Desa Kaluppini adalah salah satu desa yang ada di Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang yang masih menjunjung tinggi adat istiadat. Meskipun sudah masuk di zaman modern ini, masyarakat Kaluppini masih sering melakukan upacara ritual dari nenek moyang mereka. Salah satu ritual yang dilakukan ialah ritual tradisi Pangewaran. Tradisi Pangewaran di Desa Kaluppini Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang dilaksanakan satu kali dalam delapan tahun.

Tradisi Pangewaran ini merupakan salah satu budaya tradisi yang ada di Desa Kaluppini Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang. Tradisi Pangewaran masih tetap dilestarikan sampai sekarang oleh masyarakat Kaluppini. Meskipun tradisi Pangewaran dilaksanakan satu kali dalam delapan tahun, namun itu tidak mengurangi semangat masyarakat Kaluppini untuk melaksanakan tradisi ini.

Pada proses pelaksanaan tradisi Pangewaran, masyarakat yang ingin mengunjungi atau menghadiri tradisi tersebut, tidak diperbolehkan memakai pakaian kuning, dan bagi perempuan yang haid maupun suami istri yang tidak dalam keadaan suci. Menurut bapak Abdul Halim, pakaian warna kuning tidak diperbolahkan karena warna kuning sangat mencolok dan warna ini merupakan warna kebesaran To Manurun.

Pangewaran di Kaluppini Ritus 8 Tahunan di Enrekang

Persiapan sebelum tradisi Pangewaran dilaksanakan

Para pemangku adat melakukan tudang sipulung di salah satu rumah adat, Batu Battoa (batu besar) secara bertahap untuk membicarakan persiapan dan proses tradisi Pangewaran. Pembentukan panitia demi keamanan dan kelancaran selama berlangsungnya tradisi Pangewaran. Setelah terbentuk panitia diadakan pertemuan satu minggu sekali. Penataan jalan yang akan dilalui oleh pengunjung, masyarakat bekerja sama membuat pembatas untuk ketertiban pengunjung, Membuat tempat khusus di lingkungan Masjid seperti tempat untuk menyimpan gendang/bedug dan mambuat tempat khusus sebagai simbol untuk To Manurun yang tinggal di luar daerah Kaluppini.

Masyarakat Kaluppini juga melatih diri untuk menabuh gendang, kegiatan ini mereka lakukan dengan maksud untuk melatih kesamaan irama dan tempo pemukulan gendang agar kedengaran lebih indah. Selanjutnya, masyarakat juga melatih diri untuk menabuh lesung dengan irama tertentu. Menabuh lesung yang dimana dengan bahasa lokal yaitu Mappadendang. Mappadendang merupakan kesenian tradisional pada setiap ritual tradisi Pangewaran. Kegiatan ini sebagai simbol representasi kebahagian masyarakat atas hasil panen yang melimpah. Mappadendang ini bisa dilakukan laki-laki maupun perempuan. Kayu penumbuk yang dipukulkan ke lesung atau dalam bahasa lokal yaitu Issong, sehingga membentuk suatu irama ketukan yang harmonis dan teratur.

Tahapan pelaksanaan tradisi Pangewaran

Ma’pabangun Tanah (pembaharuan tanah) Ritual Ma’pabangun Tanah dilaksanakan satu tahun sebelum acara inti dimulai dengan maksud memberitahukan kepada selurunh masyarakat Kaluppini bahwa tradisi Pangewaran akan segera dilakasanakan. Pada proses ritual Ma’pabangun Tanah, diadakan penyembelihan hewan berupa kerbau, sapi maupun ayam dan memanjatkan doa-doa khusus kepada Allah swt. dengan maksud agar diberikan kesehatan untuk melaksanakan tradisi Pangewaran yang akan dilangsungkan satu tahun kemudian. Ritual Ma’pabangun Tanah yang berhak menentukan yaitu, salah satu tokoh adat yang disebut Pande Tanda yang khusus menangani ilmu horoskop. Ritual ini berlangsung hanya satu hari dari pagi hingga sore. Makna dari ritual Ma’pabangun Tanah yaitu memperbaharui kembali tanah dalam artian membangun kehidupan masyarakat agar lebih baik dari kehidupan sebelumnya. Ma’jaga Bulan (menjaga bulan). Ma’jaga Bulan yang dilaksanakan tiga bulan sebelum tradisi Pangewaran dimulai. Makna dari ritual Ma’jaga Bulan yaitu memaknai tiga cakupan besar, dalam bahasa lokal disebut Lolo Tallu yaitu Lolona To Tau , Lolona To Dalle, Lolona To barangngapa. Arti dari kalimat tersebut yaitu penghubung antara manusia, rezeki dan segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini dengan Sang Pencipta. Makna dari Ma’jaga Bulan yaitu dilihat dari gerakannya yang melingkar artinya mendoakan keselamatan masyarakat Kaluppini dan semua manusia baik di dunia maupun diakhirat.

