Connect with us

Menengok Ciri Khas Suku Kajang Ammatoa Ilalang Embayya Rabbang Seppang Bulukumba

Lipsus

Menengok Ciri Khas Suku Kajang Ammatoa Ilalang Embayya Rabbang Seppang Bulukumba

312 Total Pengunjung.

Kajang, Berakhirpekan.comSalamakki Antama’ Ri Lalang Embaya Rambang Seppanna I Amma. Dalam bahasa Indonesia, artinya selamat datang di kawasan adat kajang dalam Ammatoa. Bahasa dalam tulisan itu adalah bahasa Konjo. Bahasa yang umumnya digunakan oleh masyarakat yang bermukim di wilayah Timur Kabupaten Bulukumba. Wilayah Timur Bulukumba meliputi Kecamatan Kajang, Herlang, Bonto Tiro, dan Bonto Bahari.

Suku Kajang Ammatoa Ilalang Embayya Rabbang Seppang Bulukumba

Aturan Masuk kawasan Rabbang Seppang Kajang Ammatoa

Siapa saja yang memasuki kawasan adat tersebut, ditekankan untuk melepas alas kaki. Selain itu, dianjurkan pula untuk memakai pakaian berwarna hitam dan tidak menggunakan kendaraan apapun.  Jika pengunjung tidak mengenakan pakaian hitam, di samping gerbang disediakan pakaian adat yang bisa disewa oleh pengunjung. Setelah melewati gerbang, pepohonan rindang terhampar. Kondisinya masih asri, sejuk, dan tenang. Kicauan burung pun terdengar jelas. Hewan ternak seperti sapi dan kuda lalu lalang di jalan umum kawasan adat. Memasuki kawasan adat rabbang seppang, maka pengunjung hanya bisa mengambil gambar kira2 rumah ke 4 dari gerbang, setelah itu silakan mode pesawat ponsel anda. Apalagi jika ingin bertemu kepala suku atau ammatoa kajang, jangan sekali-kali melanggar aturan yang sudah dibuat disana, misalnya memotret atau merekam sembunyi-sembunyi mari hormati adat kebiasaan disana.

Sistem Pemerintahan Kajang Ammatoa

Suku Kajang dipimpin oleh Amma Toa. Dalam pemerintahannya, Amma Toa dibantu 26 Galla atau menteri. Ada sembilan pasal yang dijadikan pedoman dalam menjalankan sistem pemerintahan di Suku Kajang. Aturan tertinggi yang termaktub dalam pasal-pasal tersebut adalah sopan. Setiap masyarakat Suku Kajang harus menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan. Bukan hanya di hadapan manusia, tapi juga kepada alam. Amma Toa menjelaskan kepada In fo bergerak, nilai kesopanan kepada manusia di antaranya rendah hati dan jujur. Nilai kejujuran ini sejalan dengan rumah adat Suku Kajang yang juga sarat akan nilai kejujuran. Dan menghormati yang tua, serta menyayangi yang muda. Disamping itu Ammatoa sempat mengutarakan syarat perkawinan di kajang, calon mempelai harus pintar bekerja mencari nafkah dan calon mempelai perempuan harus pintar memasak. Kebetulan waktu kami kesana di rumah Ammatoa ada sekelompok mahasiswa dari Unismuh bersama dosennya yang sedang melakukan penelitian.  Rumah Suku Kajang berbeda dengan yang lain. Pada umumnya, dapur diletakkan di bagian belakang rumah. Namun, ini tidak berlaku di Suku Kajang. Setelah masuk pintu, yang pertama dijumpai adalah dapur.

Baca Juga:   Wajib Di Kunjungi!!! 22 Tempat Wisata Toraja Paling Populer Saat Ini

Selain itu, dengan memosisikan dapur di bagian depan, memudahkan tamu melihat perempuan di rumah tersebut. Karena, dalam aturan di Suku Kajang, salah satu sarat perempuan bisa dipersunting adalah bisa memasak.  Masyarakat Suku Kajang memang diikat aturan agar masyarakatnya bertutur kata baik. Tidak mengeluarkan bahasa yang tidak sedap didengar. Kata Amma Toa, Bahasa kotor dilarang. Kalau ada, didenda beli pakaian harga dua juta rupiah. Dibalik pepohonan rindang di dalam kawasan adat pun diikat aturan yang ketat. Hutan di kawasan adat disebut borong karama. Hutan tersebut dipercaya memiliki kekuatan magis yang berdampak pada keberlangsungan hidup suku mereka. Jadi, siap pun tidak boleh menebang pohon sembarangan di dalam kawasan adat. Jika itu terjadi, maka sanksi adat menanti. Sanksinya denda sebanyak Rp 12 ringgi atau 12 juta Rupiah.  Tidak memakai sendal, memasak menggunakan kayu, tidak ada handphone, dan tidak ada listrik. Pemandangan seperti ini akan anda jumpai ketika datang ke kawasan adat Amma Toa. Bukan tidak bisa, tapi aturan di dalam kawasan adat yang memang menolak modernisasi.

