Connect with us

Profil Desa Tana Toa, Yang Didalamnya Ada Kawasan Adat Ammatoa Kajang

Lipsus

Profil Desa Tana Toa, Yang Didalamnya Ada Kawasan Adat Ammatoa Kajang

216 Total Pengunjung.

Kajang, Berakhirpekan.com – Desa Tana Toa terletak di sebelah utara dalam wilayah Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Desa Tanah Towa merupakan lokasi bermukimnya sekelompok masyarakat yang mengidentifikasi diri sebagai komunitas adat yang populer dengan nama Komunitas adat Kajang, yang memiliki pemimpin adat atau disebut dengan istilah Ammatoa. Tanah Towa merupakan sebagai sebuah wilayah administrasi setingkat desa/kelurahan, dan pada prinsipnya tumbuh dan terbangun dengan dua kelompok masyarakat yang boleh dikatakan berbeda dengan satu sama lainnya dalam banyak hal, terutama perbedaan yang paling menonjol adalah persoalan dalam pandangan hidup, yaitu satu kelompok masyarakat yang memang berpegang teguh pada agama Islam sebagai pedoman dalam berkehidupan, dan satu kelompok masyarakat lainnya adalah kelompok orang-orang yang menamakan dirinya penganut aliran kepercayaan patuntung atau sering juga masyarakat dimaksud disebut masyarakat penganut aliran kepercayaan Kajang.

Kedua kelompok masyarakat Kajang menempati dua wilayah hunian yang diberi nama Ilalang Embaya dan Ipantarang Embaya. Istilah Iialang berarti di dalam, embaya artinya wilayah kekuasaan, jadi Ilalang Embaya berarti di dalam wilayah kekuasaan adat. Ipantarang artinya di luar, jadi Ipantara Embaya berarti di luar kawasan adat, atau tidak masuk dalam zona kawasan adat. Ilalang Embaya dapat dipahami sebagai wilayah yang berada dalam kekuasaan Ammatoa (ketua adat).

Sebaliknya Ipantarang Embaya bermakna wilayah yang berada di luar kekuasaan Ammatoa, wilayah itu dibawa pengawasan pemerintahan struktur administrasi desa. Kedua wilayah kawasan itu dibatasi oleh bangunan pintu gerbang untuk memasuki kawasan adat (Ilalang Embayya), seperti tampak pada gambar di bawah ini:

Wilayah Desa Tanah Towa terdiri atas 9 (sembilan) dusun dan kesembilan buah dusun yang ada diantaranya masuk dalam kawasan adat (Ilalang Embayya), yaitu:

  1. Balagana,
  2. Jannayya,
  3. Sobba,
  4. Benteng,
  5. Pangi,
  6. Bongkina,
  7. Tombolo,
  8. Lurayya
  9. Balambi.
Baca Juga:   Mendaki Gunung Bulu Saukang, Gunung Terdekat dari Kota Makassar

Sementara dua dusun lainnya berada di luar kawasan adat (Ipantarang Embayya). Desa Tanah Towa yang tersebar atas sembilan dusun itu, dihuni penduduk sebanyak 4.073 jiwa, terdiri dari laki-laki 1.904 jiwa dan perempuan 2.169 jiwa. Dari jumlah keseluruhan penduduk Tanah Towa, 3.208 orang menempati wilayah kawasan adat, sedangkan sisanya yaitu 865 orang bermukim di luar kawasan adat.

Secara geografis wilayah pemukiman penduduk berada pada ketinggian 150–500 meter di atas permukaan laut. Pada radius ketinggian seperti itu, menyebabkan udara di kawasan Kajang sangat sejuk. Suhu udara rata-rata di wilayah tersebut berada pada kisaran 13 – 29 derajat celcius, dengan kelembaban udara 70%.

Sementara itu curah hujan setiap tahunnya adalah 5745 milimeter. Kondisi alam seperti ini, menyebabkan berbagai macam tanaman pertanian dan perkebunan dapat tumbuh serta hutan yang subur dan lebat yang menghasilkan berbagai jenis kayu. Luas wilayah Desa Tanah Towa secara keseluruhan tercatat 972 hektar dengan berbagai penggunaannya, yaitu 169 hektar untuk tanah pemukiman, 93 hektar untuk persawahan, 30 hektar untuk perkebunan, 5 hektar untuk kuburan, 95 hektar untuk pekarangan, 1 hektar untuk perkantoran, 5 hektar untuk prasarana umum, dan untuk areal hutan adalah lebih kurang 331 hektar. Secara administrasi, Desa Tanah Towa berbatasan yaitu sebelah utara Desa Batunilamung, sebelah selatan dengan Desa Bontobaji, sebelah timur dengan Desa Malleleng, dan sebelah barat dengan Desa Pattiroang. Jarak tempuh dari Desa Tanah Towa ke ibukota Kecamatan Kajang ± 25 kilometer, dari ibukota Kabupaten Bulukumba ± 57 kilometer dan dari kota Makassar ±270 kilometer. Kondisi jalan dari kesemua akses cukup baik sehingga jarak tempuh ke lokasi tersebut yang lebih mudah.