Ma’peong di Bubun Nase (beras ketan yang dibakar menggunakan bambu di sekitar sumur nase) Ma’peong di Bubun Nase, Ma’peong artinya memasak makanan menggunakan bambu dengan cara dibakar. Ritual ini dilaksanakan pada jumat pagi sebelum upacara inti dimulai, ritual Ma’peong ini dipimpin oleh seorang Paso’ Bo’bo. Susunan adat kelembagaan adat Desa Kaluppini, seorang Paso’ dibagi menjadi dua Paso’ Ba’tang dan Paso’ Bo’bo. Syarat dari ritual ini dengan menyembeli ayam hitam dan dilaksanakan di Bubun Nase. Ma’cedo Manyang artinya menuangkan tuak manis dari bambu yang sudah dipotong-potong pendek ke dalam daun pisang, lalu sisanya yang sudah dituang ke dalam daun pisang kemudian diminum. Kemudian memasak Peong dengan beragam jenis beras. Sesuai dengan tata aturan ritual, semua bahan-bahan yang akan dimasak baik untuk nasi maupun ayam yang sudah disembelih tidak boleh menggunakan garam atau bumbu masak lainnya. Hal ini melambangkan kedekatan masyarakat kepada Sang Pencipta bahwa segala sesuatu yang hidup di dunia ini hanyalah titipanNya dan masyarakat juga sangat menghargai kehidupan yang sederhana.

Tari Ma’jaga artinya seni tari khas Desa Kaluppini, yakni ritual tarian yang berisi syair dan doa-doa keselamatan. Tarian ini dilaksanakan oleh seorang laki-laki dewasa, sepuluh sampai duabelas. Tarian ini sangat sederhana namun makna dan doa-doa yang terkandung di dalamnya sangat mendalam. Bahasa yang digunakan dalam tari Ma’jaga ada sembilan yaitu bahasa Kaluppini, Maiwa, Bone, Tator, Wajo, Mandar, Duri, Makassar, Luwu. Kesembilan bahasa tersebut dikolaborasikan jadi satu sehingga syair-syair tersebut terdengar indah.Gerakan tarian ini dengan cara melingkar, memakai selendang, dan sarung tetapi tidak menggunakan baju. Penari tersebut tidak menggunakan baju karena dipercaya bahwa ketika memakai baju penari tersebut akan sakit. Gerakan-gerakan tangan dari penari tersebut dengan maksud untuk mengusir roh-roh jahat yang datang mengganggu. Lingkaran penari, terdapat rokok dan bakul yang terbuat dari anyaman daun yang melambangkan doa kepada Sang Pencipta atas kebaikan seluruh makhluk hidup yang ada di dunia. Setelah tarian selesai dilaksanakan, semua pengunjung terutama pengunjung yang datang dari jauh memperebutkan tanah yang ada di sekitar ritual tarian tersebut. Masyarakat yang mengambil tanah percaya bahwa tanah ini bisa membawah berkah. Akan tetapi sebagian masyarakat juga percaya bahwa tanah ini bisa mengusir hama yang mengganggu tanaman.

