Connect with us

Wajib Dikunjungi!! 14 Wisata Sejarah/ Cagar Budaya di Bulukumba yang Sedang Viral

Sulsel

Wajib Dikunjungi!! 14 Wisata Sejarah/ Cagar Budaya di Bulukumba yang Sedang Viral

223 Total Pengunjung.

Bulukumba, Berakhirpekan.com – Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan. Nah berikut ini 14 Cagar budaya di bulukumba yang layak anda kunjungi sebagai perjalanan wisata sejarah di Bumi Panrita Lopi Bulukumba.

Wajib Dikunjungi!! 14 Wisata Sejarah/ Cagar Budaya di Bulukumba yang Sedang Viral

Kompleks Makam Petta Matinroe Ri Tasi’na

Kompleks Makam Petta Matinroe Ri Tasi’na berada di Jl. K.H. Agus Salim, Kelurahan Kasimpureng, Kecamatan Ujung Bulu. Makam kuno yang teridentifikasi pada lahan pemakaman tersebut sebanyak sebelas makam yang bercampur dengan makam lainnya yang relatif baru. Material makam terbuat dari papan batu batu padas, membentuk kotak berundak.

Tokoh Petta Matinroe Ri Tasi’na adalah salah seorang keturunan bangsawan asli Bone, (bahasa bugis Maddara Takku) yang pernah memangku jabatan sebagai raja Bone. Nama asli beliau adalah Andi Mappipenning. Ketika terjadi perang antara kerajaan Bone dengan Belanda sekitar abad XIX, dimana berakhir dengan kekalahan Bone, maka Andi Mappipenning tidak mau tunduk dibawah kekuasaan Belanda, kemudian pindah kesalah satu daerah di Bulukumba dengan menggunakan perahu layar. Karena beliau mangkat pada saat perjalanan melalui laut, maka kemudian diberikan gelar Petta Matinroe Ri Tasi’na, yang artinya raja yang meniggal di laut. Kompleks Makam Petta Matinroe Ri Tasi’na ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Leang Passea

Leang Passea Secara administrasi masuk dalam wilayah desa Ara, kecamatan Boto Bahari. Leang Passea merupakan gua alam dan di dalamnya ditemukan tulang-tulang dan tengkorak manusia serta beberapa buah peti (erong) yang sudah rusak. Sementara, erong yang masih utuh berukuran panjang 3,30 m dengan lebar 40 cm. Arti Leang Passea menurut bahasa daerah setempat adalah gua tempat orang bersedih. Dari beberapa penuturan mengatakan dulunya gua tersebut dijadikan tempat perlindungan oleh masyarakat saat terjadinya kekacauan. Leang Passae ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Kompleks Makam Datuk Tiro

Berada di kampung Hila- Hila, Kel/Desa Eka Tiro, Kecamatan Bonto Tiro. Makam Datuk Tiro menempati lahan seluas 695 m2, berorientasi utara-selatan, berukuran panjang 2,90 m dan lebar 2 m. Nisannya terbuat dari kayu raja dengan ornamen hias tumpal. Bentuk asli makam ini berupa batu kali yang belum dipahat, disusun membentuk segi empat panjang, memiliki cungkup dan dipagar menggunakan bambu yang telah dianyam. Makam ini telah dipugar sehingga mengalami perubahan.

Datuk Tiro atau khatib bungsu bersama dua orang kawannya yaitu Dato Patimang atau Khatib Sulaeman menyiarkan agama Islam di kerajaan Luwu dan Dato ri Bandang atau Abd. Makmur menyiarkan agama Islam di Kerajaan Gowa/Tallo. Sedangkan Dato Tiro sendiri menyiarkan agama Islam di daerah Bulukumba dan sekitarnya. Menurut informasi Dato Tiro bersama kawannya datang di Sulawesi Selatan menggunakan perahu, mendarat di Ujung Banyoro yang kini bernama kecamatan Herlang Kab. Bulukumba pada masa pemerintahan Launru Daeng Biasa di kerajaan Tiro pada tahun 1604. Kompleks Makam Datuk Tiro ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/ MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Baca Juga:   15 Tempat Wisata Populer Terbaik di Pangkep
Makam Parakkasi Dg. Maloga