Baca Juga:   Pulau Liukang Loe Pulau Indah Di Bulukumba

Pola pemukiman penduduk di dalam kawasan adat (Ilalang Embayya) hingga saat ini masih mempertahankan pola lama, terkait dengan sistem kepercayaan mereka yang masih kokoh. Pola pemukiman penduduk berkelompok setiap dusun, dengan bentuk rumah seragam. Arah bangunan rumah di kawasan Ilalang Embaya selalu menyamping dari kawasan borong karama’ (hutan keramat) yang sangat dilindungi dan dijaga kelestariannya oleh masyarakat setempat, sehingga semua rumah menghadap ke Barat dan tertata rapi serta berjejer dari utara ke selatan.

Sebagai pembatas antara pemukiman penduduk dengan hutan keramat dibuat pagar yang tersusun dari batu kali setinggi satu meter. Pagar ini dibuat untuk menghindari pandangan ke arah borong karamaka, hal tersebut dianggap tabu (kasipalli) kalau menghadap ke arah hutan borong karama.’ Ketentuan ini dimaksudkan agar penghuni rumah tidak dapat melihat begitu banyak potensi hasil hutan, yang dapat dimanfaatkan, sehingga tergiur untuk mengambilnya yang dapat berakibat merusak hutan. Selain itu, faktor kondisi pemukiman dimana setiap rumah terletak di tengah-tengah kebun keluarga, juga karena penataan itu harus dengan prinsip dari Pasang (aturan tak tertulis yang menjadi petunjuk atau pedoman dalam kehidupan masyarakat adat Kajang).

Keunikan rumah penduduk dalam kawasan adat, yang berbentuk rumah panggung, tidak menggunakan bahan atau material dari industri modern. Ketika kita naik ke rumah, maka yang pertama didapati adalah dapur berdekatan dengan pintu masuk, lalu ruang tengah dan bilik bagian belakang adalah ruang tamu. Selain itu, posisi rumah yang semuanya menghadap ke arah barat tempat terbenamnya matahari.

Maknanya adalah bahwa semua kehidupan ini akan berakhir, sama dengan tenggelamnya matahari dalam kegelapan malam. Kawasan adat Kajang luar (Ipantarang Embayya) telah membentuk pemukiman tersendiri, yang berbeda dengan pola pemukiman masyarakat dalam (Ilalang Embaya). Perbedaan tersebut terlihat pada penataan letak bangunan rumah dan arah rumah. Pada masa lalu, semuanya memiliki penataan dan arah rumah yang sama, yaitu menghadap ke barat, berhadapan dengan gunung Bawakaraeng (gunung yang dikeramatkan dan disucikan yang ada di daerah Sulawesi Selatan). Arah tersebut diyakini dapat memberikan rahmat dan keselamatan bagi penghuni rumah, karena tempat bersemayamnya Dewa Patanna Lino (Dewa pemilik bumi).

Baca Juga:   Menengok Ciri Khas Suku Kajang Ammatoa Ilalang Embayya Rabbang Seppang Bulukumba

Seiring dengan perkembangan zaman, kepercayaan yang berkaitan arah rumah mengalami perubahan terutama bagi penduduk yang berada di luar kawasan adat. Hal ini dikondisikan dengan prasarana jalan yang dibangun pemerintah, menyebabkan arah bangunan rumah sudah menghadap ke jalan, tidak lagi menghadap ke arah barat sesuai kepercayaan leluhurnya. Bentuk arsitektur bangunan rumah telah banyak mencontoh model bangunan suku Bugis dan Makassar yang bermukim di Bulukumba, yang sudah menggunakan atap seng, dinding rumah sudah dapat dicat dan menggunakan ventilasi yang terbuat dari kaca. Tiangtiang rumah diberi penyangga yang terbuat dari batu atau cor baton, dan sebagian pula rumah penduduk sudah permanen atau semi permanen.[bp]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Lipsus

To Top