Connect with us

Tradisi Appalili Kerajaan Marusu Dengan Arajang Pajekko Yang Dianggap Bertuah

Sulsel

Tradisi Appalili Kerajaan Marusu Dengan Arajang Pajekko Yang Dianggap Bertuah

198 Total Pengunjung.

Tradisi Appalili Kerajaan Marusu Dengan Arajang Pajekko Yang Dianggap Bertuah – Sahabat Seklaian pada kesempatan kali ini, berakhir pekan akan share artikel mengenai Tradisi Appalili Maros. Seperti daerah lain di Sulawesi Selatan Kabupaten Maros pun memiliki adat-istiadat yang khas yaitu Tradisi Appalili yang masih dipelihara sampai sekarang. Produk budaya ini turut melambungkan nama Kabupaten Maros sebagai lumbung pangan ini lantaran masyarakatnya memiliki kepekaan untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan tersebut. Kabupaten Maros dikenal dengan daerah agraris, mayoritas masyarakat Maros bermata pencaharian sebagai petani. Dari mata pencaharian tersebut, para petani melakukan kerja sama dalam hal ini gotong royong agar hasil panen masyarakat setempat melimpah. Bahkan masyarakat biasanya melakukan panen sebanyak dua kali dalam setahun, sebelum turun ke sawah atau menanam masyarakat setempat biasanya melakukan upacara khusus yaitu upacara adat yang dilakukan turun-temurun diyakini masyarakat setempat sebagai pedoman bagi petani untuk memulai musim tanam padi. Masyarakat Kassikebo biasa menyebutnya sebagai Appalili.

Upacara adat Appalili adalah suatu upacara tradisional yang sampai sekarang masih dilakukan oleh sebagian besar warga masyarakat sulawesi Selatan khususnya kabupaten Maros lingkungan Kassikebo.

Mappalili (Bugis)/ Appalili (Makassar) berasal dari kata palili yang memiliki makna untuk menjaga tanaman padi dari sesuatu yang akan mengganggu atau menghancurkannya. Upacara Appalili adalah bagian dari budaya yang sudah diselenggarakan oleh nenek moyang mereka. Penggunaan istilah Appalili telah lama digunakan oleh Karaeng-karaeng Marusu (raja-raja Kerajaan Maros) terdahulu, karena menurut mereka tradisi ini sangatlah sakral dengan tujuannya adalah untuk menghindari gangguan yang biasanya mengurangi hasil produksi. Jika melihat awal mulanya tradisi Appalili ini, menurut cerita lisan tradisi Appalili muncul beberapa abad lalu setelah ditemukannya pa’jekko. Sebagaimana yang diceritakan tentang asal mula pa’jekko, bahwa pa’jekko yang mereka pakai sebagai alat membajak merupakan pa’jekko pemberian Tuhan. Hal inilah yang menyebabkan sehingga pa’jekko itu diangkat atau dijadikan sebagai arajang.

Disamping itu asal kedatangan pa’jekko itu pun tidak sama dengan pa’jekko lain yang hanya dibuat oleh manusia. Pada saat wilayah Marusu (Maros) dilanda banjir, rakyat menemukan sebuah benda yang berbentuk pa’jekko yang dihanyutkan air di sungai. Bentuknya tidak sama dengan pa’jekko yang terdapat pada petani, namun mempunyai keistimewaan, yaitu hubungan antara satu bagian dengan bagian lain tidak kelihatan sehingga rakyat berkesimpulan bahwa pa’jekko tersebut bukanlah buatan manusia, karena kekagumannya terhadap bentuk dan asal kedatangan pa’jekko yang aneh, maka Karaeng Marusu (raja kerajaan Marusu) menjadikan pa’jekko tersebut sebagai arajang dan akan digunakan membajak Tana Kalompoang setiap tahun.

Masyarakat Kassikebo menyelenggarakan Appalili dikarenakan dahulu masyarakat Kassikebo tertimpa bencana yang amat dahsyat. Adapun bencananya yaitu pencurian, pembakaran, dan banjir yang sangat besar sehingga hasil panen dari sawah masyarakat sangat kurang. Dan masyarakat Kassikebo masih dipegang kuat dan masih menjadi tradisi sampai saat ini karena dengan Appalii berarti pembicaraan/perjanjian mengenai kontrak,sewa dan sejenisnya tentang sawah tidak dapat ditebus sebelum pihak Karaeng Marusu melaksanakan upacara Katto Bokko. Dan telah ditemukan batang pa’jekko yang dimana benda yang dikeramatkan sampai sekarang dan dijadikan sebagai arajang dan digunakan untuk membajak Tana Kalompoang setiap tahun di dalam proses upacara adat Appalili. Selain kepada Tuhan, ucapan terima kasih juga diperuntukkan bagi roh-roh leluhur yang senantiasa setia menjaga arajang. Dimana diperkirakan awalnya tradisi ini dilaksanakan pada masa pemerintahan La Mamma Daeng Marewa Matinroe ri Samangki. Yaitu sekitar abad ke 18.