Berada di Jl. Karepo & Setapak, kampung Bajeng, kelurahan/desa Gunturu, kecamatan Herlang. Makam ini tipe susun timbun terdiri dari 11 lapisan. Ukuran makam tinggi 1,6 m. Nisan makam ini berbentuk balok persegi empat dengan hiasan sirip ikan, tinggi 1,85 m.Hiasan lain pada nisan ini adalah hiasan kembang, daun dan tulisan arab. Parakkasi Dg. Maloga adalah raja Hero ke II yang dilantik sekitar akhir abad ke-19, setelah kerajaan Hero berada di bawah kekuasaan pemerintah Belanda. Sebelumnya yang menjadi raja ialah Colleng Daeng Palallo Karaengta ri Tugondeng dan sesudah Parakkasi Daeng Maloga ialah Selleng Daeng Patombong Karaengta ri Kalumpang. Makam Parakkasi Dg. Maloga ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Kompleks Makam Dea Dg. Lita

Berada di Jl. Karaeng Dea Dg. Lita, kampung Lingkungan Jalayya, kelurahan/desa Tana Jaya, kecamatan Kajang. Sistem pembuatan makam Dea Dg. Lita pada bagian depan berbentuk benteng berundak-undak terdiri dari 10 lapisan batu bersusun di dalamnya terdapat beberapa buah makam yang terbuat dari batu padas. Orientasi makam utara-selatan. Ragam hias makam berupa sulur-suluran, kaligrafi dan lontara, dengan nisan bentuk gada, phallus dan menhir dengan tinggi 190 cm dari dasar makam. Sekitar tahun 1880 Dea Dg. Lita diangkat menjadi Onder Regent dengan titel Sulewatang Kajang, dan tahun 1887 diangkat menjadi regent kedua dengan titel Karaeng Kajang, dengan dibantu oleh Pucu Daeng mallengke yang diangkat menjadi Onder Regent dengan gelar Sulewatang Kajang. Kompleks Makam Dea Dg. Lita ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/ PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Kompleks Makam Tobo Dg. Ma’rappo

Terletak di Jl. Karaeng Tobo Dg. Ma’rappo, kampung Lingkungan Daloba, Kelurahan/Desa Tana Jaya, Kecamatan Kajang. Sistem pembuatan makam ini sederhana sekali yakni berbentuk segi empat dari bahan batu padas dan batu kapur, dengan ukuran kategori kecil 62 x 21 cm dan sedang ukuran 1,83 x 94 cm. Adapun nisan yang terdapat pada kompleks tersebut adalah tipe gada, dan satu-satunya ragam hias adalah ragam hias tumpal.

Ketika Bone akan diserang oleh Belanda, maka Mangkaue (raja Bone) mengundang seluruh raja-raja yang ada hubungannya dengan Bone. Tobo Dg. Marappe mewakili kerajaan Lembang bersama Dea Daeng Lita karena keduanya dianggap sebagai orang pemberani dari kerajaan Kajang. Maka seorang Passi Tobona Bone ingin menguji sampai dimana kehebatan dan keuletan Kajang. Namun Passi Tobona Bone tewas, sehingga imbalan keberhasilan dan keberaniannya maka Tobo Daeng Marappe diangkat menjadi Karaeng Lembang yang ke XII. Tetapi karena beliau tidak mau bekerja dengan Belanda maka ia menyerahkan kekuasaannya kepada sepupunya yaitu Sadda Daeng Malatte. Kompleks Makam Tobo Dg. Ma’rappo ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Kompleks Makam Tana Towa

Terletak di Jl. Amma Towa, kampung Benteng, kelurahan/desa Tana Towa, kecamatan Kajang. Ribuan makam terbuat dari batu gamping dan beberapa nisan ditancapkan pada makam. Nisan tersebut berbentuk phallus dengan pola hias pada bagian atas tanda silang dan bagian bawah tumpal. Adapun ukuran pada makam Ammatowa adalah yang besar berukuran 320 x 260 cm, sedang berukuran 160 x 79 cm, dan kecil berukuran 61 x 38 cm. Ammatowa yang dimakamkan disini adalah yang memiliki tugas utama sebagai pimpinan tertinggi di dalam pelaksanaan upacara adat tradisional Kajang. Kompleks Makam Tana Towa ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Baca Juga:   Menengok Ciri Khas Suku Kajang Ammatoa Ilalang Embayya Rabbang Seppang Bulukumba
Kompleks Makam Possi Tana