Keadaan Alam Kajang Ammatoa

Hal yang paling bisa terlihat ketika memasuki kawasan adat dalam adalah hutan yang masih sangat terjaga dengan jenis flora dan fauna yang beragam, rumah yang keseluruhan dibangun dari kayu, masyarakat yang melepas alas kaki, tidak ada listrik, kendaraan bermotor, dan tidak ada bising musik dari pengeras suara. Pilihan hidup semacam ini bukan tanpa alasan. Alam bagi masyarakat adat Ammatoa bukan hanya “ruang tinggal”, melainkan juga adalah “ruang hidup” atau “ruang yang hidup”. Alam dianggap sebagai “manusia lain” yang mampu merespon tingkah laku manusia, baik ataupun buruk. Dalam posisi yang sakral, wajah alam menggambarkan kualitas hubungan manusia dengan tuhan. Olehnya, proteksi mereka terhadap lingkungan adalah keharusan. Di tengah gegap gempita kemajuan zaman, masyarakat adat Ammatoa masih terus berusaha untuk berpegang teguh pada pola hidup kamase-masea. Dalam bahasa Bugis-Makassar, Kamase-masea berarti sederhana, namun bagi masyarakat adat Ammatoa terminologi ini bersifat lebih universal. Kamase-masea dalam bahasa Konjo (bahasa sehari-hari masyarakat Ammatoa) dimaknai sebagai cara hidup sederhana atau yang tidak berlebihan. Olehnya dalam beberapa literatur, Kamase-masea ditegaskan sebagai sistem nilai yang diyakini bak manifestasi gagasan keilahian, atau sebuah sakralitas hubungan antara manusia dan tuhan yang dibumikan.

Baca Juga:   Situs Tanah Bangkalae Watampone Kabupaten Bone

Mata Pencaharian Masyarakat Kajang Ammatoa

Masyarakat Suku Kajang dikenal dengan keterampilannya menenun. Hal ini dijadikan sebagai sumber pendapatan masyarakat Suku Kajang. Satu sarung selesai ditenun dalam waktu 20 hari. kebanyakan pembeli datang sendiri ke kawasan adat. Jadi, dalam menjalankan profesinya sebagai penenun, Juma jarang keluar kawasan adat memasarkan sarung hasil tenunannya. Penenun di kawasan adat mayoritas perempuan. Dalam aturan yang dijelaskan Amma Toa, keterampilan menenun adalah salah satu syarat perempuan di Suku Kajang bisa dinikahi. Selain menenun, sumber penghasilan warga Suku Kajang adalah bertani dan berkebun. Hasil pertanian dan perkebunan dijual di pasar-pasar tradisional di luar kawasan adat Suku Kajang.

Konsep Hidup Kamase-masea Masyarakat Kajang Ammatoa

Dalam tendensi keduniaan, pola hidup kamase-masea menghadirkan simbol-simbol yang terkadang ditangkap jauh lebih kuat dibanding nilai kamase-masea itu sendiri. Misalnya, terkait dengan pakaian dominan hitam—warna yang mereka kaitkan dengan nilai kesederhanaan. Tidak sedikit orang luar yang ketika bertemu dengan masyarakat adat Ammatoa yang tidak berpakaian hitam, menjustifikasi terjadinya degradasi nilai dan identitas kultural yang selama ini menghidupi masyarakat adat Ammatoa. Padahal, nilai bergerak melampui simbol. Ia tidak melekat secara kaku pada simbol. Nilai-nilai sakral ke-Ammatoa-an sejatinya hidup dalam budaya kamase-masea yang diaktualisasikan oleh masyarakat adat Ammatoa pada banyak hal. Sehingga, ketika memasuki kawasan adat Ammatoa dan menemukan orang yang tak menggunakan pakaian hitam, tidak lantas berarti terjadi perubahan yang fundamental dalam kultur dan esensi kepercayaan mereka.

Masyarakat adat Ammatoa adalah masyarakat dengan basis kelisanan yang kuat. Cara berpikir dan perilaku masyarakat adat Ammatoa dihidupkan dalam ungkapan-ungkapan yang tidak pernah dituliskan dan sulit ditemukan dalam cetakan atau teks yang dibuat oleh mereka. Jikapun ditemukan, yang menuliskannya adalah orang-orang yang berasal dari luar lingkaran mereka dengan basis keaksaraan yang kuat. Sebagai masyarakat lisan, terus bertahan di tengah masyarakat aksara adalah tantangan tersendiri. Semua berawal di tahun 90an. Ketika inovasi (untuk tidak mengatakan arogansi) yang dilakukan pemerintah adalah membangun Sekolah Dasar di dalam kawasan adat. Artinya, menyediakan akses pendidikan bagi masyarakat adat yang dianggap bodoh, buta huruf atau tidak berpendidikan. Pemerintah menolak untuk memahami bahwa apa yang mereka saksikan pada masyarakat adat Ammatoa bukan hanya semata imbas keterbatasan akses sarana dan prasarana pendidikan. Melainkan ada pada hal yang jauh lebih esensial, yaitu budaya. Masyarakat adat Ammatoa tumbuh dengan rasionalitas kearifan mereka sendiri. Bagi mereka, pintar itu bukan soal angka, jauhnya sekolah yang ditempuh juga bukan ukuran kecerdasan. Kecerdasan adalah kemanapun kau pergi, dimanapun dan pada siapapun kau belajar, namun ketika pulang, kau tetap paham bahwa ada adat yang harus dijaga. Rasionalitas semacam itu, di tengah pendidikan yang menyeragamkan,  panjang umur Adat Kajang Ammatoa Bulukumba[bp].

Baca Juga:   Mengenal Ajaran Patuntung Kajang dan Kepemimpinan Ammatoa

Foto-Foto Kajang Ammatoa Bulukumba

Kata Kunci:

Suku Kajang vs Dayak
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Lipsus

To Top