Baca Juga:   9 Event Wisata Bulukumba Tahun 2021

So’diang Gandang (menabuh gendang). Para pemangku adat dan syariat berkumpul di dalam Masjid, masyarakat sangat antusias dalam menyaksikan tradisi Pangewaran. Jamaah shalat Jumat pada saat itu memenuhi Masjid dan pelatarannya hingga sampai kepada halaman rumah penduduk. Khatib menyampaikan khutbah Jumat dan didengarkan oleh jamaah dengan penuh perhatian. Setelah selesai shalat Jumat masyarakat mulai memadati pelataran Masjid. Ada beberapa mitos yang diyakini masyarakat yang bisa membawa berkah seperti, pasak yang ada di gendang, kayu dan bambu penyangga gendang. Mitos lainnya yang diyakini yaitu bulu, darah, kulit dan daging ayam yang disembeli untuk Maccera’ gendang. Ritual So’diang Gandang berarti pemukulan Gendang sebagai tanda masuknya tokoh adat dan syariat ke dalam area pelaksanaan dan disusul dengan ke luarnya gendang dari dalam Masjid. Ritual ini dilaksanakan dengan penuh hikmat dan sejatinya ada enam macam bunyi gendang pada ritual So’diang Gendang yaitu Gendang Jumat yang merupakan induk dari seluruh bunyi, Gendang Baramba, Gendang Buttu Beke, Gendang Siala, gandang Gi’jo dan Gendang Pa’sajo. Gendang Jumat yang merupakan induk dari seluruh bunyi bertujuan untuk menyampaikan doa kepada Sang Pencipta. Bunyi gendang yang lain bertujuan untuk memanggil keenam bersaudara yang berada di luar daerah Kaluppini. Bahan-bahan yang  digunakan dalam ritual ini berupa daun sirih, pinang, dan kapur sebagai media pemanggil untuk kesembilan bersaudara dan ritual ini ditugaskan pada Paso’ Ba’tan. Setelah pemotongan ayam di atas Gendang selesai, maka satu persatu penyanggah Gendang dirubuhkan. Penyanggah Gendang yaitu kayu dan bambu, ketika penyanggah Gendang dirubuhkan. Para pengunjung dengan segala cara memperebutkan ruas-ruas bambu, secara kasat mata ada semacam sugesti kebahagian, perjuangan hidup dan kegembiraan ketika mendapatkan ruas-ruas bambu. Begitu pula dengan bulu ayam yang diterbangkan dari atas tiang bambu. Dimana puluhan tangan terliat menggapai-gapai untuk mendapatkan bulu ayam yang diterbangkan oleh salah satu panitia. Disinilah dapat disaksikan keunikan warisan leluhur masyarakat Kaluppini yang terus dijaga dan dilestarikan. So’diang Gendang menandakan bahwa kesembilan bersaudara telah berkumpul di tempat ritual yang telah ditentukan. Kesembilan bersaudara tersebar diberbagai daerah seperti Mandar, Wajo, Bone, Palli, Timojong, Matakali, Toraja, Bulu‟ Kerasa daera Letta Pinrang.

Pada hari kedua yaitu hari sabtu tidak ada ritual yang dilaksanakan, akan tetapi masyarakat hanya melaksanakan seni tradisional khas Desa Kaluppini. Seni ini dilaksanakan disekitar pelataran Masjid, seperti Ma’gandang dan Mappadendang. Ma’gandang artinya memukul gendang dengan beberapa orang sehingga tercipta irama atau bunyian yang indah. Ma’gandang biasanya tiga orang disetiap sisi gendang. Bunyi-bunyian gendang bisa berpariasi tempo dan iramanya yang harmonis dan kompak. Pemain Ma’gandang bisa laki-laki maupun perempuan, tidak ada batas umur untuk seni Ma’gandang tersebut. Disini dapat dilihat bahwa tradisi Pangewaran ini milik bersama, bukan hanya masyarakat Kaluppini akan tetapi semua orang yang datang di acara ini. Diselah-selah Ma’gandang ada beberapa pengunjung dan masyarakat setempat nampaknya berusaha mendapatkan pasak atau paku terbuat dari kayu yang ada dikedua sisi gendang. Masyarakat meyakini bahwa Pasak (paku) dapat digunakan sebagai jimat keselamatan. Sedangkan Mappadendang artinya menumbuk lesung yang dibuat menyerupai perahu dengan bambu. Alat yang digunakan menumbuk lesung yaitu bambu yang masih kecil dan dipotongpotong sekitar 1,5 meter. Cara dimainkan Ma’gandang dengan Mappadendang tidak jauh beda. Mappadendang bisa dimainkan laki-laki maupun perempuan. Semua pengunjung bisa memainkan kedua seni