Itulah alasan lahirnya Appalili di Kassikebo sebagai bentuk tolak bala dari bencana yang melanda daerah tersebut selanjutnya para pemangku adat beserta masyarakat Kassikebo melakukan acara silaturahmi atau duduk bersama dalam upacara Appalili untuk memutuskan apa yang harus dilakukan agar bencana di daerah tersebut tidak lagi melanda masyarakat setempat. Dari hasil silaturrahim atau duduk bersama yang diselenggarakan oleh Karaeng Marusu bersama keluarga kerajaan dengan masyarakat Kassikebo, lahirlah keputusan untuk melakukan upacara proses sebelum turun ke sawah atau memulai menanam sebagai upaya untuk mencegah bencana yang melanda daerah tersebut. Hal itu merupakan cara untuk tetap menjaga hubungan baik dan harmonis dengan roh-roh leluhur, seperti dalam pencucian benda-benda Kalompoang yaitu salah satunya adalah batang Pa’jekko.

Baca Juga:   12 Tempat Wisata Keren di Takalar Yang Lagi Hits Beserta Alamat Lengkapnya

Masyarakat Kassikebo pada umumnya masih memegang kuat dan masih menjadi tradisi di masyarakat bahwa setelah Karaenga ri Marusu melaksanakan upacara adat Appalili berarti pembicaraan/perjanjian mengenai kontrak, sewa dan sejenisnya yang bertali dengan sawah (perdata) tidak dapat ditebus kembali sebelum Karaenga ri Marusu melakasanakan upacara adat Katto Bokko dan demikian pula sebaliknya. Kesimpulannya tradisi Appalili tidak hanya sebagai upacara adat yang dilakukan setiap tahunnya tetapi tradisi Appalili juga sebagai tata aturan hukum yang berlaku di Kassikebo.

Berangkat dari hal tersebut itulah salah satu asal muasal tradisi Appalili, meskipun tidak semua orang mengetahui bahwa sejak kapan Appalili ini ada tapi orang hanya bisa memprediksikannya.  Appalili dipedomani oleh masyarakat kassikebo bahwa proses menanam padi tidak boleh dilakukan sebelum karaengnga ri marusu atau dalam artian di balla lompoa melakukan upacara adat appalili maka masyarakat kassikebo tidak boleh menanam sebelum dilaksanakannya upacara appalili.

Waktu Pelaksanaan Appalili

Tradisi Appalili adalah salah satu satu upacara tradisional yang selalu dilakukan pada saat masyarakat menghadapi sebelum turun ke sawah. Upacara adat Appalili dilaksanakan selama dua hari dan terdiri dari dua tahapan. Proses upacara Appalili dilaksanakan tanggal 16-17 November tiap tahunnya kecuali bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan atau hari besar tertentu.