Terletak di Jalan Poros Mattoanging Raoa, kampung Tabbuakang, kelurahan/desa Mattoanging, kecamatan Kajang. Pada kompleks makam ini terdapat pula batu dakon yang berbentuk kerucut yang terletak diatas makam, berukuran 67 x 36,5 cm dan tebal 12 cm. Pada kompleks makam ini umumnya makam berbentuk persegi empat dan diatasnya terdapat nisan. Jenis nisan pada kompleks makam ini ada yang berbentuk menhir dan ada pula yang berbentuk segi empat dengan pola hias cermin, kembang, gambar burung hantu dan ular, nisan ini terbuat dari bahan batu padas. sekitar 300 m dari possi tana terdapat 2 buah batu dakon dan sekitar 200 m dari tempat tersebut terdapat pula dua buah batu dakon yang dikeramatkan. Selain itu masih ada dua batu dakon lagi dimana pada dakon ini terdapat 19 goresan yang menggambaran bahwa kerajaan Kajang telah mengalami pergantian raja sebanyak itu. Kompleks makam tua Possi Tana merupakan makam yang tertua di Possi Tana. Adapun yang dimakamkan di dalamnya adalah Raja Kajang ke III dan ke IV yaitu Rangka’na dan Banenna, yang masing-masing bergelar Tok Kajang. Menurut informasi bahwa Rangka’na dan Banenna adalah bangsawan dari Luwu. Pada kompleks makam ini juga dimakamkan Sangirang Dg. Mattayang. Kompleks Makam Possi Tana ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/ MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Kompleks Makam Mattu Dg. Pahakang

Terletak di kampung Papan Jaya, desa/kelurahan Lembanna, kecamatan Kajang. Sistem pembuatan makam adalah susun timbun dengan bentuk segi empat, terbuat dari bahan batu padas. Nisan pada kompleks makam ini berbentuk menhir dengan pola hias kembang dan tumpal. Pada sidang pemufakatan untuk mengangkat Regent di Kajang sekitar tahun 1880, pilihan jatuh ke tangan Karaeng Lembang yaitu Karaeng Sadda Daeng Malatte. Namun karena Karaeng Dg. Malatte sudah tua maka ia menyerahkannya kepada sepupunya Mattu Dg. Pahakang yang waktu itu duduk mewakili kerajaan Kajang. Akhirnya peserta sidang menerima baik saran ini, sehingga putuslah bahwa Mattu Daeng Pahakang diangkat menjadi Regent dengan gelar Karaeng Kajang. Kompleks Makam Mattu Dg. Pahakang ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Kompleks Makam Kambangtia

Profil Budaya dan Bahasa Kab. Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan 33 Terletak di Poros Kambangtia, kampung Torassi, desa/ kelurahan Lembang, kecamatan Kajang. Kompleks makam karaeng Kambang Tia sering pula disebut dengan kompleks makam Puang Bongki. Kompeks makam ini seperti benteng dalam bentuk susun timbun. Bahan pembuatan makam terbuat dari batu sedimen, sedangkan nisannya berbentuk menhir dan sangat menonjol, ukuran nisan 169 x 28 cm. Sedangkan ragam hias nisan berupa hiasan tumpal dan kaligrafi. Karaeng Kambangtia sering disebut Puang Ri Bongki. Sekitar tahun 1855 di kerajaan Lembang memerintah seorang raja bernama Baddu, beliau digelari Puang Ri Bongki. Pada masa inilah rencana penyerangan dan penaklukan Bone oleh Belanda mulai hangat. Ketika raja Bone meminta kehadiran raja-raja dibawah kekuasannya, maka Karaeng Baddu mengutus Tobo dg. Marap’pe dan Dea Dg. lita. Atas keberhasilan Tobo Dg. Marap’pe maka diangkatlah menjadi raja di Lembang. Bersamaan dengan itu Karaeng Baddu menghentikan kegiatannya sebagai karaeng pengayom rakyat. Tobo Daeng Marappe telah disumpah tidak boleh ada keturunannya memerintah bersama-sama dengan Belanda. Kompleks Makam Kambangtia ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Baca Juga:   Pangewaran di Kaluppini Ritus 8 Tahunan di Enrekang
Kompleks Makam Puang Liong