Berkunjung ke Liang Wai (mata air)

Hari minggu pagi, dilanjutkan ritual dengan berkunjung ke Liang Wai. Liang Wai ini adalah sumur tempat pengambilan air yang biasa disebut masyarakat Kaluppini dengan Bubun Dewata. Jarak pelataran Masjid ke Liang Wai sekitar 400 meter, Liang Wai ini berukuran 20 M × 20 M. Proses ritual ini dilakukan oleh Parewa adat dan Parewa Syara’. Paso’ Ba’tang memimpin doa pada proses ritual ini. Air ini digunakan untuk memasak Peong. Pada minggu pagi Liang Wai ini sudah dipadati pengunjung. Menurut masyarakat setempat air yang ada dalam sumur ini, bisa mengobati segala macam penyakit dan roh jahat yang mengganggu. Makna dari ritual Liang Wai adalah pengambilan air suci atau secara simbolik pengambilan air suci sebelum menghadap kepada Sang Ilahi. Untuk mencapai lokasi/tempat Liang Wai, pengunjung harus berjalan kaki dan menyusuri jalan setapak yang berjarak ± 200 meter dari jalan desa. Area pengambilan air/Liang Wai dipagari dengan bambu. Selain dipagari dengan bambu, Liang Wai juga dijaga ketat oleh panitia pelaksana. Menurut masyarakat Kaluppini, tempat itu sangat disakralkan. Adapun syarat untuk masuk ke area Liang Wai yaitu bagi perempuan yang sedang haid dan bagi orang yang sudah makan ubi jalar tidak diperbolehkan untuk masuk ke area Liang Wai karena apabila melanggar peraturan tersebut maka akan berdampak negatif bagi yang melanggarnya. Menurut salah satu tokoh adat bapak Abdul Halim wanita yang sedang haid dianggap tidak suci dan bagi orang yang sudah makan ubi jalar tidak diperbolehkan karena ubi jalar dianggap bukan makanan  layak konsumsi bagi orang suci karena ubi jalar dianggap makanan babi hutan. Satu persatu wadah dari pengunjung diisi air oleh panitia pelaksana. Pengisian air berlangsung sampai sore hari setelah pengunjung mendapatkan air. Di samping pengambilan air, sebagian masyarakat Kaluppini mempersiapkan ritual Ma’peong. Ritual Ma’peong ini dilaksanakan disekitar area pengambilan air/Liang Wai. Sebagian masyarakat mempersiapkan bahan-bahan yang digunakan dalam ritual Ma’peong, seperti bambu yang sudah dipotong-potong dan dibentangkan kayu sebagai sandaran untuk membakar Peong. Para toko adat dan tokoh agama duduk melingkar sesuai dengan tata aturan adat Kaluppini. Paso Ba’tan membuat perangkat ritual dari pinang yang dibela empat kemudian diikat dengan daun sirih dan isi kapur sehingga membentuk ikatan sedemikian rupa. Kemudian daun pisang yang dilipat membentuk mangkok sebagai wadah untuk darah ayam yang akan disembelih. Bambu yang sudah dipotong diisi beras dengan air Liang, kemudian dideretkan di tempat yang sudah disediakan lalu dimasak. Setelah Peong yang dimasak sudah siap maka itu pertanda bahwa ritual tersebut akan dimulai.

Baca Juga:   Inilah 9 Tempat Wisata di Soppeng Yang Lagi Hits

Dilakukan mulai dari pesan berantai berupa dialog dari pemangku adat yang satu pemangku adat lainnya. Apabila Khali sudah menyetujui maka proses ritual penyampaian kepada Sang Pencipta akan segera dimulai. Selanjutnya Tomakaka mengingtrusikan kepada Paso’ untuk melaksanakan ritual. Inilah salah satu bentuk kerja sama antara pemangku adat dan syariat setiap memulai acara/ritual.