Tahapan Appalili

Upacara Hari Pertama

Tahap appasadiang (persiapan). Upacara adat Appalili diadakan selama dua hari dimana ditahapan ini dilaksanakan setiap tanggal 16 November sebelum upacara inti pada tanggal 17 November dilaksanakan di Tana Kalompoang. Upacara ini merupakan upacara adat maka persiapan-persiapan haruslah disempurnakan. Apabila dalam persiapan terdapat sesuatu yang tidak lengkap, maka upacara ini akan gagal dan tidak akan mendatangkan berkah bagi seluruh warga masyarakat, khususnya para petani. Oleh karena itu persiapan-persiapan untuk menghadapi upacara ini telah dilakukan jauh sebelumnya. Seminggu sebelum memasuki upacara pegawai-pegawai kerajaan seperti pinati, para pemegang alat, pengurus rumah/Balla Lompoa telah bekerja Keras mempersiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan upacara tersebut. Mereka mempersiapkan segala sesuatu mengatur, menata dan menyajikan alat-alat upacara sesuai dengan tugas mereka masing-masing. Benda-benda yang dipersiapkan untuk sesajian/sesajen adalah beras ketan, daun sirih, buah pinang, buah gambir dan pisang, juga telur ayam, bente, gula pasir, kapur sirih, air putih serta dupa. Sedangkan alat-alat perlengkapan upacara yang dipersiapkan seperti teddung arajang, bendera arajang, jajakang/lilin, bassi banranga, alameng, lellung, oiye, lae-lae, kancing, ana baccing, ganrang, pui-pui, gong, baku karaeng, kipasa karaeng, poke, pallawa, dan kanjoli. Selain persiapan yang dilakukan oleh pegawai kerajaan di atas, Karaeng Marusu juga sibuk mengatur para utusannya untuk ma’pau-pau (mengundang) warga masyarakat, khususnya para pemimpin formal dan tokoh-tokoh masyarakat. Bila peralatan dalam upacara telah siap semua, maka pada hari pertama upacara seluruh peralatan di atas harus diletakkan pada salah satu sudut di ruang tamu Balla Lompoa yang memang khusus diperuntukkan untuk penempatan alat-alat tersebut. Pada hari pertama upacara Appalili ini kesibukan semakin terasa terutama bagi pasongkolo (tukang masak). Sampai tengah hari yaitu bayangan diri dari sinar matahari hampir sejajar dengan badan atau berkisar pukul 11.00 wita dilakukan puncak acara pada tahap appasadiang, yaitu acara attangngaallo dimana alat-alat musik kerajaan yang berupa ganrang ,pui-pui, dan gong dibunyikan, begitu juga dengan alat lae-lae, ana baccing dan kancing juga dibunyikan sambil membaca doadoa yang berwujud kelong oleh para pemainnya. Kegiatan itu dilakukan sampai menjelang waktu dhuhur. Acara attangngaallo itu dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada segenap warga masyarakat bahwa kegiatan turun ke sawah di tana kalompoang akan siap dilakukan pada esok harinya. Sekitar pukul 14.00 wita yaitu turunnya atau dikeluarkannya alat dan benda kerajaan dari rakkeang (loteng) Balla Lompoa. Dimana dilakukannya kegiatan pemeliharaan alat dan benda kerajaan yaitu perawatan, penggantian, pembersihan, tompang, dan pencucian alat dan benda pusaka kerajaan yang dilakukan oleh masing-masing pegawai kerajaan sesuai tugas masing-masing. Peralatan tersebut diantaranya adalah batang pa’jekko yang akan dipakai untuk membaja sawah. Acara selanjutnya adalah proses penjahitan kelambu kalompoangnga yang hanya boleh dijahit oleh keluarga kerajaan seperti saudara karaeng atau suami/istri. Setelah itu hasil jahitan yang terdiri dari kelambu, sprei, pembungkus dan alas disiapkan yang dilaksanakan setelah shalat ashar. Berdasarkan hasil pengamatan (observasi) peneliti tanggal 16 November 2017 (pada saat acara penjahitan kelambu kalompoangnga). Bahwa kain putih yang berukuran 2 × 2 meter dijahit oleh karaeng dan keluarga dekat saja. Begitu pula dengan prosesi pemasangan dan penggantian kelambu dilakukan oleh karaeng dan keluarga dekat. Adapun tempat pelaksanaannya di atas loteng, dalam bahasa makassar (pammakkang) dan bahasa Bugis (rakkeang). Dalam prosesi itu selain keluarga dekat karaeng dan pemain Gandrang Kalompoang, orang lain tidak diperbolehkan naik keatas apalagi meliput prosesinya.

Baca Juga:   Pantai Indah Bosowa, Pantai Jimbarannya Kota Makassar

Tahap massiara/appabattu (berziarah/berkunjung) Dimulai pada malam hari, tepatnya masyarakat muslim telah selesai menunaikan shalat maghrib. Acara pada tahap massiara/appabattu terdiri dari:

  1. Acara malleko dilakukan oleh pinati dan pembantu-pembantunya dimana mereka melipat daun sirih dengan cara membentuknya menyerupai huruf-huruf dalam Al Qur’an. Acara malleko ini juga diiringi alunan musik-musik kerajaan dan dilakukan sampai masuk waktu isya.
  2. Acara sipabicara (acara musyawarah dan silaturahmi) Acara musyawarah dan silaturahmi ini adalah musyawarah antara Karaeng Marusu (pemangku adat), petuah adat (penasehat adat), kerabat, para petani pemilik/penggarap, para pemimpin formal dan informal atau tokoh-tokoh masyarakat dan para undangan lainnya. Adapun topik/pokok pembicaraan biasanya seputar masalah-masalah pertanian, adat istiadat dan lain-lain. Dalam acara ini juga pesan-pesan adat kembali diperdengarkan baik itu pesan bagi pemimpin adat maupun pesan bagi seluruh warga masyarakat, pesan-pesan adat itu antara lain: “abbulo sibatang paki antu, mareso tomatappu nanampa nia sannang ni pusakai siagang baji maki assamaturu nani kalliki borritta yangna nia empota mangurangi”. Maksudnya bahwa, bekerja dengan jujur dan bersatu akan menghasilkan pekerjaan yang tak terhenti sebagai tugas untuk memberi kesenangan dan keberuntunga. Ungkapan ini selalu dikumandangkan pada pertemuan-pertemuan upacara appalili dalam usaha melaksanakan pekerjaan atau kewajiban bersama untuk dinikmati bersama oleh warga masyarakat. Dan maksud dari pepatah selanjutnya yaitu bahwa kita harus bersatu membangun negeri ini karena akan ditinggalkan kepada keturunan kita. Acara sipabicara ini dimulai dari pukul 20.00 wita sampai menjelang diadakannya acara puncak tengah malam yaitu ziarah ke Kalompoang/arajang.
  3. Acara puncak massiara/appabatu. Setelah masuk tengah malam yaitu pukul 23.00 wita acara puncak dalam tahap massiara/appabatu ke Kalompoang dimulai. Pinati dan pegawai lainnya duduk ditempat yang telah ditentukan sesuai dengan tugas mereka. Para pemusik kerajaan: pa’lae-lae, pa’baccing dan pa’kancing memainkan alatnya sambil menyanyikan (dengan suara yang lembut) kelong yang merupakan doa-doa kepada Tuhan. Diiringi pula oleh alunan musik yang khas dari pa’ganrang, pa’pui-pui dan pa’gong. Pinati duduk bersila berhadapan dengan benda-benda sesaji yang telah tersedia. Pinati dilellungi oleh dua orang pemegang lellung dan juga ada empat orang yang memegang oiye. Mereka duduk sebelah menyebelah di belakang pa’lellung, saat pembantu pinati menyalakan lilin/jajakang, pinati mulai mengerjakan Bungasa pangngajai (sesajen) dengan sangat hati-hati sekali sambil terus membaca doa-doa dan mantra-mantra secara khusyuk dan hikmat. Oleh pinati semua benda-benda sesajen diasapi dengan asap dupa, kemudian pinati membuat Bungasa pangngajai, yaitu dengan mengambil satu bagian saja dari tiap-tiap sesajen yang telah diasapi dan diletakkan salah satu wadah yang telah disiapkan untuk di bawah ke Kalompoang. Setelah bungasa pangngajai selesai dikerjakan, sambil memegang bungasa pangngajai tersebut pinati bangkit dari tempat duduknya diikuti pula oleh pa’lellung, pa’oiye, pembantu pinati dan Karaeng Marusu. Merekaa berjalan pelan menuju Kalompoang tempat arajang berada (bagian pamakkang di Balla Lompoa), guna appabattu sekaligus menziarahi kalompoang. Selama berlangsungnya acara inti, alatalat musik kerajaan harus terus dibunyikan.
  4. Acara ma’dewata. Saat di Kalompoang pinati didampingi Karaeng Marusu membaca doa-doa kemudian mebuka kain penutup/pembungkus arajang, pinati mengusap-usap benda arajang (termasuk pa’jekko) dengan asap dupa dan memperlihatkan perangkat pangngajai yang tadi dibawanya kepada arajang sambil tetap membaca doa-doa. Perilaku pinati ini juga diikuti oleh Karaeng Marusu. Kegiatan di Kalompoang ini bersifat sakral dan hikmat, karena dianggap merupakan komunikasi langsung dengan Tuhan dan roh-roh leluhur. Setelah mendapat tanda-tanda tertentu dari roh leluhur mereka (hal ini hanya dapat dipahami oleh pinati), maka pinati segera menutup kembali kain pembungkus arajang lalu mengusapnya kembali dengan asap dupa kemudian pinati dan karaeng Marusu mencium arajang sebanyak tiga kali. Pinati, karaeng Marusu serta pegawai-pegawai kerajaan lainnya akhirnya meninggalkan Kalompoang setelah itu mereka menuju hewan (sapi) yang akan menarik pa’jekko di esok harinya. Hewan (sapi) yang digunakan sebanyak dua ekor kemudian pinati mengusap kepala dari hewan tersebut dan mengasapi dengan dupa sambil tetap membaca doa-doa. Acara ma’dewata ini merupakan tanda selesainya acara puncak dalam tahap massiara/appabattu Karaeng.
  5. Acara ma’bembeng Karaeng. Acara ma’bembeng Karaeng ini merupakan acara penyuguhan makanan, dimana tiga gadis pa’bembeng dengan membawa hidangan yang ditempatkan dalam wadah khusus yang berlapis emas dan seorang laki-laki sebagai penghulu bembeng. Mereka berjalan pelan dan penuh hormat menuju tempat duduk Karaeng marusu dan duduk didepannya, tugas mereka adalah menjamu Karaeng Marusu. Setelah semua tamu/ hadirin memperoleh hidangannya masing-masing, maka Karaeng Marusu baru memulai menikmati hidangannya dengan dilayani gadis-gadis pa’bembeng. Kegiatan Karaeng Marusu ini diikuti oleh hadirin lainnya dan mereka menikmati hidangannya masing-masing. Hal ini dapat dimaklumi karena adalah pantang untuk mendahului Karaeng Marusu dalam menikmati hidangan yang ada, sebab itu sama saja dengan tidak menghormati/ menghina pemangku adat. Setelah acara ma’bembeng Karaeng selesai pula acara pada malam itu. Penutupan upacara pada hari pertama ditandai dengan membuyikan alat musik kerajaan, acara itu disebut attangnga bangngi.
  6. Acara attangnga bangngi. Pada acara attangnga bangngi ini para tamu pun memohon izin pulang, sekaligus berjanji kepada Karaeng Marusu bahwa mereka akan hadir pada acara puncak esok harinya.
Baca Juga:   Karaeng Tumapa’risik Kallonna, Pelopor Kejayaan Kerajaan Gowa