Terletak di Jl Pa’bojang-bojang, Kampung Torassi, Desa/Kelurahan Lembang Lohe, Kecamatan Kajang. Kompleks makam ini sama seperti pada kompleks makam karaeng Kambang Tia yakni menyerupai benteng dengan bentuk susun timbun. Terbuat dari bahan batu sedimen, sedang nisan bentuk menhir banyak dijumpai pada kompleks makam ini karena sangat menonjol dari segi ukuran yakni 169 x 28 cm. Ragam hias yang terdapat pada kompleks makam ini adalah tumpal dan diantaranya ada yang berhiaskan kaligrafi. Puang Liong semasa hidupnya tidak pernah memegang tampuk kerajaan sebagai Karaeng. Yang memegang tampuk pemerintahan hanyalah anaknya yaitu Pucung Dg. Mallongko yang diangkat menjadi onder regent atau Sulewatang kedua di Kajang ketika Dea Dg. Lita menjadi regent kedua di Kajang. Namun ketika Dea Dg. Lita berhenti jabatannya sebagai regent maka Pucung Dg. Mallongko diangkat untuk menggantikannya sekitar tahun 1894. Meskipun Puang Liong tidak pernah memerintah namun ia banyak membantu anaknya dalam melancarkan tugas-tugasnya. Kompleks Makam Puang Liong ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Kompleks Makam Cidu Dg. Matarang

Terletak di kampung Dalaba, desa/kelurahan Tana Jaya, kecamatan Kajang. Kompleks makam ini berdenah segi empat dengan batas-batas yang dibuat menyerupai benteng dengan bentuk susun timbun. Adapun nisan yang terdapat pada kompleks makam ini yakni nisan bentuk menhir yang berukuran tinggi 274 cm berbentuk segi enam. Beberapa nisan berbentuk gada dan trisula. Ragam hias makam berupa kaligrafi dan hiasan kembang. Cidu Dg. Matarang adalah salah seorang putra Karaeng Dea Lita dan bersaudara dengan Tonteng Daeng Mantarang. Cidu Dg. Matarang dipilih dan diangkat menjadi onder regent kelima di Kajang atau Sulewatang sekitar tahun 1905. Sekitar tahun 1910 setelah berhentinya Regent Halimung Dg. Sirua maka diangkatlah Cidu Dg. Matarng sebagai regent yang kelima hingga wafat tahun 1917. Kompleks Makam Cidu Dg. Matarang ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Kompleks Makam Tonteng Dg. Matarang

Terletak di Jl. Raoa Kajang, Kampung Tanatea, kelurahan/Desa Lembang Lohe, Kecamatan Kajang. Kompleks makam ini terletak diatas perbukitan. Sistem pembuatannya berundak-undak dan terbuat dari bahan batu sedimen dengan sistem susun timbun. Ragam hias yang terdapat pada kompleks ini adalah ragam hias bunga dan kaligrafi. Nisan pada kompleks makam ini berbentuk menhir, phallus dan ujung tombak. Tonteng Dg. Matarrang semasa hidupnya tidak pernah memegang tampuk pemerintahan secara resmi, tetapi beliau sangat dicintai dan disegani oleh keluarga dan rakyat. Beliau adalah putra dari Dea Dg. Lita dan bersaudara dengan Cidu Dg. Matarrang. Beliau sangat membantu saudaranya itu dalam mengayom pemerintahan. Kompleks Makam Tonteng Dg. Matarang ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.

Kompleks Makam Sengngeng Lampe Uttu

Terletak di Jl. Lansat, kampung Bisoro, desa/kelurahan Tanete, kecamatan Bulukumpa. Bentuk makam berundak-undak, nisannya ada yang polos dan ada pula yang bermotif sulur daun (ikal nursal) dan ada pula nisan relief manusia dan jendela. Kompleks makam ini merupakan komplek makam raja-raja/ panglima perang Kerajaan Bulukumpa dan Tellu Limpoe. Salah seorang yang dimakamkan dalam kompleks itu adalah Baso Kolaka Puang Lampe Uttu, seorang panglima perang Tellu Limpoe yang mengadakan perlawanan terhadap kompeni dan tidak menyetujui adanya surat kompeni kepada Raja Tellu Limpoe yang meminta sebagian tanah kerajaan pada tahun 1812. Kompleks Makam Sengngeng Lampe Uttu ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan surat keputusan Nomor: PM.59/PW.007/MKP/2010, tanggal 22 Juni 2010, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik, S.E.[bp]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Sulsel

To Top