Ritual selanjutnya yaitu Parallu Nyawa artinya penyembelihan ayam sebagai penyampaian doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ritual ini sebagai doa untuk mendapatkan berkah berupa perkembangbiakan hewan ternak dan kesuburan tanah. Ayam yang akan disembeli terlebih dahulu dipegang oleh pemangku adat dan pemangku syariat untuk didoakan. Sesuai aturan adat yang berlaku penyembelihan adat selalu dihadapkan di timur. Ayam disembelih menghadap timur karena arah terbit matahari dari timur dengan maksud agar senantiasa diberi keselamatan bersama.

Kemudian tata aturan penyembelihan ayam diatur sesuai aturan pemangku adat yang berlaku. Ayam yang sudah disembelih dikeluarkan bulunya dengan cara dibakar. Ayam yang dimasak dengan bambu lalu dibakar. Ayam dimasak tidak diperbolehkan memakai garam dan bumbu masakan lainnya.

Setelah semuanya selesai, maka masyarakat Kaluppini maupun para pengunjung beramai-ramai mengunjungi makam yang diyakini sebagai arwah dari ibu kesembilan bersaudara atau To Manurun. Area makam dari Liang Wai berjarak sekitar ± 500 meter. Makam ini berada di bawah batu besar dan dipagari dengan besi. Pemangku adat dan pemangku syariah duduk mengelilingi makam dan melakukan ritual adat. Ritual tersebut dilakukan dengan tiga unsur yakni pinang, kapur, daun sirih dan disertakan Peong yang sudah dimasak di dekat area Liang Wai. Menurut masyarakat setempat bahwa tanah yang berada disekitar makam merupakan tanah yang mempunyai berkah terutama untuk mengusir roh jahat yang mengganggu. Proses ritual tersebut berlangsung selama ± 30 menit, kemudian masyarakat meninggalkan makam dengan tertib dan kembali ke area Liang Wai untuk makan bersama. Salah satu keunikan dari makan bersama ini adalah masyarakat tidak menggunakan piring untuk makan, akan tetapi masyarakat menggunakan daun jati. Dari bahasa lokal makan menggunakan daun jati dinamakan Ma’balla. Panitia yang tunjuk untuk membagikan peong yang telah dipotong-potong untuk dimakan dengan  ayam dan kuah ayam dituang kedalam mangkong yang terbuat dari bambu. Tradisi makan bersama akan dimulai ketika semua pengunjung yang hadir telah mendapat makanan.

Pada malam hari yaitu malam senin, di pelataran Masjid diadakan antraksi laga tradisional yaitu Massemba’. Peserta Massemba’ dilakukan oleh kaum laki-laki, mulai dari anak kecil, dewasa maupun orang tua. Massemba’ artinya permainan olahraga dengan aksi adu kaki yang dilakukan oleh dua orang, dan wasit sebagai orang yang menengahi permainan tersebut. Sebelum permainan dimulai kedua peserta berhadapan sambil berpegang tangan. Kedua tangan peserta dihimbaskan sebanyak tiga kali, pemain berusaha menjatuhkan lawannya dengan adu kaki. Pemain yang jatuh akan dinyataka kalah dalam pertandingan tersebut. Permainan ini sangat menjunjung tinggi nilai sportivitas, karena tidak ada dendam ketika selesai melakukan permainan ini.

Selain antraksi tradisional dilakukan pada malam senin, ada beberapa ritual juga yang dilaksanakan di malam itu. Malam itu adalah malam bulan purnama, ketika waktu menunjukan jam 12:00 malam semua pemangku adat dan istrinya turun ke rumah adat untuk melakukan ritual yaitu Makkelong osong. Selanjutnya pemangku adat ini menuju ke pelataran Masjid yang biasa disebut Datte-Datte untuk melakukan ritual yaitu Massumajo, artinya melakukan sumpah pejabat. Kedua ritual tersebut  baik Makkelong Osong maupun Massumajo dilaksanakan dengan penuh konsentrasi di bawa sinaran bulan purnama.