Upacara Hari Kedua

Pada hari kedua yang merupakan acara puncak dari upacara adat appalili, kesibukan masyarakat dalam waktu yang bersamaan terbagi dalam dua lokasi di Tana Kalompoang dan di Balla Lompoa. Sekitar pukul 04.45 wita persiapan arak-arakan menuju ke sawah kerajaan yang bergelar Turannu. Pada tahapan ini biasanya dilaksanakan masyarakat setelah menunaikan shalat subuh. Alat dan perlengkapan upacara termasuk batang pa’jekko di arak dari Balla Lompoa hingga ke Tana Kalompoang yang bergelar Turannu. Perjalanan menuju ke Tana Kalompoang diiringi dengan bunyi gendang dan doa-doa yang dipanjantkan dari pinati beserta rombongan yang terlibat dalam prosesi upacara adat ini. Saat proses pengarakan itulah pantangan untuk melintas atau lewat di depan arak-arakan.

Zaman dulu, orang yang melintas di depan langsung mati. Kalau sekarang, orangnya langsung jatuh sakit. Sekitar pukul 05.15 wita rombongan telah sampai di tana Kalompoang dan pelaksanaan meluku (membajak) sawah dengan memakai benda pusaka pa’jekko Kalompoanna Karaenga ri Marusu secara adat sebagai kegiatan inti dalam pelaksanaan upacara adat appalili. Batang pa’jekko tersebut di gunakan untuk membaja sawah dengan hewan (sapi) yang sudah di asapi dupa dan dibacakan doa pada waktu malam harinya sebanyak dua ekor. Batang pa’jekko tersebut mengelilingi sawah sebanyak tiga kali putaran. Di tahapan ini bunyi gendang dan doa-doa terus dipanjatkan agar upacara ini berlangsung dengan lancar tanpa adanya kesalahan-kesalahan. Setelah batang pa’jekko melakukan putaran sebanyak tiga kali maka pinati melangkah ke tengah Tana Kalompoang sambil memanjatkan doa dan mengikuti hewan (sapi) tersebut mengelilingi sawah Turannu.

Setelah proses membajak sawah selesai maka sekitar pukul 07.00 wita rombongan upacara adat appalili kembali ke Balla Lompoa dan melakukan kegiatan pembenahan/penyimpanan semua benda dan alat kerajaan yang telah dipakai pada upacara ini untuk dikembalikan pada tempatnya masing-masing oleh para pinati dan pegawai kerajaan.[bp]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Sulsel

To Top