Parallu Nyawa (penyembelihan hewan)

Hari keempat yakni hari senin, dilanjutkan ritual yaitu Parallu Nyawa. Parallu Nyawa adalah penyembelihan ayam, sapi dan kerbau untuk dimakan secara bersama. Maksud dari Parallu Nyawa yaitu sebagai tanda rasa syukur masyarakat Kaluppini atas nikmat dan karunia serta kelimpahan reseki yang telah diberikan oleh Sang Pencipta. Semua hewan yang sudah disembelih baik kerbau, sapi maupun ayam dikumpul dan dimasak. Tata cara penyembelihan dimulai dari menyembelih kerbau yang dilakukan oleh salah satu pemangku adat. Media utama dalam penyembelihan yaitu pinang, kapur dan daun sirih. Sesuai hasil penelitian kerbau yang disembelih terdapat dua ekor, sapi 23 ekor untuk disembelih. Penyembelihan dilakukan disekitar area pelataran Masjid dan rumah adat. Terlihat falsafa masyarakat Kaluppini Kasiturutan artinya semangat kebersamaan telah mendarah daging pada masyarakat Kaluppini. Masyarakat sangat antusias dalam menyukseskan acara tersebut. Masyarakat melaksanakan tugasnya dengan baik, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Terdapat beberapa titik untuk tempat memasak, mulai dari pelataran pintu masuk sebelah selatan, belakang rumah adat, sebelah kiri Masjid tepatnya di halaman rumah warga setempat dan di belakang Masjid. Seiring berjalannya waktu pengunjung mulai memadati pelataran Masjid.

Baca Juga:   DAC-Drag bike Championship Takalar 21 - 22 September 2019

Pada acara puncak tradisi Pangewaran ini, toko pemerintah yaitu bupati Enrekang turut hadir dalam acara ritual yaitu trdisi Pangewaran. Kedatangan bupati Enrekang disambut dengan hormat oleh pemangku adat dan masyarakat Kaluppini. Di pelataran Masjid disediakan tempat khusus yang dipagari dengan bambu semua pemangku adat dan syariat duduk teratur sesuai dengan aturannya. Pakaian yang digunakan pemangku adat dan pemangku syariat yaitu pakaian berwan putih dan menggunakan Passebu yang disematkan di kepala sebagai tanda kebesaran. Sedangkan tokoh pemerintah dan para undangan lainya duduk di samping kiri dan kanan tempat upacara. Begitu pula dengan makanan yang akan dimakan bersama dan tertata dengan rapi dalam sebuah wadah yang terbuat dari anyaman (roko) dan dibungkus daun pisang, dalam bahsa lokal disebut soso’. Aneka bentuk sajian ini diletakan ditengan tempat upacara untuk didoakan bersama. Setelah pembacaan doa selesai, para masyarakat Kaluppini dan para pengunjung menunggu pembagian makanan. Makanan yang telah disediakan dibagi dengan rata dan tidak di perbolehkan makan makanan sebelum semua orang mendapat makanan. Sebagai penutup dari acara puncak/inti tradisi Pangewaran yaitu sebagian toko adat melakukan Massumajo atau sebagai sumpah dan janji jabatan di depan semua masyarakat yang menghadiri tradisi tersebut.

Massima’ Tanah (meminta kesuburan tanah)

Hari ketujuh adalah hari terakhir dari tradisi Pangewaran yaitu ditutup dengan ritual Massima’ Tanah di bukit Palli. Bukit Palli adalah awal mula peradaban di Desa Kaluppini. Sebagai tanda penghormatan kepada leluhur, Massima’ Tanah dilaksanakan di bukit ini. Masyarakat sangat antusias dalam ritual ini karna ritual tersebut sebagai penutup dari seluruh rangkaian acara ritual tradisi Pangewaran. Proses ritual ini diawali dengan duduk bersama pada lokasi yang telah ditentukan bersama. Para pemangku adat dan pemangku syariat tetap menjalankan tugas dan fungsinya. Pertama-tama dilakukan pesan berantai yang disampaikan oleh Ambe Kombong dan seterusnya hingga Tomakaka mengintruksikan kepada Paso’ untuk segera memulai ritual. Kemudian Paso’ beranjak ke tempat di mana ritual tersebut dilaksanakan untuk pertama kalinya oleh kesembilan bersaudara. Masyarakat beramai-ramai mengambil tanah, sebagian masyarakat menyakini bahwa tanah ini sebagai kebanggaan terutama yang datang dari perantauan.

Dibagian bawah bukit sebagian masyarakat mempersiapkan bahan untuk Ma’peong. Ma’peong dilakukan hampir sama dengan Ma’peong pada hari ketiga ritual Liang Wai tradisi Pangewaran. Bambu diisi dengan beras ketan putih, hitam dam merah yang berasal dari daerah setempat. Perbedaan yang nampak adalah masyarakat membuat kelompok berdasarkan ikatan keluarga terdekat. Masing-masing keluarga mempersiapkan alat untuk memasak. Peong akan dimakan denga ayam yang disembelih oleh Paso’. Setiap warga menyerahkan ayamnya untuk didoakan sebelum disembelih. Ritual ini berlangsung sampai siang hari. Setelah Peong dan ayam sudah dimasak, perangkat upacara akan dipersiapkan. Nasi atau Peong beraneka warna diletakkan di atas daun pisang. Pada lipatan jalur yang telah dibentuk membulat dan digantungkan disebilah kayu, kemudian Peong diletakkan di atas wadah tersebut.

Perangkat lainnya yaitu bambu yang sudah dipotong diisi kua ayam, serta ayam yang sudah dimasak. Lipatan jalur yang telah dibentuk sedemikian rupa dan berjumlah tiga belas. Dibuat tiga belas karena pemangku adat berjumlah tiga belas dan akan diperuntukan satu persatu. Ritual tersebut dilaksanakan sekitar 10 sampai 15 menit dengan penuh Khusuk. Setelah ritual tersebut selesai, maka dilanjut lagi dengan makan bersama. Tradisi Pangewaran berlangsung hingga tujuh hari tujuh malam, mulai dari ritual Ma’peong di Bubun Nase sampai dengan ritual Massima Tanah. Akan tetapi, sebelum sampai pada acara inti, tradisi Pangewaran dimulai pada ritual Ma’pabangun Tanah yang dilaksanakan satu tahun sebelum waktu pelaksanaan tradisi Pangewaran.

Tradisi Pangewaran selalu dilaksanakan masyarakat Kaluppini, karena merupakan amanah dari leluhur. Amanah tersebut berupa pepasan atau Pattarro To Matua yang di dalamnya mencakup kearifan lokal yaitu si pakatau, si pakainga’, sipakalla’bi. Hal inilah yang dianggap sebagai penguat utama dalam kebudayaan Kaluppini. Tingginya solidaritas, kepedulian dan rasa kesatuan antara masayarakat dibangun oleh pepasan tersebut. Falsafah masyarakat adat Kaluppini selalu dipertahankan dan dipegang erat oleh masyarakatnya yaitu Sipakatau, Malilu sipakainga, Ra’ba sipatokkon, tokkon sipakaruddani, Mali siparappe. Hal inilah yang menimbulkan tingginya solidaritas, kebersamaan, gotong royong masyarakat adat Kaluppini.  Sipakatau dapat diartikan sebagai saling memanusiakan, Sipakatau dianggap hal yang utama dalam menjalankan kehidupan bersosial. Seperti halnya dengan malilu si pakainga’ artinya, apabila masyarakat berada di jalan yang sesat atau salah, maka sebagian diantaranya mengingatkan satu sama lain. Ra’ba sipatokkon, artinya apabila diantara masyarakat sedang merasakan kesedihan atau terkena musibah, maka sebagian masyarakat juga memberikan semangat, dorongan untuk membangkitkan kembali semangat dalam diri. Tokkon sipakaruddani, artinya masyarakat dalam keadaan bagaimanapun akan saling merindukan satu sama lain. Mali siparappe atau saling mengait, pemangku adat akan melakukan hal tersebut pada masyarakat.[bp]

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Event

To Top